Budaya Jogja: Budaya Kearifan

3 December 2012 § 2 Comments

Banyak hal-hal menarik dan inspiratif di Jogja. Ga henti-hentinya gua kegirangan bisa lihat apa itu Jogja dan kehidupannya. Salah satu yang menarik perhatian gua adalah apa yang terjadi pada lalu lintas di sana.

Malu rasanya jika melihat lalu lintas di Jogja. Teratur banget para pengguna jalannya. Berbeda jauh sekali dengan apa yang terjadi di ibu kota. Kalau di Jakarta akan ada rombongan motor yang saling depan-depanan melewati garis pembatas, di sini sama sekali tertib berbaris di belakang garis. Bahkan itu tidak terjadi walaupun kesempatan itu ada! (baca: sepi tidak ada kendaraan dari seberang jalur & tidak ada petugas lalu lintas yang berjaga).

jalur sepeda

jalur sepeda

Jakarta mungkin terkenal dengan bangunan-bangunan tinggi dan berkelas, lagi elit. Bisa dibilang, pembangunan yang seperti itulah yang menjadi … tingkat intelektual manusia. Ibu kota terlalu terpaku pada apa yang disebut dengan “ilmu pengetahuan”. Di Jakarta, ilmu pengetahuan dijadikan satu skill yang harus dimiliki dan digunakan untuk membangun peradaban. Ilmu pengetahuan kemudian menjadi tolak ukur tunggal untuk menilai seberapa hebat seseorang. Ilmu pengetahuan kemudian diejawantahkan menjadi wujud yang lebih praktis dan sederhana yang kita bisa sebut dengan gelar.

Tanpa gelar, orang akan susah dilirik perusahaan. Tanpa gelar, pendapatan seseorang akan berbeda secara signifikan dengan mereka yang memiliki gelar. Gelar menjadi senjata yang ampuh bagi perusahaan maupun seseorang untuk menilai orang lain layak atau tidak untuk bekerja sama dengannya. Maka tidak heran jika banyak sekali orang yang ingin “membeli” gelar tersebut untuk mencapai keinginannya. Gelar yang dimaksud adalah gelar sarjana (strata).

Gua engga tau seberapa tinggi gelar orang-orang di Jogja. Tapi itu jadi engga penting setelah melihat dengan mata kepala gua sendiri bahwa masyarakat Jogja itu tertib! Gua syok, dong. Gua langsung speechless gitu. Kok engga ada yang mau lewat sih walo dari arah seberang engga ada kendaraan sama sekali. Malu dong gua, yegak?

DSC_0575

Ga cuma itu, ada lagi yang lain. Lu pastinya tau dong Malioboro? Jalan yang paling terkenal di Jogja dan menjadi ikon di sana. Satu hal yang baru gua tau, Malioboro itu jalan satu arah. Di kiri-kanannya terdapat area pejalan kaki (trotoar) semacam pedestrian gitu. Yang wownya itu, lebar jalannya itu hampir sama dengan lebar pedestrian itu. Dan yang paling wownya adalah hampir ga ada sampah di area itu. Wow banget ga sih!

Berharap sebentar lagi Jakarta bisa seperti Jogja…

Tagged: , , ,

§ 2 Responses to Budaya Jogja: Budaya Kearifan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Budaya Jogja: Budaya Kearifan at B e r s a n t a i S e j e n a k . . ..

meta

%d bloggers like this: