Sosok: Faisal Basri, Konseptor Ibu Kota

4 July 2012 § 3 Comments

Faisal Basri

Faisal Basri

Faisal Basri adalah seorang dosen di Universitas Indonesia yang juga sebagai ekonom dan politikus di Indonesia. Faisal Basri mencalonkan dirinya sebagai calon independen, menggandeng Biem Binyamin sebagai cawagub.

Apasih yang dibawa Faisal Basri en Biem Binyamin di pilkada ini?

Dari luar, ga ada yang spesial dari Faisal Basri. Rutinitas kesehariannya ya paling ngajar. Pencalonannya tanpa dukungan resmi parpol. Faisal Basri nyalonin secara independen. Mengumpulkan dukungan dari masyarakat yang emang sevisi dengannya. Jelas poin ini secara otomatis menyimpulkan satu hal, bahwa Faisal Basri tidak berutang kepada partai politik untuk membalas jasa, apalagi kepada cukong-cukong yang sudah biasa memberi modal kampanye untuk selanjutnya meminta feedbacknya: usahanya bisa lancar tanpa gangguan pajak dll.. Hal ini penting untuk melihat sejauh mana motif dirinya menginginkan posisi DKI-1, apakah sebagai ambisi pribadi, kekuasaan belaka, atau memang panggilan jiwa untuk memperbaiki DKI Jakarta.

Faisal-Biem

Faisal-Biem

Slogannya yang berbunyi “berdaya bareng-bareng” ngebikin pencitraan terhadap pasangan ini bersama-sama membangun jakarta sebagai kota yang diperuntukkan buat warganya. Ini dicontohkan dengan gerakan pasangan independen ini dalam mengumpulkan donasi untuk dana kampanyenya.

Seperti yang kita tahu, calon independen adalah calon yang mencalonkan dirinya sendiri tanpa dukungan parpol. Tanpa adanya parpol, berarti tidak ada pula jaringan informasi en komunikasi dalam menyuarakan kampanye. Praktis diri mereka sendirilah (dan orang-orang yang sevisi dengan mereka) yang nantinya bergerak sebagai mesin penggerak suara. Maka, dana yang tersedia adalah dana pribadi (tanpa adanya dukungan dari dana parpol). Faisal-Biem menemui ganjalan ini. Inilah kesulitan yang mereka hadapi, yang kemudian diselesaikan dengan adanya bantuan donasi dari warga en kegiatan fundrising yang digagas timses mereka. Inilah kerja sama, inilah berdaya bareng-bareng.

Faisal-Biem. Gua tertarik sama programnya. Programnya apa aja? Nih, lihat di sini programnya. banyak dari program-program tersebut berupa konsep yang tak dipikirkan cagub lain, bahkan sampai menyertakan teknis pelaksanaannya. Dalam menyelesaikan persoalan klasik Jakarta, macet en banjir, Faisal memberikan konsep baru yang tak didengungkan oleh cagub lain. Salah satu program andalan yang gua suka adalah The GoldenLine.

The GoldenLine
Kemacetan adalah salah satu masalah besar yang harus diselesaikan di Jakarta. Solusi utama yang ditawarkan adalah pembenahan transportasi publik dengan fokus pada dua moda: Bis dan Kereta. Berbeda dengan cagub lain yang memfokuskan pada penambahan jalan, Faisal Basri mencoba untuk mengatasinya lewat kebijakan yang terfokus pada transportasi massal. Revitalisasi bis dan kereta adalah cara paling efektif untuk mendorong warga Jakarta beralih ke transportasi publik. Selain itu, Faisal memiliki konsep lain yang dapat dijadikan alternatif untuk kurangi kepadatan lalulintas. Program ini adalah membangun jalur sepeda dan pejalan kaki yang terpadu. Untuk konsep awal, jalur sepeda dan pejalan kaki terpadu ini akan dibangun di kawasan segitiga emas: Thamrin, Sudirman, dan Kuningan. Jalur sepeda dan pejalan kaki terpadu di kawasan segitiga emas inilah yang disebut sebagai The GoldenLine.

The GoldenLine ini merupakan konsep baru yang diusung cagub independen ini. Pertanyaannya, mengapa program ini akan dilakukan di kawasan segitiga emas? Karena di kawasan inilah titik kronis kemacetan. Untuk mengurangi kemacetan yang sudah akut ini, perlu pendekatan yang bermacam-macam. Salah satunya dengan jalur sepeda dan pejalan kaki yang terpadu. Membangun jalur sepeda dan pejalan kaki tidak bisa langsung begitu saja. Sulit, ini bakalan sulit. Tidak mudah dalam realisasinya. Harus direncanakan matang dan diwujudkan secara serius. Nantinya, The GoldenLine akan berfungsi sebagai penghubung lokasi-lokasi strategis di wilayah segitiga emas agar dapat dengan mudah diakses dengan berjalan kaki dan bersepeda. Hal ini untuk mengurangi penggunaan kendaran bermotor di wilayah ini. Dengan sarana ini, warga bisa berjalan kaki atau bersepeda dari Bundaran HI ke Rasuna Said atau ke Senayan dengan nyaman dan aman. Selain menyehatkan, The GoldenLine tentu akan berdampak positif bagi lingkungan di Jakarta.

Jelas konsep desain The GoldenLine ini akan sangat kompleks. Banyak hal yang akan terkait dengan konsep ini. Cuaca, kenyamanan, kecocokan, budaya, dan masih banyak hal lainnya yang akan membentuk desain The GoldenLineDesain The GoldenLine ini tentu akan disesuaikan dengan kondisi cuaca Jakarta. Selain itu, desain The GoldenLine ini akan melibatkan masyarakat, profesional, dan organisasi pengendara sepeda dan pejalan kaki. Dengan demikian perencanaan dapat dilakukan bersama-sama untuk menghasilkan implementasi yang baik. Ini merupakan konsep awal. Di tahun-tahun kemudian, pembangunan jalur sepeda dan pejalan kaki ini juga akan dibangun selain di wilayah segitiga emas. Nantinya pembangunan jalur sepeda dan pejalan kaki akan dilakukan di jalan-jalan di seluruh Jakarta. Bisa gua bayangkan Jakarta menjadi kota yang inklusif, menghargai sesama warga, dan peduli terhadap sekitarnya.

Transportasi
Konsep perencanaan transportasi yang ingin diwujudkan pasangan Faisal-Biem adalah lalu lintas jalan yang teratur, alat transportasi yang beradab, serta efisiensi kebijakan yang menguntungkan bagi seluruh warga DKI Jakarta. Hal itu tersirat dalam program-programnya yang ingin realisasikan segera setelah mereka terpilih memimpin Jakarta.

Mengapa Jakarta begitu macet?

Ada yang bilang karena luas jalan yang tidak sesuai dengan volume kendaraan yang ada. Karena itulah mereka bilang jumlah jalan harus ditambah dengan menambah jalan tol dan jalan layang. Bagi Faisal-Biem, itu solusi yang tidak menyelesaikan akar masalah. Karena itu sama dengan menuang air ke dalam gelas yang sudah penuh. Kemacetan terjadi karena jumlah pengguna kendaraan pribadi jauh lebih besar dari pengguna kendaraan umum. Ini terjadi karrna sarana kendaraan umum yang tersedia sangat tidak memadai, buruk, dan tidak aman. Ini fakta.

Solusinya?

Ada yang menyarankan untuk mengurangi penggunaan kendaraan pribadi dengan cara seperti electronic road pricing (ERP). Cara ini akan membuat pengendara berpikir dua kali untuk memakai kendaraan pribadinya karena adanya tambahan bea penggunaan jalan ini. Bagi Faisa-Biem, lagi-lagi, pengurangan penggunaan kendaraan pribadi tidak bisa efektif jika sarana transportasi publik tidak disediakan secara baik. Jadi, poinnya adalah pelayanan transportasi publik yang disediakan dengan baik. Pertanyaannya, bagaimana membenahi sarana transportasi publik di Jakarta?

Selama 40 tahun Jakarta membangun sarana transprotasi publik tetapi tidak saling terpadu dan berkesinambungan. Setiap pergantian kepemimpinan DKI-1, sistem transportasi baru selalu dibangun, tetapi sistem yang lama diabaikan. Akhirnya sistem transportasi publik di Jakarta amburadul seperti sekarang. Karena itu kami ingin benahi sistem transportasi publik dengan kembali pada moda yang paling mendasar: kereta dan bis.

Kedua moda transportasi ini sudah ada sistemnya tetapi diabaikan. Jakarta sudah memiliki infrastruktur jalur kereta api yang menghubungkan lokasi-lokasi penting di Jakarta. Faisal-Biem akan bekerjasama dengan pihak PT Kereta Api untuk merevitalisasi sarana kereta api di Jakarta. Moda yg kedua adalah bis. Kenapa bis? Karena bis adalah sarana mobilisasi yang paling efektif dan efisien.

Kota manapun di dunia yang miliki sistem transportasi paling canggih, bis kota selalu menjadi tulang punggung sistem transportasi publik. Singapore, New York, Tokyo, London, Sydney adalah kota-kota dunia di mana bis kota menjadi salah satu sarana transportasi utama. Ironisnya, selama 30 tahun Jakarta gagal membangun sistem transportasi bis kota yg baik. Karena itu, Faisal-Biem ingin merevitalisasi bis kota sebagai tulang punggung transportasi publik.

Ada 4 aspek dalam program Revitalisasi Bis. Pertama, pembentukan Otoritas Transportasi Jakarta (OTJ) yang akan mengendalikan seluruh sarana transportasi yang ada secara terpadu. Kedua, menyediakan bis-bis umum dengan jumlah yang memadai, nyaman, dan aman, serta harga yang terjangkau. Ketiga, membangun sistem pemberhentian bis (halte & terminal) yang layak serta dilengkapi sistem pembayaran elektronik. Bis tidak akan berhenti disembarang tempat. Hanya di halte yang telah disediakan. Di setiap halte akan disediakan tempat tunggu yang nyaman dan informasi jalur bis yang lengkap. Keempat, mengintegrasikan seluruh kendaraan umum milik operator swasta ke dalam sistem yang dikontrol oleh OTJ. Dengan demikian tidak akan ada lagi sopir kendaraan umum yang ugal-ugalan karena mengejar setoran. Dan akan terjadi standarisasi kualitas pelayanan dan harga bagi seluruh pengguna bis umum.

Pertanyaan selanjutnya yang menjadi penting adalah apakah revitalisasi bis ini dpt dilakukan?

Tentu saja. Secara finansial sangat layak dan secara sosial sangat bermanfaat. APBD melimpah. Hanya saja, di pemerintahan sebelumnya anggaran tersebut tidak dipergunakan dengan baik dan efisien. Dalam mendesain sistem bis ini (trayek, kualitas, harga, dsb.), Faisal-Biem akan melibatkan warga secara langsung. Karena partisipasi publik adalah prinsip dalam #bdayabareng2.

Faisal Basri fokus pada penerapan layanan tansportasi yang terintegrasi. Hal itu diimplementasikan dalam konsep single-ticket, yakni 1 tiket untuk penggunaan seluruh transportasi massal yang disediakan. Pusat pengelolaan operasional yang terpusat dan terintegrasi ini melibatkan perusahaan penggerak transportasi massal seperti PT. KAI Commuter Jabodetabek dan TransJakarta. Angkutan umum kecil nantinya hanya beroperasi di daerah pemukiman, berfungsi sebagai feeder ke lokasi-lokasi pemberhentian transportasi massal (halte atau stasiun) dan terintegrasi dalam otoritas transportasi jakarta. Selain untuk mempermudah warga pengguna transportasi tersebut, kebijakan ini juga diharapkan mampu mengefisiensikan kinerja perusahaan-perusahaan itu. Pada akhirnya Faisal menginginkan transportasi massal yang disediakan tersebut memiliki armada yang dijalankan dengan ketepatan jadwal yang akurat. Ini penting, mengingat sampai sekarang ketepatan waktu menjadi sesuatu yang amat mahal di Jakarta.

Beberapa programnya yang gua sepakati menyoal transportasi:
– Penerapan electronic road pricing (ERP) pada titik-titik masuk Jakarta yang frekuensi lalulintasnya cukup tinggi bagi kendaraan pribadi.
– Penerapan pajak pemilikan kendaraan pribadi progresif untuk pemilikan ganda kendaraan pribadi.
– Pengelolaan pembayaran pajak pemilikan kendaraan pribadi yang terintegrasi, bekerjasama dengan Polda Metro Jaya, menggunakan Kartu Keluarga, bukan hanya Kartu Tanda Penduduk.
– Pengoperasian secara konsisten penegakan hukum lalulintas, menggunakan Polisi Pamong Praja dan bekerjasama dengan Polda Metro Jaya.
– Mengurangi dan memindahkan titik-titik putaran (U-Turn) di banyak ruas jalan untuk mengurangi antrian kendaraan berputar. (Duh, ini gua ngedukung banget! Keseksa gua kalok lewat Pasming ama yang beginian)
Mewajibkan pusat-pusat perbelanjaan memiliki lokasi pemberhentian kendaraan pribadi maupun kendaraan umum/shuttle yang tidak mengganggu lalulintas/jalan umum.
Memiliki sistem pengaturan lampu pengaturan lalulintas yang kontrolnya terpusat bekerjasama dengan Polda Metro Jaya.
– Membuka kembali 30 persen lajur jalan yang digunakan oleh pedagang kaki lima dengan merelokasi mereka ke pasar-pasar

Itu baru masalah transportasi. Belum lagi program-program mengenai pengelolaan air, masalah banjir, rob yang mengganggu Jakarta Utara, problem premanisme, masalah menjamurnya mal dan minimarket (yang sering banget dibangun tanpa IMB), urusan trotoar dan pedestrian yang telah diperkosa pengguna jalan, soal anak putus sekolah di DKI, serta masalah ormas-ormas anarkis yang merajalela di Jakarta, bahkan mengurusi masalah museum yang tak pernah dilirik orang-orang en cagub untuk diapresiasi keberadaannya.

Bagi gua, program-programnya bukan tong kosong belaka. Ada niat di dalamnya untuk ngubah Jakarta yang hebat sedia kala. Faisal Basri memang benar niat untuk menjadi orang nomor 1 DKI ini. Semoga apa yang disampaikannya terealisasi adanya. Semoga.

Tagged: , , ,

§ 3 Responses to Sosok: Faisal Basri, Konseptor Ibu Kota

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Sosok: Faisal Basri, Konseptor Ibu Kota at B e r s a n t a i S e j e n a k . . ..

meta

%d bloggers like this: