Oh, lupakan.

12 June 2012 § 2 Comments

Entah apa yang ngerasuk pikiran gua untuk menganggap tulisan itu adalah buah pikiran gua. Huf.

Bermula saat ingin mengosongkan inbox email. Banyak banget email langganan yang ga guna malah nangkring di situ. Tetibaan nemu email dari akun gua yang lain.
Dulu, gua biasa banget bikin tulisan yang gua simpen dengan cara mengirim email ke akun gua yang lain. Dan pada saat iti gua juga lagi rada kurang ‘ngeh dengan judulnya: Jakarta–Yogyakarta.txt. File “txt”? Jarang juga sih gua nulis pake format file macem notepad yang txt gitu. Gua make format yang kek gitu biasanya buat tempat copasan yang gua ambil dari internet. Bener deh, gua ga ‘ngeh. Wew, gua ga pemasalahin siapa yang nulis ini, ga kepikiran juga sih ini tulisan dari mana asalnya. Yang pasti, file ini gua-gua juga yang jadi pengirimnya:mrgreen:

Pas gua buka file-nya, wew, ini tulisan sepanjang 5 halaman makalah ternyata. Tapi tenang, yang ini isinya bukan makalah yang membosankan itu, melainkan semacam cerpen. Dan…gua baca, anyway.

Set set set. Isinya memang cerita-cerita gitu. Latar tempatnya Jogja. Woh, gua ngerasa de javu gitu. Wajar, waktu itu gua pernah ngebet ke Jogja, pernah juga gara-gara itu gua pengen nulis tentang cerita berlatar Jogja.

Gua baca kalimat pertama. Wew, ini gayanya mirip tulisan gua. Saat itu tapinya serasa ga nyangka aja tulisan gua sebagus itu, seimajinasi seperti itu. Gua abis itu terperangah ga nyangka dengan kata-kata di tulisan itu. Kok gua bisa nulis seperti itu, pikir gua. Wajar kayaknya, sih, baca tulisan kita yang udah lama trus berasa asing yang menakjubkan. “Wow!”, begitulah impresi awal gua ngebacanya.

Paragraf pertama selesai, yaampun, tulisan gua bagus banget ternyata. Lalu melaju kencang saat di paragraf kedua dan ketiga. Good damn! Bak memiliki ruh, ini tulisan punya jiwa yang memesonakan mata dan daya pikir gua. Gua jatuh cinta dengan diksi-diksinya. Lanjut, terus gua baca sampe di halaman pertama akhir. Wew…huf.

Rupanya klimaks datang terlalu cepat. Kisah ini memiliki dirinya yang lain. Memisah dari dugaan akan diri gua. Sesuatu yang bukan gua menguasai plot cerita di situ. Ah, ini orang lain. Ini bukan gua. Pun bukan orang lain sepenuhnya. Ini ternyata tentang sosok gua yang lain.

Gua pun menggas laju baca gua dengan kecepatan penuh. Tak berhenti untuk sesaat, tak mau berhenti. Gua tamatkan tulisan itu dengan keguncangan yang meremukkan hati yang nyalang. Bah, itu bukan gua. Itu…dia. Bah! Merasuk, memasuk. Hati, pikiran. Jrash! Itu ternyata hubungan arus pendek! Gua terangkat dari tanah. Melayang. Oh, itu apa..kah? Gua mulai terhanyut korsleting yang bertempo kilas. Oh, gua mulai ter..sadarkah?

Oh, lupakan.

.

Tagged: , ,

§ 2 Responses to Oh, lupakan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Oh, lupakan. at B e r s a n t a i S e j e n a k . . ..

meta

%d bloggers like this: