Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck 「Review Film」

9 January 2014 § Leave a comment

Liat trailernya di sisipan film Thor The Dark World bikin gue takjub! Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck punya visual dan teknis yang berkelas. Gue merasa kudu banget nonton film ini! Awalnya gue pikir ini sekuel dari film 5 cm karena pemerannya Zafran dan Dinda di sana. Ternyata bukan, nyed! Mereka Zainudin dan Hayati dari novel yang berjudul sama.:mrgreen:

Kisah ini mengenai Zainuddin (Herjunot Ali), seorang buangan dari tanah Minang lantaran ayahnya menikah dengan gadis luar adat. Pun ia yang seorang Pendekar Sutan, julukan yang dihormati di tanah kelahirannya, tetap menjadi orang yang terusir. Zainuddin yang kemudian ditinggal mati kedua orang tuanya merasa tak memiliki siapa-siapa lagi. Maka, diputuskannya untuk pergi ke tanah asal ayahnya.

Anak berdarah campuran (half-blood) nyatanya tak memiliki hak apapun di tanah Minang. Ia bak anak pisang yang tak diakui oleh keluarga gadang Mamaknya, kecuali sebagai seorang tamu. Hidupnya yang nelangsa dan tak memiliki tujuan membuatnya putus asa. Ia akan menjadi gila jika saja tak bertemu sosok malaikat hatinya, Hayati (Pevita Pierce). Kembang desa Batipuh itu rupanya menghidupkan kembali asa Zainuddin untuk melanjutkan kehidupannya. Hayati adalah harapannya, ia adalah tujuan hidupnya.

Namun, hubungan mereka sebentar saja. Keluarga Hayati mengusir Zainuddin demi menjaga kesucian Hayati. Ia pun pergi ke Padang Panjang dengan maksud menuntut ilmu. Hatinya kacau kembali. Hayati yang mencintainya berikrar janji untuk tetap menghidupkan hati kekasihnya bahwa dirinya akan tetap menunggu Zainuddin, meski itu setahun, dua tahun, sepuluh tahun, bahkan sampai sampai kapan pun.

Tak disangka-duga,  impian sepasang kekasih itu hancur berantakan dengan munculnya Aziz (Reza Rahadian), kakak dari karib Hayati, Khadijah. Aziz yang berkedudukan tinggi dan memiliki keluarga adat dinilai lebih layak menjadi suami Hayati ketimbang Zainuddin sang anak pisang. Hayati tak dapat berbuat apa-apa karena yang menilai dan memutuskan nasibnya adalah forum tetua adat yang dilakukan Ninik-Mamaknya.

Zainuddin stres, ia kolaps dan jatuh sakit. Frustrasi karena harapan hidupnya terenggut membuatnya hampir gila. Beruntung kawannya di Padang Panjang yang bergaya preman, Bang Muluk (Randy Nidji), memberi sedikit masukan yang membuatnya kembali ke jalurnya. Ia insyaf dan bangkit. Akhirnya ia merantau ke Batavia untuk menerbitkan tulisannya ditemani Bang Muluk. Tak dinyana, tulisannya laris dibaca. Zainuddin kaya raya mendadak dan menjadi orang terkenal dengan nama baru: Shabir. Meski bergelimang harta, nyatanya hatinya kosong karena permatanya hilang sudah.

Kasih Tak Sampai
Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck mengingatkan gue pada film The Great Gatsby dengan kemewahan dan kemegahan kisah cinta yang rupanya tak dapat bersatu. Gatsby, seorang milyuner yang misterius memiliki rumah supermegah yang tiap waktu dibuatkan pesta untuk orang-orang besar di kota. Ia sejak dulu menyukai Daisy, gadis yang saat itu telah bersuamikan Tom Buchanan. Gatsby berusaha untuk mendapatkan kembali gadisnya bagaimanapun caranya.

Adegan ngebut-ngebutan Aziz dengan kawan Belandanya dengan oto yang klasik itu loh. Mirip! Latar dan romansa yang terjadi rada-rada nyerempet. Eksekusinya juga mirip, megah dan mengagumkan.

Pemeran Yang Berkembang
Herjunot Ali sukses memerankan pemuda galau yang ditinggikan angannya hingga ia jatuh begitu curam, kemudian ia memilih untuk bangkit kembali. Ia tak segan untuk melafalkan ayat-ayat Alquran yang suaranya terdengar bagus (makhroj-nya jelas). Selain itu, terlihat dari logat Makassar yang ia tuturkan begitu fasih. Hal tersebut membawa efek samping. Kefasihannya membuatnya terkesan bahwa ia terlalu fokus dengan logat Makassarnya. Herjunot Ali nampaknya sangat bekerja keras dalam mengembangkan penokohan Zainuddin yang kompleks.

film tenggelamanya kapal van der wijck movie www.infosinema.com still adegan

Pevita Pierce lagi-lagi menjadi gadis lugu nan polos layaknya peran Dinda di 5 cm dan Tita di Lost in Love. Cukup mudah bagi dirinya. Yang sulit adalah mengembangkan diri menjadi Hayati yang pemalu nan beradat tradisional. Pev tidak canggung dalam dialog Minangnya, namun gue melihat perannya terlalu fokus dengan teks dan kurang mengindahkan feel menjadi Hayati. Hal itu gue lihat dalam scene dirinya berdialog dengan Mamaknya mengenai Zainuddin telah diusir dari kampung dan adegan syahdunya dengan Zainuddin saat ia melepas kekasihnya ke Padang Panjang.

Reza yang kali ini berperan antagonis tak perlu dikomentari. Tiap peran selalu ia mainkan dengan powerfull. Ia selalu bisa menjadi orang lain dalam setiap perannya. Kali ini dirinya membawakan sosok pria flamboyan nan congkak. Catatan kecil dari gue adalah Reza tak perlu berusaha ganteng untuk memerankan Aziz karena ketampanannya udah full-tank.

Yang menarik adalah penampilan perdana Randy Nidji di layar lebar. Kocak dan cukup keren. Dua jempol untuk kerja kerasnya di film ini.

Sinematografi Yang Berkelas
Diawali dengan visual seorang penulis besar yang bernarasi tentang kehidupannya, tampilannya beralih ke keindahan lansekap Minangkabau, mulai dari tanahnya yang subur nan indah, pantai yang semlohai, serta pesona bawah laut yang menawan. Ditambah dengan scoring yang memukau membuat film ini begitu menyedot penonton masuk ke dalam ceritanya. Perpaduan visual dan backsoundnya ciamik!

Latarnya gue rasa yang terbaik. Segala hal begitu diperhatikan. Mulai dari hal besar seperti setting-an Kapal Van Der Wijck, rumah megah yang tertata mewah, pacuan kuda yang betulan pacuan…hingga hal detil sepele macam eceng gondok di kolam bundar rumah Shabir alias Zainuddin yang ketika dibeli belumlah tumbuh dan di saat Aziz & Hayati menumpang di sana sudah tumbuh memenuhi kolam. Brilian! Gue suka itu.

Anyway, film ini sangat gue nikmatin. Ga ada yang namanya kerancuan latar macam film lokal yang asal jadi dan figurannya asal comot. Eksekusinya gue akui rapi dan gemilang. Sinematografinya yahud! Film ini menunjukkan Indonesia mulai membangkitkan kembali gairah perfilman yang kadung berkembang gegara film-film horor nan ndelesep itu. Terima kasih untuk Sunil Soraya dan Soraya Intercine Films yang telah menyuguhkan salah satu film terbaik ini. Apresiasi buat kalian dan seluruh insan perfilman Indonesia. : )

Referensi:
movienthusiast.com

Tagged: , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck 「Review Film」 at B e r s a n t a i S e j e n a k . . ..

meta

%d bloggers like this: