Pemuda di Persimpangan Zaman

28 October 2013 § Leave a comment

Ilustrasi: Pemuda

Pagi ini, harian Kompas mengumumkan hasil jajak pendapat mengenai tingkat kepedulian pemuda pada persoalan masyarakat. Momentum Sumpah Pemuda dianggap momen yang tepat guna menilai seberapa besar kontribusi yang diperlihatkan calon pemimpin Indonesia terhadap persoalan bangsa. Hasilnya, sebagian besar responden menganggap pemuda Indonesia berada di persimpangan jalan: tidak menjadi aktor perubahan ataupun terbawa arus zaman hedon.

Tajuknya: Pemuda Indonesia dianggap tidak memiliki kepedulian apa yang terjadi di tanah air! Menurut peraturan dari pemerintah—entah peraturan yang mana—pemuda adalah warga negara Indonesia yang berusia 15—30 tahun. Merekalah yang secara khusus disoroti dalam proses memajukan bangsa. Secara khusus pula publik menilai bahwa peran pemuda dianggap belum memadai dalam menyelesaikan masalah di sejumlah bidang. Pun dalam mengamalkan Pancasila sebagai ideologi negara, pemuda dinilai tidak ikut ambil bagian dalam mewujudkan butir-butir sila di masyarakat. Selain itu, ditemukan fakta pula bahwa kurang dari 10% responden dari kalangan pemuda yang dapat menyebutkan isi Sumpah Pemuda dengan benar. Aih!

Kita bisa saja dengan landang menyalahkan para pemuda atas ketidakberesan yang terjadi. Kompas sedikit-banyak telah menunjukkan hal tersebut. Peristiwa penyiraman air keras siswa STM di bus dan adegan mesum siswa SMP yang ditonton kawan-kawannya menjadi bukti dari kelakuan abnormal para pemuda. Faktanya—suka atau tidak suka—pemuda Indonesia masih dianggap tidak becus mengurusi bangsa dan negara! Pemuda Indonesia hari ini dinilai masih jauh kualitasnya dengan pemuda masa Sumpah Pemuda.

Analogi Zaman
Zaman memang berbeda. Dulu pada usia 25 tahun Bung Karno sudah melahirkan pikiran-pikiran visioner untuk menyintesiskan antara “Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme”, yang menjadi modal dari dasar negara kita. Pada usia 26 tahun, Bung Hatta telah memikirkan dasar-dasar “Indonesia Merdeka” (Indonesia Vrije). Pada usia 25 tahun pun Muhammad Yamin telah menyodorkan gagasan “Persatuan dan Kebangsaan Indonesia”. Pikiran-pikiran yang mendahului zaman tersebut telah ada dari para pemuda di tanah Nusantara yang secara besar-besaran memengaruhi rakyat Indonesia.

Sukarno, Hatta, dan Yamin merupakan sedikit dari buah manis penjajahan Belanda. Tidak berupa benih kecambah yang berbuah toge di keesokan harinya, the founding father lahir secara amat perlahan, bertahun-tahun, bahkan memakan waktu yang begitu lama. Represi yang dilakukan kompeni terhadap Nusantara sejak Restorasi Meiji dimulai itu mulai membuahkan hasil beratus-ratus tahun kemudian ketika pribumi mulai memikirkan lebih daripada dirinya, lebih jauh lagi adalah memikirkan bangsanya. Kita dapat melihat hasilnya dalam sosok Tirto Adhi Soerjo. Atau Minke.

…itu dulu, beratus-ratus tahun setelah penjajahan Londo dimulai.

Ada proses yang panjang, sejak dari kita masih berupa secuil benih menjadi bonggolan entitas yang siap dipanen. Sekali lagi, a-d-a | p-r-o-s-e-s | y-a-n-g | p-a-n-j-a-n-g. Kita dapat menganggap masa kini adalah titik kecil di mana proses awal dalam menanam benih. Kita hari ini bukanlah produk dari pohon bernama “Indonesia” yang siap makan, melainkan calon buah “pemimpin” yang belum dan/atau hampir matang. Waktu panen akan memakan waktu yang tidak sedikit. Maka, yang diperlukan hanyalah waktu dan kesempatan yang sebesar-besarnya.

Analogi Pengasuhan Anak
Anak manusia sejak masa kelahirannya adalah mamalia terlemah di dunia. Perlu adanya bimbingan dan pengasuhan yang intens demi membentuk pola pikir dan hidupnya. Tidak mungkin manusia dapat berkembang dan hidup tanpa ketergantungan makhluk (manusia) lain karena mereka adalah makhluk sosial.

Anak ditumbuhkembangkan dengan replikasi dan repetisi. Sudah menjadi dasar karakternya manusia meniru dan mengulangi perilaku yang diketahuinya. Lingkungan tempat ia tinggal adalah sumber replikasi dan repetisi yang membentuk karakter. Lingkungan yang dimaksud adalah keluarga, tempat tinggal, pendidikan, kawan main, dan yang paling dominan dari itu semua adalah peran orang tua. Jadi, apapun yang berkaitan dengan aktivitas sang anak, hal itu pasti dipengaruhi oleh lingkungannya, terutama orang tuanya yang bertanggung jawab atas diri anak tersebut.

Pemuda Indonesia adalah perwujudan besar dari anak manusia yang tak berdaya jika tanpa pengasuhan Ibu Pertiwi. Karakter pemuda Indonesia pun adalah hasil dari pengaruh masa kecilnya, lingkungannya, dan orang tuanya—dalam hal ini pemimpin bangsa Indonesia. Mereka itulah yang sejatinya menjadi biang kerok dari ketidakbagusan yang dialami para pemuda.

Keburukan anak adalah tanggung jawab orang tua. Segala perbuatan, baik maupun buruk dari anak adalah hasil yang dituai para orang tua. Maka, jika ada pemuda yang abai bahkan membelakangi Pancasila, itu adalah dosa Para Pemimpin kita.

Pertanyaan kita sekarang adalah,
Apakah pemuda yang membuat sistem pendidikan formal yang menjadikan para siswa harus mendapatkan “sesuatu” dari jalan yang menyimpang sehingga memupuk bibit-bibit koruptor dalam dirinya?

Apakah pemuda yang menjadi perancang tontonan kacau-balau yang dikerjakan hanya demi rating televisi tanpa memikirkan apakah sudah mendidik atau belum?

Apakah pemuda yang mengajarkan pendidikan politik culas yang membuat pemuda alergi mendengar kata kata “politik”?

Apakah pemuda yang menandatangani kesepakatan penambangan emas di Papua yang makmurkan perusahaan (bangsa) asing, menghancurkan tanah indah Papua, dan di sisi lainnya menyengsarakan penduduk setempat tanpa adanya kemakmuran yang sebanding?

Apakah pemuda yang menyetujui pengerukan besar-besaran tambang batubara di kalimantan sehingga kebutuhan listrik negara lain tercukupi, alih-alih menerangi daerah-daerah terpencil yang sampai sekarang belum tersentuh listrik? Dan bahkan pulau-pulau besar kita sering terkena pemadaman listrik?

Apakah pemuda yang menjadi penegak hukum sehingga banyak kasus sepele dihukum berat dan kasus besar dihukum ringan?

________
Artikel Terkait: Hari Sumpah Pemuda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Pemuda di Persimpangan Zaman at B e r s a n t a i S e j e n a k . . ..

meta

%d bloggers like this: