Sang Twentiwan

21 April 2013 § Leave a comment

Tersebutlah sebuah bangsa besar yang malang nasibnya, dirundung dukana. Bangsanya dijajah sedemikian rupa sehingga kecutlah mentalnya. Kehidupan rakyatnya sungguh memprihatinkan, berbanding kutub dengan penjajahnya yang bermandikan harta. Tidak ada manusia dari bangsa itu yang berkecukupan hidupnya, kecuali bertaut-paut dengan pemerintahan sang penjajah durjana.

Di akhir abad ke-19, ada kejadian biasa di tempat yang biasa pula. Seorang pamong praja menikah lagi demi memenuhi syarat atas kekuasaan yang ingin diembannya. “Bupati harus lelaki yang beristerikan seorang bangsawan,” mungkin begitu bunyinya. Jika sudah memiliki istri tapi bukanlah seorang bangsawan, maka halal baginya menikah lagi. Pun jikalau hukum yang dibawa penjajah melarang masyarakat untuk memiliki lebih dari satu istri ditegakkan, gundik ada sebagai solusinya. Kebiasaan yang ditularkan oleh bangsa penjajah ini ditiru-bulat, entah dengan paksaan atau dengan kerelaan, di dalam kehidupan para pembesar. Namun begitu, memiliki “istri tanpa memperistri” kiranya telah ada dalam budaya bangsa ini, setidaknya dalam kerajaan-kerajaan di masa lalu. Di kerajaan manapun sama adanya.

Sang pamong praja itu sudah beristri. Sudah beranak pula. Anaknya pun tidak sedikit, tetapi tidak kebanyakan pula. Cukuplah jumlahnya. Anaknya cantik-cantik, ganteng-ganteng. Mereka disekolahkan, mereka diajari pengetahuan supaya pandai. Mereka belajar dengan cara yang sama dengan anak para penjajah.

Seperti sudah adatnya, lelaki dan perempuan punya masa dewasanya masing-masing. Dalam umur sekian tahun, sang lelaki atau perempuan sudah bisa berkawin dengan lain jenisnya. Perempuan dalam hal ini dapat dipingit setelah menginjak usia 12 tahun. Sang anak ini, setelah berkawan dengan sekolahnya, harus puas belajar sendiri di rumahnya karena sudah masuk umurnya.

Meski begitu, sang anak senang-senang saja. Toh, itu sudah ketentuannya. Sudah ada turun-temurun dalam budayanya. Bukankah memang seperti itu? Apa ada pilihan? Sepertinya ia belumlah terbersit tentang itu. Kelak ia akan tahu kebenaran setelah melongok ke jendela kamarnya bahwa dunia tak sekecil Pulau Jawa.

Sang anak cerdas otaknya. Bahasa Belandanya pun jago. Ia sering bertukar kabar dan pikiran dengan kawannya di seberang lautan. Surat-suratnya berlayar melintasi perbedaan geografis dan peradaban. Perlahan pikirannya menemukan semacam pencerahan. Menemukan gagasan.

Ia makin tajam pikirannya soal bangsanya, soal keadilan. Pandangannya sudah lebih luas dari Pulau Jawa. Pikirnya, bangsanya belumlah semaju bangsa sang penjajah. Dalam pandangannya, bangsanya belumlah punya pemahaman soal hak-hak perempuan seperti orang-orang di negeri asal penjajah sana. Dambaannya adalah kehidupan yang ada di jauh pandangan sana, jauh dalam olah pikirnya.

Ingin sekali ia menjadi satu dari kaum muda penjajah itu. Tergambar jelas dalam otaknya penderitaan perempuan Jawa akibat kungkungan adat: tidak bisa bebas duduk di bangku sekolah, harus dipingit, dinikahkan dengan laki-laki yang tak dikenal, dan harus bersedia dimadu. Sungguh adat yang sudah tertinggal dari budaya penjajah, pikirnya.

Sang anak menikah dengan pamong praja di lain wilayah.  Walau ia menjadi istri ke-4, ia senang-senang saja. Ya, senang-senang saja. Setidaknya ia tak sampai membuat suatu kegaduhan hingga sejarah merekamnya sebagai istri durhaka. Lagipula buat apa bersusah-susah seperti itu? Toh ini sudah ketentuannya, ini sudah menjadi garis tangan seorang perempuan di tanah kelahirannya. Siapa peduli perubahan? Pada akhirnya, ia menganggap pernikahan akan membawa keuntungan tersendiri dalam mewujudkan keinginan mendirikan sekolah bagi para perempuan.

Benar saja, status barunya tak membuatnya terpenjara dalam rumah. Ia bebas-bebas saja berlaku sesukanya. Ia bahkan diberi kebebasan dan dukungan untuk mendirikan sekolah wanita. Wanita karier belumlah ada, tetapi wanita pelopor mungkin cocok untuk sebutannya.

Sayang, umurnya tak seteguh pendiriannya. Sepuluh bulan setelah pernikahannya—empat hari setelah kelahiran anaknya—ia wafat. Sungguh ironi yang tak perlu terjadi. Gagasan-gagasannya untuk memperjuangkan hak-hak perempuan pupus sudah saat itu. Tidak terlihat lagi sosok yang dapat menggantikan aksinya. Bangsa itu kemudian terpekur dalam penjajahannya.

Sekarang, di hari-hari ini, tidak perlu lagi ada perempuan yang senasib dengannya. Manusia bangsa itu sudah larut dalam keadilan yang diyakininya. Perempuan di masa lalu itu menjadi perlambang perempuan hebat, perempuan yang mengubah arah nasib kaumnya. Setidaknya seperti itulah sejarah merekamnya.

Ia sekarang adalah perempuan (atau wanita?) idola bangsa. Di abad twentiwan ini, hari lahirnya sudah menjadi pengingat bangsa bahwa perempuan harus dihormati dan dijunjung oleh manusia (lelaki). Bagai lingga-yoni, mereka adalah satu-kesatuan dalam mengukir peradaban di dunia ini.

Tagged:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Sang Twentiwan at B e r s a n t a i S e j e n a k . . ..

meta

%d bloggers like this: