Sosok: Fauzi Bowo, Sang Kumis Pembela..blablabla..

29 June 2012 § 1 Comment

1 periode ajadeh…kesempatan luh!

Berbekal pengalaman menjadi Wakil Gubernur selama 5 tahun (periode 2002—2007 dengan Sutiyoso sebagai Gubernurnya) dan Gubernur DKI Jakarta periode 2007—2012, Fauzi Bowo kali kedua mencalonkan kembali dirinya menjadi Gubernur DKI Jakarta periode kali eni. Apakah ia pantas memegang kembali tampuk kepemimpinan orang ke-1 di DKI Jakarta?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, ada baiknya kita lihat rekam jejak sang Kumis ini menginiin ibu kota Jakarta.

Telah kita ketahui sebelumnya, pencalonan Fauzi Bowo menjadi orang nomor satu se-Jakarta pada pilkada 2007 lalu didukung oleh hampir semua partai politik yang masuk parlemen—kecuali PKS. Akhirnya, Fauzi Bowo melenggang ke Balai Kota bersama Prijanto untuk periode 2007—2012. Dalam menyuarakan janji-janji kampanyenya, Fauzi Bowo memakai slogan “Serahkan Pada Ahlinya”.

Berikut Janji-janji Foke pada pilkada 2007 lalu.

Itulah janji-janji kampanye Fauzi Bowo dan pasangannya, dulu. Terasa masih segar, bukan? Dan sekarang calon petahana ini ingin menjadi Gubernur kembali, melanjutkan apa yang udah diperbuat 5 tahunan ini. Dan…juga sekali lagi ia mengumbar janji-janjinya agar dapat memikat hati warga ibu kota. Aih, janjinya memang menggiurkan, tapi apakah bisa merealisasikan?

Pihak Foke mengklaim bahwa ia telah berjasa dalam membangun ibu kota dalam lima tahun terakhir. Hal itu tersirat dalam buku berjudul Rangkuman Prestasi Fauzi Bowo sebagai Gubernur Provinsi DKI Jakarta periode 2007—2011. Isinya tentu memuji-muji kecakapan sang gubernur dalam memimpin kota metropolitan ini. Berikut ripiunya.

Transportasi

Setidaknya ada dua persoalan besar terkait kemacetan Jakarta. Pertama, penambahan mobil dan motor yang tak sebanding dengan daya tampung jalan raya. Kedua, minimnya angkutan umum massal (AUM) yang aman, nyaman, tepat waktu, dan terjangkau. Rupanya, orang nomor satu di Jakarta ini hanya berfokus pada satu persoalan saja, yang mana antara persoalan yang satu dengan lainnya berkaitan erat.

Dalam bidang transportasi, Foke—katanya—telah melakukan beberapa kebijakan. Salah satunya menambah jalan yang ada di Jakarta. Hal itu diakuinya dengan membangun jalan layang non-tol Antasari—Blok M dan Kampung Melayu—Tanah Abang yang sampai saat ini masih terus dikerjakan. Bagaimana analisis atas kebijakan ini?

Pembangunan dan penambahan jalan di Jakarta tentu menjadi berita baik yang harus kita dukung keberadaannya. Namun, kebijakan untuk membangun jalan layang non-tol ini malah menjadi persoalan kepentingan pada akhirnya. Logikanya, pembangunan jalan tersebut dimaksudkan untuk mengatasi pertumbuhan kendaraan yang makin tak dapat dibendung. Bukanlah warga miskin yang memiliki dan menambah banyak kendaraan (pribadi) yang ada tersebut, melainkan orang-orang berduit dan berkelimpahan harta. Pada akhirnya, urgensi dalam pembangunan jalan tersebut sejatinya bukan berfokus pada pemecahan masalah macet di Jakarta, melainkan untuk memanjakan para pengguna kendaraan bermotor yang makin banyak saja jumlahnya. Bahkan, Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Udar Pristono mengakui dua jalan layang non-tol yang sedang dibangun di ruas Cipete-Blok M (Jalan Antasari) dan Kampung Melayu-Tanah Abang (Jalan Casablanca) tidak akan berpengaruh dalam mengurai kemacetan di Jakarta.

Selain itu, dari sisi lingkungan pun dampak pasti yang bakal terjadi adalah berkurangnya ruang terbuka hijau (RTH) di kawasan tersebut. Pembangunannya juga akan mengikis area lahan pub­lik dan daerah resapan di sekitar jalan yang ingin dibangun tersebut. Sesuai analisa dampak lingku­ngan (amdal), setiap pro­yek pembangunan dipastikan akan memiliki efek terhadap ling­kungan di sekitarnya. Bukan ha­nya pada lokasi pembangu­nan­nya, namun pembangunan yang di­lakukan akan berdampak hing­ga radius 200-an meter lebih. Ini yang ngebikin kebijakan Fauzi Bowo en kawan-kawannya hanya mementingkan aspek komersial bagi kalangan tertentu, alih-alih berdasarkan kepentingan warganya.

Bahkan, dari berita yang gua dengar, ada banyak kepentingan dalam proyek pembangunan jalan layang non-tol ini. Katanya, dae­rah Antasari yang sebelumnya se­bagai daerah pemukiman—karena lobi dari pihak pengembang—nan­tinya daerah tersebut akan ber­ubah menjadi daerah komersial. Menurutnya, di sini terlihat pihak developer sangat dominan ter­hadap pemprov agar meng­ubah kawasan pemukiman menjadi kawasan bisnis.

Hal kedua yang dilakukan Foke dalam 5 tahun kepemimpinannya adalah menambah jalur busway sebanyak…hanya satu (1) koridor, yakni rute Walikota Jakarta Timur sampai ke terminal Kampung Melayu. Kinerja Foke ini, yang mana jika kita bandingkan dengan gubernur terdahulu, Sutiyoso, adalah sebuah kemunduran. Pada masanya, Bang Yos berhasil membangun 10 koridor busway di Jakarta.

oleh detikfoto

Terakhir, masalah perbaikan jalan raya. Jalan-jalan yang bolong en rusak—katanya—telah selesai diperbaiki. Sialnya, perbaikan itu hanya sebatas tambal-sulam belaka. Mudah ditebak, renovasi jalan yang seperti ini hanya rutinitas tahunan (berulang kali dilakukan) yang ujung-ujungnya bermuara pada permainan proyek. Selain itu, pengerjaan proyek gorong-gorong di kawasan Senayan, Jalan Sudirman, kerap kali mengundang kecelakaan. Pemasangan penutup gorong-gorong ini sangat tidak rapi, terkesan asal-asalan. Selain lubang antara permukaan aspal dengan besi itu cukup dalam, besi penutup gorong-gorong itu juga bisa membahayakan. Apalagi tidak ada rambu-rambu atau tanda-tanda khusus ‘bahaya’ di besi penutup gorong itu. Pembangunan yang tak memikirkan keselamatan jiwa pengguna jalan seperti ini menjadi cerminan kinerja yang telah dilakukan pemprov Jakarta buruk.

Banjir

Jakarta tak pernah alpa kebanjiran ketika musim penghujan datang. Doyan apa doyan, tuh? Sedari dulu Jakarta emang bermasalah dalam pengelolaan saluran air dan sungainya. Mulai dari penyempitan lebar sungai, kotornya air yang warnanya telah menghitam, pengendapan lumpur yang ngebikin dasar sungai jadi dangkal, sampai sensitifnya luapan air sungai tiap kali hujan turun; semuanya bermuara pada satu peristiwa yang kita sebut dengan…banjir.

BAH!?

Foke mengklaim telah membangun Kanal Banjir Timur (kita mah seringnya nyebut ini dengan BKT–Banjir Kanal Timur) yang sudah melindungi penduduk sebanyak 2,7 juta warga di wilayah Jakarta Timur dan Utara dari ancaman banjir. Ini–baginya–merupakan sebuah prestasi yang kudu diapresiasi oleh semua warga Jakarta. Prestasinya? KBT itu???

KBT merupakan proyek nasional dari pemerintah pusat. Bohong jika ada cagub yang menggaungkan kesuksesan membangun KBT adalah prestasi dirinya. Pada akhirnya, Kanal Banjir Timur dijadikan ajang kampanye oleh calon petahana ini, yang mana hanya pembohongan publik.

Tak bisa dipungkiri masalah banjir adalah masalah yang sangat pelik dan kompleks. masalah banjir menjadi puncak gunung es dari keadaan yang terjadi di Jakarta. Mulai dari perilaku membuang sampah sembarangan,. Jadi, bukanlah sebuah solusi yang efektif jika kita mengandalkan satu proyek besar macam KBT untuk menanggulangi persoalan yang sudah mendarah-daging seperti ini.

Benar jika masalah banjir belum dapat terselesaikan. Faktanya, banjir masih menjadi momok bagi sebagian wilayah di Jakarta. Mulai dari meluapnya Kali Ciliwung yang menggenangi Kampung Melayu dan sekitarnya, sampai pada tergenangnya air hujan di jalan-jalan di ibu kota. Bahkan, masalah ini merembet ke mana-mana. Macet yang semakin parah terjadi saat jam-jam pulang kerja tiap kali hujan turun di sore hari. Macam efek domino yang menghabisi kewarasan warga ibu kota.

Pendidikan

Siapa sih orangtua yang ingin menyekolahkan anak-anaknya tapi masih terkendala biaya? Banyak! Masih banyak, cing! Lah, pan ada dana Bantuan Operasional Buku en Bantuan Operasional Sekolah? Mau bilang sekolah negeri sudah gratis pun, faktanya masih banyak sekolah yang ngerasa level pendidikannya tinggi memasang tarif jauh di atas BOS di sekolah negeri pada umumnya. Tidak lain en tidak bukan, aturan ini justru memunculkan kecurigaan sebagai gerbang utama dalam penyelewengan dana BOB en BOS sehingga kebijakan sekolah gratis hanya angan-angan warga miskin belaka. Transparansi penggunaan dana tersebut tidak pernah terungkap kejelasannya, bahkan komplain yang sedianya dapat dilaporkan oleh masyarakat pun tak terakomodasi.

Jadi, adakah kita masih berkeinginan untuk memilih Foke kembali—yang mana 5 tahun lalu gua enggak—sebagai Gubernur Jakarta periode 2012-2017. Gua pribadi pastinya enggak milih dia! Cukuplah Foke 1 periode. Mari kita sukseskan Foke sebagai Mantan Gubernur DKI Jakarta, cukup 1 putaran, cukup 1 periode untuk Foke! Beresin Jakarta emang gak bisa cepet, tapi “beresin Foke” cukup sehari! #Fokelahkalobegitu

Data Pustaka

http://nusantara.rmol.co/read/2011/01/28/16375/Flyover-Casablanca-&-Antasari-Dikhawatirkan-Hilangkan-RTH- waktu akses 2 Juli 2012, pk. 13.32 WIB

http://jalanlayangjakarta.blogspot.com/2011_01_01_archive.html waktu akses 2 Juli 2012, pk. 13.40 WIB

http://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:niDQPr4eT2UJ:m.krl.co.id/BERITA-TERKINI/optimalkan-kereta-api.html+&cd=1&hl=en&ct=clnk&gl=id waktu akses 2 Juli 2012, pk. 13.58 WIB

http://news.detik.com/read/2012/01/18/185222/1819318/10/lubang-penutup-gorong-gorong-di-jalan-sudirman-sudah-telan-korban?nd992203605 waktu akses 2 Juli 2012, pk. 14.10 WIB

Sumber foto:

http://us.images.detik.com/content/2012/01/11/157/lobang3.jpg waktu akses 2 Juli 2012, pk. 14.10 WIB

Tagged: , , ,

§ One Response to Sosok: Fauzi Bowo, Sang Kumis Pembela..blablabla..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Sosok: Fauzi Bowo, Sang Kumis Pembela..blablabla.. at B e r s a n t a i S e j e n a k . . ..

meta

%d bloggers like this: