Antara Teknologi, Militer, dan Kekuatan Negara

7 July 2012 § Leave a comment

Abis baca Kompas, tentang teknologi yang digunain buat kepentingan militer. Dituliskan bahwa militer AS menggunakan pesawat tanpa awak DRONE—yang sudah dipercanggih lagi perangkatnya—pada saat memburu kelompok teroris Al Qaeda di Afghanistan. Pesawat itu dilengkapi kamera digital yang memungkinkan pengintaian dalam radius jaringan nirkabel. Dan beberapa waktu yang lalu, kita jadi teringat dengan pesawat tanpa awak AR Drone buatan Parrot SA di Perancis yang mana telah dapat dikendalikan dengan iPad atawa iPhone! Betapa canggihnya teknologi yang seperti itu dipergunakan oleh negara yang bersangkutan untuk mengamankan apa yang ingin mereka pertahankan.

Gua jadi inget ama omongan kawan se-STM gua,

“Teknologi itu sebetulnya senjata. Pada dasarnya, teknologi diciptain untuk kepentingan militer. Misal dulu lu punya komputer segede gudang, militer saat itu udah bikin komputer yang cuma segede CPU yang sekarang. Kayak gitu…berulang-ulang.”

See? Teknologi yang kita liat sekarang sebetulnya udah digunain militer pas beberap tahun silam. Kita yang terkagum-kagum dengan kecanggihannya ini sebenernya cuma dapet sekennya aja. Militer itu hebat banget, kan?

Fakta ini jelas sangat penting diketahui oleh masyarakat luas. Penting karena mereka yang terkenal di bidang teknologi sebetulnya hanya “orang kedua” yang mengetahui teknologi yang terbaru itu. Penting karena penciptaan teknologi pada hakikatnya adalah untuk melindungi diri (negara atau kelompok atau kawasan). Penting karena keamanan dan kenyamanan warga sipil jadi taruhannya. Tak dapat dipungkiri bahwa keamanan nasional menjadi prioritas utama. Penyadapan dan pemantauan rutinitas masyarakat oleh negara pun telah menjadi rahasia umum bagi segelintir orang. Praktis jika ada tindakan yang mencurigakan, militer–atau pihak yang berwajib dalam hal ini–bisa dengan cepat mengambil tindakan kepada warga sipil.

Dalam film-film hollywood, kita diperlihatkan bagaimana teknologi itu bisa bekerja dengan sangat efektif. Tidak ada teknologi yang tersia-sia, tiada kecanggihan alat yang terlewat fingsinya. Semuanya tidak dipergunakan kecuali untuk kebutuhan persenjataan. Everything is about millitary. Beware, guys!

Ada beberapa hal yang mengklarifikasikan hal ini. Berita tadi, contohnya. Bagi militer, kecanggihan pesawat tanpa awak yang dikendaliin dengan perangkat bikinan Apple itu hanya sebagai “pijakan yang telah lalu”. Hanya teknologi yang baru saja ketinggalan zaman. Pun film-film box office yang bergenre action, Sci-Fi, serta thriller tidak jarang menyuguhkan kedigdayaan teknologi tersebut dalam mengkonstruksikan ide cerita. Bahkan, ada kesan yang ingin diperlihatkan dari tayangan-tayangan tentang bagaimana militer dan teknologi menguasai dunia.

Mungkin, teknologi yang tersaji dalam film The Avengers macam kapal induk yang bisa terbang masih berada pada tahap imaji belaka (I believe, sooner this will be real!). Tapi kekhawatiran gua adalah teknologi dan modus yang ada pada film The Adjustment Bureau. Di situ teknologi dan lembaga intelejen bahu-membahu merekayasa hidup manusia. Manusia benar-benar telah dikuasai! Kengerian gua ada pada terkungkungnya kebebasan yang telah lama diinginkan asasi orang-orang. Manusia di dunia akhirnya hanya dijadikan boneka untuk tunduk dan patuh pada skenario yang telah dibuat oleh segelintir orang/lembaga (macam lembaga intelejen dan militer). Jika keluar dari jalurnya (tidak seperti rencana lembaga tersebut), maka “orang-orang yang tersesat itu” akan dituntun agar kembali ke “jalur yang benar”. Jika melenceng jauh? Well, sorry to say, you just better die!

Begitu juga yang gua liat di film Men in Black. Bukan, ini tentu bukan soal teknologi yang digunain Will Smith en kawannya buat nangkepin alien. Meski canggih luar biasa, namun eksistensinya tak perlu dirisaukan–pun jika dijadikan senjata pemusnah massal. Esensinya belom urgent rasanya. Kegawatan sesungguhnya adalah soal pembungkaman masyarakat sipil yang related dengan kejadian-kejadian tersebut. Fakta perahasiaan ini gawat adanya. Konteksnya bukan pada kenyataan aneh yang ditutup-tutupi. Tapi lebih kepada tindakan sewenang-wenang sekelompok orang itu untuk mengatur jalan hidup. Perahasiaan terhadap publik memang kejahatan, tetapi pengaturan skenario hidup kepada setiap manusia (makhluk?) merupakan kekejian kemanusiaan. Tidaklah manusia diciptakan untuk menjadi boneka berdaging, diatur sedemikian rupa, serta tak berharga keberadaannya.

Ini hanya sebagai pengingat, atau sebuah pertanyaan, apakah hidup kita benar adanya? Melihat ending yang diperlihatkan pasangan Matt Damon dan Emily Blunt gua setuju dengan penutupnya, bahwa hidup takkan bisa direkayasa dan akan berjalan searah dengan niat kita. Jadi, jalani hidup ini dengan cara yang menyenangkan!:mrgreen:

Tagged: , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Antara Teknologi, Militer, dan Kekuatan Negara at B e r s a n t a i S e j e n a k . . ..

meta

%d bloggers like this: