The Dark Knight Rises 「Review」

23 July 2012 § 10 Comments

Title : The Dark Knight Rises
Category : Movies
Genre : Action | Adventure | Crime
Duration : 164 min
Year : 2012
Director : Christopher Nolan
Writers : Jonathan Nolan (screenplay), Christopher Nolan (screenplay), and 3 more credits
Stars : Christian BaleTom HardyAnne HathawayJoseph Gordon-LevittGary Oldman
Production Co : Warner Bros. PicturesDC EntertainmentLegendary PicturesSyncopy
Site Info : IMDb

Rating: 

Dua hal yang terbersit setelah menonton akhir dari trilogi Batman ini: Pertama, Majalah Cinemags telah keliru menaruh poster film The Amazing Spiderman di edisi bulan Juli ini. Kedua, Nolan membuktikan bahwa epos dari kisah Batman ini belum benar-benar berakhir. Nolan, You’re Damnly Rock!

The Dark Knight Rises adalah ujung dari kisah Batman reboot versi Christopher Nolan. Setelah sukses dengan Batman Begins (2005) dan The Dark Knight (2009), Nolan sekali lagi membuktikan dirinya sebagai sutradara papan atas dengan kualitas film-filmnya yang mencengangkan. Dengan kurun waktu yang cukup lama perilisan antarfilmnya, epos Batman ini menjadi semacam penantian yang berharga untuk disaksikan.

Melongok sejenak ke belakang, pada ending di The Dark Knight, Batman bukanlah pahlawan bagi Gotham City. Ia justru menjadi penjahat yang paling dibenci oleh warga Gotham karena dituduh menjadi dalang kematian Harvey Dent, sosok hero di mata masyrakat Gotham City. Sejak saat itu, Batman menghilang dan Gotham City stabil untuk sementara waktu.

Delapan tahun berlalu, kestabilan itu rupanya tak benar-benar nyata. Teror memang belum terjadi. Tapi setidaknya Jim Gordon (Gary Oldman), seorang komisioner polisi Gotham, merasakan ada gerak-gerik mencurigakan yang mengancam ketenangan penduduk kota. Dalam kurun “masa tenang” tersebut ada gerakan bawah tanah (konotasi dan denotasi) yang lamat-lamat bergerak masif. Bane (Tom Hardy), the next terror, telah datang dan bersiap melancarkan aksinya untuk menghancurkan Batman dan Gotham City.

*****

Kisah berawal dari pidato dari Jim Gordon untuk mengenang delapan tahun kematian Harvey Dent. Kisah kematiannya menjadi awal dari kebangkitan hukum di Gotham City. Sejak saat itu, ribuan penjahat Gotham City dipenjarakan dengan dasar hukum yang diberikan oleh Undang-Undang buatan Dent. Akan tetapi, dilema terus membelenggu dan menghantui Jim Gordon. Kebohongannya atas kepahlawanan Dent—yang pada akhirnya kepercayaannya atas hukum berputar 180 derajat menjadi keputusasaan atas dirinya—mengantarkannya pada ironi atas kekuasaan hukum yang ada di Gotham City. Ia pun berencana untuk mengakui persekongkolan pada suatu fungsi merayakan Dent, namun urung dilakukan karena kota ini belum siap untuk mendengar kebenaran.


Bagaikan reuni dalam film Inception, Nolan mengisi pemeran-pemeran dalam The Dark Knight Rises ini dengan beberapa pemain utama yang sama. Sebut saja Joseph Gordon-Levitt, Tom Hardy, Michael Caine, Marion Cotillard, Cillian Murphy, dan beberapa pemain figuran lainnya. Mereka-mereka inilah para pemain yang “setia” kepada Nolan.

Untuk karakter Batman, gua ga ada komentar. Alter ego yang dibangun cukup meyakinkan. Christian Bale dapat menjadi Bruce Wayne sang konglomerat bisnis itu dengan sifat hangat, bersahabat, dan flamboyan. Pelimpahan kesalahan warga Gotham kepada Batman rupanya berimbas kepada eksistensi Batman. Batman/Wayne yang dalam pertarungan terakhir dengan Dent mengorbankan dirinya jatuh dari bangunan tinggi untuk menyelamatkan anak Gordon membuat dirinya lemah dan  cedera parah. Kakinya yang pincang di awal mengesankan bahwa Wayne tidak berminat untuk menjadi Batman, setidaknya untuk sementara waktu. Ini impresi awal yang baik, menurut gua.

Menjadi Batman, ia dengan sangat dingin memainkan perannya. Sifatnya memang dingin, tapi karakternya dalam Batman juga begitu kuat. Gap delapan tahun tanpa menjadi Batman membuatnya lemah. Terlihat ia begitu kewalahan menghadapi Bane. Namun, lambat-laun dengan pertolongan “orang-orang yang diperlukan”, Batman dapat memulihkan kekuatan dan jiwanya. Kebangkitan (rises) Batman pun ditunjukkan dalam scene di penjara neraka.

Dalam banyak film kepahlawanan, mungkin sosok pahlawan itu sendiri bisa tenggelam oleh aura pembunuh musuhnya. Tapi, Bale di sini dapat memerankan Bruce Wayne dan Batman dengan sangat keren. Lebih keren dari Andrew Garfiled di film The Amazing Spiderman.

Musuh Batman di sini adalah Bane. Bane adalah wujud monster yang nyata. Bukan hanya memiliki kekuatan fisik yang mengagumkan, ia juga representasi dari iblis yang lahir di neraka yang sebenarnya. Tom Hardy yang berperan sebagai Bane dengan sangat fantastis menjadikan tubuhnya kekar bak manusia super. Ia yang dalam Inception bermain dengan sangat keren sebagai Eames, bisa bikin kita nyengir di film yang mungkin sebagian besar akan bikin kita terbengong-bengong. Dalam peran lain, ia memerankan karakter Tuck yang sangat maknyus dalam This Means War, bikin cewek-cewek (khususon Reese Witherspoon yang jadi Lauren di film ini) klepek-klepek. Jadi ketika Bane muncul di The Dark Knight Rises, kita akan berdecak, “Wow, ini beneran Tom Hardy, nih?!”

Perubahan yang signifikan tersebut diperlukan untuk menciptakan kesan bahwa musuh kali ini sungguh luar biasa kuat. Meski menjadi musuh yang paling kuat, terkesan Bane tidak mendapat porsi yang terlalu besar dalam keangkerannya dalam meneror. Ada “sesuatu” yang rupanya disembunyikan Nolan sampai menjelang akhir kisah ini bahwa bukan dialah musuh Batman yang sesungguhnya. Anyway, Batman dipecundangi dengan sangat mudah oleh Bane. Bane, You’re rock too!

Peran lain yang tak kalah penting adalah Catwoman. Catwoman muncul tanpa kemeriahan layaknya superhero. Ini macam agen Romanov yang jadi figuran di The Avengers. Muncul pertama kali sebagai Ms Bolton, yakni pelayan keluarga Wayne, Catwoman berhasil membobol brankas Wayne yang berisi kalung mutiara. Aksinya yang mencuri kalung warisan ibunya itu memancing keingintahuan Wayne tentang identitas gadis itu. Anne Hatheway ga salah lagi ngebikin karakter Catwoman dengan sangat baik. Jika saat ia bermain sebagai Emma dalam film One Day Anne terlihat feminim, agak nerd, dan terkesan rapuh, dalam aktingnya sebagai Catwoman ini, Anne look sooo badass, hot, and bitchy!:mrgreen:

Sayang, porsi kemunculannya tidak lebih banyak dari yang ada di sana. Fakta bahwa dirinya “main nyelonong” aja di film ini ga bisa dihiraukan begitu aja. Bagaimana tidak, ujug-ujug aja sang kucing pencuri itu ada di dalam rumah Bruce Wayne sebagai pelayan. Tanpa latar belakang dirinya, motif keberadaannya, serta alasan atas pekerjaannya, yang mana sangat minim diekspos di sana. Informasi yang ada hanya dan hanyalah ia “pencuri biasa” yang kebetulan telah jauh berhubungan dengan monster yang menakutkan. Dalam film ini, seakan Catwoman ini bermain sendiri-sendiri, agak terlepas dari megakonsep cerita TDKR—terlepas dari endingnya yang nantinya bakal nempel terus sama Wayne itu. *ups, spoil detected!

Dan karakter yang gua suka di sini adalah Blake. Siapa Blake? Nama lengkapnya Robin John Blake. Dia adalah orang baru di Dark Knight Saga setelah Catwoman dan Bane. Memang dia hanya sebagai figuran, pemain pendukung kinerja Batman. Tetapi, usahanya dalam menonjolkan diri di kisah ini ga bisa disepelekan. Mulai dari latar belakangnya yang tinggal di panti asuhan yang didanai oleh perusahaan Wayne hingga kemudian menjadi seorang polisi patroli, membuat ia merasa kenal lebih dekat dengan pribadi Wayne. Dan terbukti, hanya dialah orang yang mengenali sosok sebenarnya di balik topeng Batman. Aih, Joseph Gordon-Levitt keren sekali di sini. Yeah, lebih keren dari karakter Tom ataupun Arthur.

Karakter lainnya adalah Jim Gordon yang secara konsisten bisa memerankan sosok kepala kepolisian yang handal. Pun saat ia sedang masa pemulihan, tetap saja sulit untuk ditaklukkan. Terbukti dua anak buah Bane terkulai begitu saja saat mencoba membunuhnya di rumah sakit. Rasanya akan pangling jika kita membandingkan Jim Gordon ini dengan pemeran Sirius Black yang ada di film Harry Potter and The Prissoner of Azkaban dan Harry Potter and The Order of Phoenix. Padahal kedua pemeran tokoh tersebut adalah orang yang sama.

Selain itu pemain kunci yang berhasil mengecoh gua adalah Miranda Tate yang diperankan oleh Marion Cotillard. Rupanya Nolan sudah kepalang jatuh cinta dengan aktingnya dalam film Inception. Sejak gua ngeliat aktingnya bersama Samy Naceri di film Taxi (1,2,3) pun, dan kemudian dalam Inception, bakatnya serasa cair dengan peran-peran yang dia mainkan. Apalagi, di Midnight in Paris Cotillard sangat sukses memerankan karakter Adriana, seorang wanita simpanan Pablo Picasso. Aaargh, ajib lah! Luar biasa. Dan di film ini, ia menjelma menjadi sosok yang terlupakan sebagian besar penonton, sepertinya. Perannya yang “hanya” sebagai pebisnis membuatnya tak pernah diperhitungkan. And in the end…She’s a surpraises!

Semua adegan bener-bener worth en bagus tanpa cela. Walo begitu, scene favorit gua tetep pas kemunculan Batman pertama kali dengan Batpodnya. Adegan pengejarannya yang hampir pasti takkan bisa lolos dari kejaran polisi itu luar biasa keren. Apalagi ketika udah terpojok di jalan yang sudah buntu. Gua amat puas ngeliat wajah Foley yang loser-face abis pas Batman dengan “mainan” barunya kabur di depan matanya, alih-alih terkepung segerombolan besar polisi patroli.

Nolan dengan brilian menyatukan potongan-potongan terpisah kejadian demi kejadian hingga saling terkait satu sama lain. Bagaimana kemunculan Blake yang humble, dari seorang dari petugas patroli (officer) hingga menjadi orang penting di kepolisian (detektif) yang berkomando langsung ke Jim Gordon dan ikut membantu Batman mengalahkan musuh terkuatnya, Bane.

Alurnya sungguh menakjubkan. Mulai dari motif Bane untuk menghancurkan Gotham—yang ternyata tidak lain karena disetir oleh keturunan dari Ra’s Al Ghul untuk balas dendam atas kematian ayahnya—hingga bagaimana Batman melancarkan serangan balik kepada Bane dkk. sampai perang itu berakhir. Logika film yang diterapkan sangat halus dan mengalir tanpa cela. Scene dalam transaksi sidik jari Wayne terhubung sangat apik dengan tertangkapnya Jim Gordon oleh anak buah Bane, yang pada akhirnya menunjukkan pengakuan Gordon kepada warga atas kebohongan kematian Harvey Dent itu. Lalu, Batman (Wayne) dibuat sangat manusiawi dengan derita kekalahannya atas Bane yang kemudian ia bangkit kembali dan muncul lagi dengan jiwa yang baru, yang di dalam scene-nya memberikan kita suatu gambaran bahwa Bane adalah sosok penerus Ra’s al Ghul—dan kita semua ditipu mentah-mentah oleh Nolan!

Rasanya penonton dibuat sulit bernafas dengan adegan demi adegan. Aksi show off Bane di awal cerita membikin geger penonton. Pertunjukkan gilanya di atas pesawat membuat terperangah sampai speechless. Ceritanya masuk ke pikiran dan otak terdalam, seakan kita berada dan mengalaminya sendiri. Dah gitu, musik latarnya menjadi pendukung utama dalam merongrong feel kita di dalam thriller-nya film ini serta membikin kita terbawa dengan suasana yang penuh akan teror. Yang bikin gilanya lagi itu biolanya, cing! It’s time to panic, dude. Wow, sinematografi yang amat keren!

Dan yang bikin kerennya lagi itu endingnya! Ya ampun. Ternyata Nolan memberikan kejutan yang lain. Walau masih tanda tanya, Nolan rupanya ingin memberikan clue kepada kita bahwa ending dari trilogi Batman ini belum benar-benar berakhir! Sepertinya akan ada kisah lanjutan dari kepahlawanan ksatria hitam. Sayangnya setelah credits title ga ada addes scenes yang bisa memberikan clue tambahan untuk sajian kisah lanjutannya seperti—misalnya—dalam The Amazing Spiderman. Wew, we’ll see later, guys.

Terakhir, film ini bukan hanya menyajikan aksi pertarungan para pahwalan atau cerita balas dendam atau bahkan kisah percintaan superhero. Nolan memasukkan nasihat-nasihat yang terasa halus di film ini, hingga kita melihatnya macam trivia saja. Bagaimana Wayne ingin menjadi Batman saja sudah menjadi nilai plus tersendiri karena dibangun dengan kelogisan yang amat make sense. Ditambah dengan pemantik lain, yakni amanat untuk melanjutkan kisah heroiknya kepada “bahu yang lebih muda” menjadikan epos Batman ini sajian yang terlalu amajing, dan, tentunya membawa kita pada dua hal: akan ada pahlawan lain yang menggantikannya, dan di saat yang sama membuat kisah reboot Spiderman dikategorikan hanya sebagai cerita kepahlawanan remaja galau.

Referensi:
imdb.com
Review Inception (Arddhe)
Review The Dark Knight Rises (Ancha Anwar)

Foto-foto:
Galeri Foto IMDb (page 1—3)

Tagged: , , , , , , , , , , , , , ,

§ 10 Responses to The Dark Knight Rises 「Review」

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading The Dark Knight Rises 「Review」 at B e r s a n t a i S e j e n a k . . ..

meta

%d bloggers like this: