Tarif Parkir Naik!

6 February 2013 § Leave a comment

Asem! Tarif parkir naik. Kenaikan ini sebenernya udah diumumin pas bulan Oktober tahun lalu (warkot, 5/2/13). Dikatakan Ketua Mall, kenaikan itu juga karena adanya kenaikan operasional. Itu mencakup jasa pelayanan keamanan, kebersihan pajek bumi en bangunan, juga listrik. Otomatis tarif parkir juga naik. Hmm..logikanya sih masuk ya.

Trus, dikatakan Ahok, naiknya tarif parkir ini untuk mengurangi penggunaan mobil pribadi oleh masyarakat. Logikanya lagi seperti ini: masyarakat yang tidak setuju kenaikan ini akan berpikir ulang untuk menggunakan mobil/motornya…dan kapok make kendaran pribadi karena biaya parkirnya mahal. Alhasil, mereka beralih ke kendaraan umum.

Selain itu, kenaikan ini juga berdampak pada naiknya pendapatan pemerintah daerah dari sektor pajak. Dengan bertambahnya bea titip kendaraan, retribusi atas parkir itu juga akan bertambah. Dan yeah, pemasukan pemda juga naik. Untung!

Logis, ya. Pemda ada untuk mengatur masyarakatnya, memudahkan, serta memberikan kenyamanan terhadap pelayanan umum di daerahnya. Kebijakan ada untuk menyejahterakan. Kalo pemda emang fokus sama pelayanan, seharusnya mereka berpikir gimana caranya menarik masyarakat untuk beralih menggunakan angkutan umum. Selain itu,  pemda juga sebaiknya meningkatkan kualitas maupun kuantitas alat transportasi massal terlebih dahulu. Sehingga, saat nanti warga beralih menggunakan angkutan umum, jumlah armadanya pun sudah  sesuai dengan kebutuhan.

Lha ini terbalik. Dengan alasan “masyarakat akan merasakan beratnya biaya parkir yang tinggi terutama selama jam kerja” pemda dengan entengnya menaikkan tarif parkir yang udah berat itu. Ahok juga beralasan bahwa, “…meski mahal, pengunjung mal tetap berdatangan.” Sesungguhnya, Pak Ahok, orang-orang macam itu terpaksa untuk tetep make kendaraan  Tindakan pemaksaan seperti itu bahkan malah memperumit permasalahan.

Parkir Liar
Jelas persoalan ini bakal micu pro-kontra. Akan ada yang menolak. Mereka yang menolak bisa aja melawan. Bahkan masuk akal kalo mereka malah “menitipkan” kendaraannya di tempat parkir liar. Ini akan menimbulkan persoalan baru karena biasanya parkir liar berada di bahu jalan—yang mana akan melipatgandakan kemacetan yang sudah over di jalan-jalan tersebut.

FYI aja, dulu parkir termasuk pelayanan yang gratis. Parkir gratis masih gandrung banget. Sekarang di beberapa tempat masih ada yang mencoba gratis (kerfur deket Sandra misalnya). Nah, ada juga tempat-tempat yang gratis parkir tapi kalah dengan yang engga resmi, merekalah yang ambil parkiran—yah, kalo ga mau dibilang menguasai. Bahkan dulu di pom bengsin, indomaret, alfamart, dan minimarket yang ada di kampung-kampung juga gratis. Tapi begitulah kenyataannya, sekarang bayar tanpa karcis. Dikelola siapa, entahlah.

Efek Domino
Persoalan ini sebenarnya kembali pada pelayanan transportasi yang layak. Berkaca pada kedisiplinan para sopir angkot, gua ga ngeliat ada perubahan ke arah yang baik. Sejujurnya sampe saat ini belum. Belum patuhnya mereka dalam menaikkan dan menurunkan penumpang di halte bisa jadi indikatornya. Tidak jarang hal itu mengganggu kelancaran arus kendaraan yang melintasi jalan itu. Belum lagi jika melihat masih solidnya kelakuan mereka ngetem. Ga di sembarang tempat aja, di mana pun itu ngetem adalah pelanggaran. Parahnya, udah tau lagi macet, bisa-bisanya mereka ngetem di depan lampu merah. Setres abis! Namun begitu, patut diapresiasi penggunaan seragam para awak yang sepertinya sudah ditaati. Itu langkah yang bagus.

Hal lain adalah keadaan bus-bus yang udah lanjut usia. Buset, selaen mesinnya udah pada ngos-ngosan, material kap serta kursi dan yang lainnya juga ga kalah butut. Regenerasi (bener ga sih sitilahnya?) yang ada cuman moles kulit luarnya aja. Bebedakan doang demlpon, listik doang menor…tapi tenaga kaga grengg! Gagal emisi pulak! Jika dua hal ini diberesin, seengganya ada harapan buat pemda ngebikin Jakarta jadi kota yang aman dan nyaman.

*Dan satu lagi, keamanan! Ga aman banget tau kalo naek kendaraan umum, apalagi jalan kaki…apalagilagi jalan malem-malem. Wuidiih, ngeri abis!

Dari sudut pandang gua sendiri, jelas kenaikan tarif ini sangat memberatkan. Tapi bukan itu, gua ngeliat dari orang-orang yang kerjaannya ada pada keluar-masuk tempat parkir. Itu jauh lebih parah. Menurut gua, hal yang memaksa seperti ini akan sulit dilakukan en bahkan bakal ada “perlawanan” yang sengit dari masyarakat. Entah itu dengan “mengakali” aturan parkir tersebut, atau bahkan memarkir kendaraannya di tempat parkir liar yang tarifnya bisa lebih murah. (kecuali sevel, apalagi daerah Kemang)

Akhir kata, GUA KAGA SETUJU TARIF PARKIR NAEKKKK!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Tarif Parkir Naik! at B e r s a n t a i S e j e n a k . . ..

meta

%d bloggers like this: