Soekarno: Indonesia Merdeka 「Review Film」

6 January 2014 § Leave a comment

Sebagai seorang pengagum Soekarno (sejujurnya gue lebih suka menulis “Sukarno”), ada baiknya gue melepas segala kesubjektivitasan yang ada.

Soekarno Indonesia MerdekaSebelum dimulai, gue agak keheranan dengan lampu studio yang tak kunjung mati. Salah satu penonton yang merasakan hal sama pun bertanya kepada petugas. Jawabnya, “Nanti juga mati sendiri, Mbak.” Dan *voilaa!* layar berubah menjadi Sang Saka Merah Putih. Para penonton kemudian diimbau (diharuskan?) untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya. Merinding, coy!

Film ini dimulai dengan scene penangkapan Soekarno (Ario Bayu) tahun 1929. Penangkapannya ini adalah imbas dari orasinya di depan rakyat (pendukungnya) demi kemerdekaan Indonesia. Pihak Belanda yang masih menjajah Nusantara merasa terancam jika tidak menindak pergerakan itu. Alhasil, Soekarno disidang.

Selanjutnya, alurnya mengilas balik ke kehidupan Soekarno semasa kecil. Masa kecilnya adalah masa yang sangat pelik, ia sering sekali sakit. Orang tuanya yang kasihan dengan keadaannya berinisiatif mengganti namanya dari yang tadinya Kusno menjadi Soekarno agar penyakitnya disembuhkan selama-lamanya. Dengan nama itu juga diharapkan Soekarno menjadi seorang panglima besar layaknya Karna dalam epos Baratayuda.

Dilukiskan pada saat remaja, ia memiliki pemikiran sosialisme. Ada kecenderungan dirinya bersimpati kepada orang lain, terlebih ketika ada berita tentang kemiskinan yang terdapat di koran. Soekarno cilik adalah Soekarno yang sama dengan galibnya lelaki: menyukai perempuan. Perempuan yang ia suka berasal dari kalangan Belanda. Hubungannya yang tak direstui oleh ayah sang perempuan membuatnya muntab. Kekesalannya ia salurkan ke hal positif: melawan pihak Belanda demi perjuangan rakyat.

Scene selanjutnya kembali ke tahun 1929. Soekarno membacakan pledoi penangkapannya yang terkenal itu, Indonesia Menggugat. Hasil putusan pengadilan nyatanya tak dapat diganggu-gugat. Akhirnya ia sekeluarga diasingkan di Bandung. Beberapa tahun kemudian pengasingannya pindah ke Bengkulu, tempat ia bertemu Fatmawati (Tika Bravani). Pertemuan itu membawa malapetaka bagi istri keduanya, Inggit (Maudy Kusnaedi). Soekarno jatuh hati kepada Fatma. Mereka menikah, dan Inggit bercerai dengan baik-baik (atau tidak?). Soekarno galau. Ada kemelut di dalam dirinya: satu sisi soal rakyat yang bebas merdeka dan di sisi lain masalah rumah tangganya.

Di saat batin Soekarno berjibaku mengatasi masalahnya, dua tokoh lain muncul: Hatta (Lukman Sardi) dan Sjahrir (Tanta Ginting). Keduanya memiliki tujuan yang sama dengan Soekarno, yakni kemerdekaan Indonesia. Namun, ketiganya memiliki jalan yang berbeda. Soekarno kooperatif dengan Jepang. Hatta di sini berseberangan dengan Soekarno. Ia tidak setuju dengan tindakan kooperatifnya, namun ia percaya dan oleh karena itu ia berada di pihaknya. Keduanya berjuang meraih kemerdekaan dengan cara yang realistis: bekerja sama dengan Jepang. Sjahrir tidak setuju dengan ide tersebut, ia memilih tindakan yang di luar dari kedua kawannya. Pada akhirnya, Soekarno dan Hatta mengakhiri penjajahan dengan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945. Selesai.

Ripiu yang sangat melelahkan. Banyak hal yang harus gue pikirkan karena ini merupakan film sejarah. Film semacam ini memiliki kesubjektivitasan yang sangat lebar. Hal tersebut tidak lain karena segala sumber sejarah adalah ingatan manusia, yang mana pasti mempunyai sudut pandang dan pengetahuan yang beragam. 

Saat menilai film ini, hal yang terbersit pertama kali adalah soal eksistensi bangsa Belanda. Sama sekali enggak ada unsur Belanda di film ini. Mungkin ada, tetapi tidak berupa ide besar tentang penjajahan yang mereka lakukan. Lamat-lamat gue baru mengerti bahwa film ini memang berfokus kepada kehidupan Soekarno di masa pendudukan Jepang.

Sudut pandang teramat penting dalam menilai film sejarah. Sutradara memiliki hak untuk menciptakan suasana yang ia inginkan. Dalam hal film ini adalah kecenderungan sang sutradara, Hanung Bramantyo, membuat film pendiri bangsa ini di masa-masa kemerdekaan. Pantas jika latar yang dibangun hanya berkisar di zaman pendudukan Jepang dan beberapa cuplikan masa remajanya.

Ario Bayu memerankan Soekarno dengan baik. Gue bisa melihat sosok orang besar dari perannya, dan yang terpenting ia enggak canggung. Namun begitu, peran Soekarno enggak menonjol dibanding dengan pendiri bangsa lainnya. Ia kalah menonjol dengan Sjahrir dan Hatta. Sjahrir sangat memukau saat pertama kali bertemu dengan Soekarno dan berdebat bersama Hatta soal kemerdekaan Indonesia. Soekarno kalah saing. Begitu pula dengan peran Hatta. Terlihat ketika detik-detik pembacaan proklamasi, Soekarno menunggu hadirnya Hatta. Saat Hatta datang, sambutan yang begitu meriah diberikan kepada Hatta dan seolah-olah itulah klimaksnya. Seharusnya hal itu tak perlu dilakukan karena akan lebih menonjolkan Hatta ketimbang Soekarno.

Fatmawati diperankan sebagai pelajar yang berpikiran merdeka. Soekarno yang menjadi gurunya saat menjalani pembuangan di Bengkulu tertarik dengannya. Penampilannya oke, enggak jelek, tapi kok ya enggak memesona. Enggak terlihat lebih spesial dari Inggit, kecuali lebih muda dan berpeluang punya anak. Berdasarkan sejarah mungkin sama, tapi ini film. Hal-hal yang menonjol sudah seharusnya ditampilkan, meski sedikit menyimpang. Karena itulah yang disebut dengan film sejarah.

Terlepas dari pro-kontra pembuatannya, Soekarno merupakan apresiasi tak ternilai untuk bapak pendiri bangsa ini. Hanung dengan baik membuat latar yang begitu realistik, tidak seperti latar sinetron kolosal yang serampangan. Momen terbaik dari film ini adalah ketika Soekarno dan Hatta sedang berada di dalam mobil Volkswagen kodok di depan istana negara untuk berdiskusi tentang kemerdekaan yang sebentar lagi mereka raih. Terlihat bagaimana orang besar meyakinkan dirinya untuk mengatasi kegalauan menatap masa depan bangsanya yang sebentar lagi bebas merdeka. Epik banget! Teprok tangan sambil berdiri buat film ini.

argo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Soekarno: Indonesia Merdeka 「Review Film」 at B e r s a n t a i S e j e n a k . . ..

meta

%d bloggers like this: