Fasilitas Umum yang Privat

4 February 2013 § 2 Comments

Weekend yang lalu gua jalan sama Lia ke Epic, niatnya mau foto-foto. View-nya emang bagus banget, apalagi tamannya…beuh keren pisan! Baru satu-dua jepretan (dan itu hasilnya rada ngeblur) aja tau-tau ada petugas yang nyamperin dan bilang kalo, “Foto-foto di daerah sini ga boleh, Mas. Harus punya izin dulu.”

Gua bengong, ga ngerti.

“Hah? Kudu izin? Maksudnya?”

“Iya, kalo mau foto-foto di sini harus ada surat izinnya. Kayak gini,” katanya sambil ngeluarin kertas yang intinya adalah permohonan perizinan untuk foto-foto. “Nanti kalo ga ada surat ini, saya bisa ditegur bos.”

“Eh, gitu ya?” Gua kaku jadinya, bingung mau ngapain. Mau nanya or komplen aja sekip. Jadilah gua ga ngapa-ngapain selain pergi yang jauuuh dari itu tempat. Ngeselibn kalo dipikirin.

Sebenernya sih ga ada yang salah. Oke, bisa aja gua yang salah. Tapi, in fact, itu kan taman umum. Masa sih ga boleh buat foto-foto. Emangnya ini sevel!

Paling engga, di area taman itu ditempelin informasi soal “DILARANG FOTO-FOTO!” yang besar-besar, jadi orang awam kayak gua bisa tau en ‘ngeh lebih cepet. Ini gua seolah-olah kayak orang salah (dalam arti kata ke-gap berbuat onar) di tempat umum. Kan ga etis kalo ga ada aturannya.

Ternyata di situ ga cuma gua yang foto-foto. Ada yang lain. Ha, kena juga tuh dia. Petugasnya nyamperin orang itu dan ternyata…ga diapa-apain. Petugasnya balik lagi ke arah gua dan bilang, “Kalo kamera saku atau kamera ponsel masih diperbolehkan, Mas. Ga masalah. Tapi kalo yang gede (SLR) itu baru harus ada izinnya.”

Nah, ketahuan kalo ujung pangkal problemnya itu masalah komersil!

Anyway, ini cuma analisis gua aja. SLR kan bisa dibilang hasil fotonya bagus, dan foto bagus itu biasanya bisa dijual. Misal: foto untuk modeling, foto untuk fotografer pro, atau untuk keperluan jurnalistik. Itu semua kan berbau uang, dan uang ga jauh-jauh sama retribusi (pajak dari uang tersebut). Dan itulah, sepertinya pihak sana (atasannya ya, bukan bawahan yang hanya ikut komando) ingin membuat sebuah policy yang menguntungkan baginya karena bisa jadi spot-spot seperti ini layak untuk dihargai dengan sesuatu yang bernilai (uang, misalnya).

Mungkin ini cuma gua sendiri aja yang baru tau kalo mau foto-foto pake kamera SLR itu harus ada izinnya. Di mana pun. Padahal kan gua ga ada maksud dan hanya sebagai orang biasa. Temen-temen ga mungkin kan belom pernah foto-foto di tempat umum pake kamera SLR? Pastinya tau gimana langkah-langkah yang emang wajar dalam dunia permotret-motretan. Emang wajar ya, kayak gitu?:mrgreen:

Tagged: , ,

§ 2 Responses to Fasilitas Umum yang Privat

  • ariohendra says:

    dikiranya fotografer pro mas, hehe oya itu emang nya tamannya ada apanya kok ga boleh moto sembarangan, ada hantunya kali ya

    • ibnumarogi says:

      Iya, mungkin. SLR kan identik dengan fotografer pro. Tamannya sih ga ada yang spesial. Cuma emang terlihat good looking. Itu aja.
      Ahahahahaha siang-siang ada hantu. Ngeri banget itu:mrgreen:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Fasilitas Umum yang Privat at B e r s a n t a i S e j e n a k . . ..

meta

%d bloggers like this: