Mimpi untuk Kota Depok—1

24 October 2013 § Leave a comment

Keren banget tajuk tulisan di Kompas tentang wacana tata kota Depok: Mau di bawa ke mana Masa Depan Kota Depok?

*****

Konsep Kota Depok Kini
Depok awalnya bukan apa-apa. Dulunya Depok bagian dari Kabupaten Bogor. Ga ada tuh Depok di dalam konsep Megapolitan Jabotabek. Sekarang-sekarang ini aja ada sisipan -de- di dalam istilah Jabodetabek. Setelah bareng-bareng sama wilayah lain ikut program pemekaran pada tahun 1999, jadilah Depok menjadi Kota Administratif di Provinsi Jawa Barat.

Depok dulunya ga ada apa-apa—lon punya Jalan Margonda yang segede arteri kayak sekarang, lon punya banyak Mall yang bikin macet lalu lintas, lon digandrungi sebagai kota perguruan tinggi (cuman UI en Gundar aja sih), lon punya hunian vertikal mewah macam Margonda Residence (Cempaka Group), Park View (Lippo Karawaci), Taman Melati Margonda (Adhi Realty), dan Saladdin Mansion (Wangsa Dharma Properti). Sekarang udah punya syarat-syarat sebagai kota besar.

Depok punya populasi yang gede bener sekarang. Penuh. Tumpah ruah orang-orang di pusat kota. Jalan di Depok penuh dengan kendaraan bermotor (Ya trus kalo bukan kendaraan bermotor, apa dong? Andong?).

Namun begitu, kebesaran kota Depok masih berada di bawah bayang-bayang ibu kota. Jakarta yang dianggap sebagai kota megapolitan belumlah dapat disandingkan setara dengan Anak Remaja ini (umurnye baru 14 tahun, bok!). Depok hanyalah kota penyangga.

Setiap harinya, pagi-pagi di hari kerja, kita akan melihat manusia berbondong-bondong/berjejal/berimpit-impitan di jalan Margonda arah Lenteng Agung demi mencapai kantornya. Seringgit tigaribumaratus rupiah (ungkapan anyarnya setali tiga uang), pepesan manusia juga terlihat di Commuter Line yang melewati Stasiun Universitas Pancasila. Iya, isinya manusia semua.

Artinya, Depok belum bisa mandiri sebagai sebuah kota yang harus menghidupi dirinya sendiri sekaligus mengakomodasi kebutuhan masyarakatnya. Depok hanya bisa menjadi kota figuran yang menampung sekian ratus ribu pekerja yang punya mata pencaharian di ibu kota. Segala usaha komersial dan komoditas yang berada di Depok tidak lain hanya hasil turunan dari lingkaran besar bisnis yang berpusat di Jakarta. Depok tidak lain sebagai suatu kota “cadangan” yang memiliki modal besar untuk dikembangkan di kemudian hari. Salah satu modal yang paling kentara adalah dunia pendidikan: UI.

Di sisi lain kotamadya yang dijadikan kota penyangga ibu kota itu, Depok punya salah satu Perguruan Tinggi terbesar dan terpopuler di negara ini. Ini adalah poin plus-plus sekaligus sebagai bargaining power dari sebuah kota yang memiliki otonomi daerah di bawah komando Pemprov. Depok memiliki aset penting yang dapat mengembangkan dirinya ke arah yang jauh berbeda dari bentuknya yang sekarang ini…well said… tak-berbentuk.

Siapa sih yang engga kenal Universitas Indonesia (UI)? Logikanya, Depok punya aset pencipta orang-orang hebat. Depok punya UI yang bisa bantu numbangin Orba. Fakta yang ga bisa dinafikan adalah tersedianya banyak periset dan dosen andal. UI semestinya bisa menghasilkan konsep brilian untuk membangun Depok menjadi kota yang modern dan mandiri.

…Inilah yang sampai sekarang belum terlihat untuk disadari.

Depok hingga kini belum ada blueprint tentang bagaimana dan mau dibawa ke mana arah masa depan kota ini dituju. Perlu visi yang jelas dan terarah dalam masterplan (semacam Repelita-nya Orba) dari pejabat pemkot kini.

Tagged: , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Mimpi untuk Kota Depok—1 at B e r s a n t a i S e j e n a k . . ..

meta

%d bloggers like this: