Seniman dan Disiplin

9 February 2013 § Leave a comment

Ada yang bilang “Jurnalis itu setengah tentara, setengah seniman. Ia harus punya disiplin, tapi harus kreatif juga.”

Dengan pemahaman pragmatik yang gua punya, bisa dimaknai bahwa tentara itu identik dengan disiplin dan seniman identik dengan kreatif. Pernyataan yang definitif-analogis (in my ngasal opinion) seperti ini memang tidak mengarah pada pengertian yang kontradiktif—bahwa tentara engga kreatif dan seniman itu engga disiplin. Tetapi jika ditelusuri dan diteliti lebih jauh atas pemaknaan statement di atas secara sosiologis, maka dapat dinyatakan bahwa seniman cenderung memiliki sifat yang kurang disiplin dan tak beraturan.

Faktor Sosial
Chairil Anwar adalah penyair yang dikenal sebagai seniman yang urakan. (Kalo misal contoh gua kurang aktual, ya bisa lah ya kalian bayangin seniman-seniman lain yang tak-teratur serta kacau hidupnya). Selain itu, ia tak sampai pada tahap kelulusan dalam jenjang pendidikannya. Selain Chairil, masih banyak sekali nama-nama seniman di dunia yang hidupnya bertendensi untuk berlaku tidak disiplin. Di sini ada kesamaan dalam kondisi yang mereka lalui dalam hidup: ketidakteraturan. Rupanya, hal inilah yang mendasari masyarakat yang akhirnya menggeneralisasi pengertian “seniman” sebagai orang yang kurang identik dengan kedisiplinan dan keteraturan.

Merupakan sebuah kekeliruan besar jika seniman dijauhkan dari sikap disiplin. Kekeliruan pandangan masyarakat terhadap seniman yang awut-awutan dan semau gue adalah akibat salah kaprah mereka terhadap seniman-seniman yang telah hidup di waktu yang lalu. Banyaknya seniman yang hidup dalam ketidakaturan dan ketidaktentuan adalah satu faktor sosiologis, yakni suatu kondisi yang memang mereka hadapi di zamannya.

Para seniman-seniman besar ini pada hakikatnya tidak membentuk kesemrawutan itu sebagai pola hidup atau bahkan sekadar terpatri dalam niat, hal itu melainkan reaksi atas apa yang terjadi terhadap dirinya. Padahal, seorang seniman haruslah memiliki sikap disiplin dalam proses menciptakan karyanya. Hal itu terkait proses pencapaian visi dan komitmen atas gol yang ingin diraih. Toh, Mozzart, H.C. Andersen, dan beberapa seniman lain hidup dalam keteraturan serta disiplin yang tak kalah dari tentara. Tak masuk akal karya-ciptanya bernilai tinggi jika dirinya tak memiliki kedisiplinan yang tinggi.

Epigon Artifisial
Bagi masyarakat mapan, seniman dipandang sebagai dua muka koin, yakni pencipta karya hebat sekaligus  sampel orang yang ga jelas juntrungnya. Tetapi bagi kalangan muda, seniman adalah sosok cerminan teladan yang dianggap keren untuk diikuti. Praktis, peniruan-peniruan fisik dari kehidupan seniman pun kerap hanya sebatas tampilan (artifisial) saja.

Banyak masyarakat muda yang akhirnya terjerumus dalam pengertian dangkal tersebut untuk mengeksistensikan diri. Maka, muncullah kesan fisik seniman yang ngawur serta adanya karya-karya epigon yang nilainya tidak sebanding dengan kebanggaan yang kalap. Akibatnya, tujuan utama yang seharusnya dicapai (karya), justru sama sekali terabai oleh silaunya “kekerenan” pencitraan diri.

Re-definisi
Oleh karena itu, gua setuju banget sama Radhar Panca Dahana dalam artikelnya di Kompas Minggu beberapa waktu lalu, bahwa perlu pemaknaan ulang atas kosakata seniman yang kini dibelokkan ke arah yang kurang baik. Hal ini juga berkaitan dengan para seniman yang ingin membuat satu organisasi dalam membangun kekuatan sastra di Indonesia. Semoga gol yang ingin dicapai terlampaui sesegera mungkin. : )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Seniman dan Disiplin at B e r s a n t a i S e j e n a k . . ..

meta

%d bloggers like this: