Iron Man 3 「Review Film」

5 May 2013 § Leave a comment

Iron Man TigaTitle : Iron Man 3
Category : Movie
Genre : Action | Adventure | Sci-Fi (Seharusnya ada pula genre Drama-nya)
Duration : 130 min
Year : 2013
Director: Shane Black
Writers:  Drew Pearce (screenplay), Shane Black (screenplay),  4 more credits
Stars:  Robert Downey Jr.Gwyneth PaltrowGuy Pearce
Info : http://www.imdb.com/title/tt1300854/

Kadang gua—setelah menonton pilem keren—ngerasa gua adalah salah satu dari karakter itu. Begitu pula saat menonton pilem superhero. Ada perasaan yang mengekspresikan diri bhwa kita adalah manusia super itu. Itulah delusionis. Itulah yang gua rasain setelah nonton film ini: gua adalah seorang Iron Man!

Iron Man kali ini berbeda. Kali ini kisahnya lebih pribadi tentang curhatan Tony Stark, berbeda dengan dua film sebelumnya yang rada nguniversal. Kali ini sang sutradara bukan lagi Jon Favreau (yang juga berperan sebagai kepala keamanan bernama Happy), melainkan Shane Black. Kali ini berbeda, ada sebuah peningkatan besar dalam teknologi Iron Man, yakni pengendali-Iron-Man-tanpa-awak. Kali ini juga berbeda dalam hal kekuatan musuhnya, bukan lagi seperti dua film sebelumnya yang menggunakan Iron Man pula, melainkan Extremis, unsur lain dalam sains-biologi: pengendalian otak manusia dan penumbuh badan ekstra-cepat. Dan memang, kali ini Iron Man berbeda sekali kemajuan teknologinya.

Musuh Iron Man kali ini adalah hasil penciptaan proyek yang disebut dengan Extremis. Wujudnya adalah manusia super yang sulit merasakan kesakitan dalam tubuhnya. Extremis merupakan virus organik yang menulis ulang kode genetik tubuh. Ia menggantikan seluruh organ membuat mereka lebih efisien. Virus ini juga memberikan tubuh semacam faktor penyembuhan. Extremis memberikan kekuatan manusia super, kecepatan, daya tahan, refleks, dan kemampuan untuk memicu adanya listrik kejut,  juga napas api dari mulutnya.

Semua itu diwujudkan dalam ancaman seorang teroris bernama Mandarin. Ia mengaku bertanggung jawab atas kejadian-kejadian keji yang terjadi di seluruh belahan dunia. Hal yang menarik sesungguhnya karakter Mandarin tersebut sebenarnya kosong. Adalah Adrich Killian yang mendalangi semua tindakan Mandarin. Ia membuat proyek ini untuk menghancurkan dunia untuk kemudian menguasainya.

Tony

Ada dua premis yang gua tangkep dari sekuel kedua dari Iron Man ini. Pertama, yang menciptakan iblis (musuh) sesungguhnya diri kita sendiri. Segala hal yang telah terjadi di masa lalu niscaya bermuara di masa depan. Hal-hal sederhana, sesuatu yang gak kita ‘ngeh, dan “gangguan kecil” yang disepelekan ternyata dapat menjadi bom waktu yang bisa meledak setiap saat. Tony Stark menyadari itu; dia menciptakan musuh besarnya yang tak pernah dibayangkan.

Kedua, keputusasaan membuahkan mahakarya. Transformasi yang terjadi pada Aldrich Killian dari seorang ilmuwan menjadi seorang maniak (gila) disebabkan oleh tindakan Stark yang mengabaikan ajakannya. Ia tenggelam dalam keputusasaannya menunggu Stark di rooftop saat malam tahun baru. Ilmuwan yang tadinya berpenampilan “nerd” kemudian berubah menjadi eksmud ganteng (plis, ganti istilah ini dengan yang lebih catchy!), kalo diibaratkan kayak karakter dalam film Batman & Robin, yakni Dr. Pamela Isley yang kutubukuan menjelma menjadi Poison Ivy yang charming.

Guy Pierce yang memerankannya bermain aman. Terornya cukup lah. Sebelas-duabelas sih dengan karakter yang ia mainin di Lawless. Meski nggak banyak aksi yang menunjukkan ia kejam, sikapnya yang dingin bisa ngebangkitin kegelapan hatinya. Over all, dibandingin Joker en Bane di triloginya Nolan, tetep belom bisa nyamain sih.

Iron Man Tiga

Gwyneth Paltrow yang meranin pacarnya Stark kali ini memiliki peran yang vital, beda dari sekuel sebelumnya yang diplot sebagai peran pendukung saja. Pepper Potts tak lagi dikesankan sebagai “beban”nya, melainkan motivasi sang manusia besi. Stark siang-malam melakukan eksperimen-eksperimen berbahaya pada dirinya dan besi-besinya tak lain untuk melindungi Potts dari gangguan yang kian mengancam. Gwyneth Paltrow kali ini lebih baik aktingnya. Ga cuma jadi  pacar yang kudu dilindungin, tapi juga jadi cewek yang mengejutkan Stark di akhir scene. (Dan pertanyaan besarnya: Kenapa dia munculnya di akhir-akhir banget ya, kenapa ga beberapa saat setelah ia jatuh di kobaran api itu trus nongol bantuin Stark? Kenapa? Kenapa?)

Dan yang paling gilak memang si Don Juan Tony Stark. God Damn you, Downey Jr.! Gua selalu suka gayanya yang tak acuh lagi angkuh itu. Gak basi! Kejeniusan yang pernah ditampilkan saat merakit Iron man pertama kali di Gua Afghanistan itu ditunjukkan kembali saat rumahnya dibumihanguskan hingga ia kemudian berada di Tennessee. Ia mencari informasi mengenai salah seorang prajurit yang dikabarkan bunuh diri untuk mengetahui titik lemah musuhnya. Dan BLAM! jadilah sekompi Iron Man yang memiliki daya tempur yang berbeda untuk mengalahkan makhluk aneh bernapas api itu.

Malibu

Gua pikir plot yang ngalir gitu aja tanpa pakem-pakem yang biasa dan banyaknya twist di film ini bikin ceritanya makin seru (termasuk extra scene yang gua lewatin di akhir credit title!!!). Salah satu yang gua suka sih saat pertarungan Iron Man berkode Mark-42 dengan si Extremis botak di pesawat Air Force. Ternyata eh ternyata itu Iron Man tanpa awak. Ga nyadar gua..

Well, over all… Ini pilem ga sewow-amazing The Dark Knight Rises, tapi sangat cukup untuk disebut sebagai good movie. Mungkin itu karena karakter Tony Stark yang begitu hidup ya.

argo

Tagged: , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Iron Man 3 「Review Film」 at B e r s a n t a i S e j e n a k . . ..

meta

%d bloggers like this: