GM: Seorang Malin Kundang di Zaman “Sastra Kiri”

11 March 2014 § Leave a comment

Kenapa GM nggak ikut Pram masuk Lekra, ya? Dia kan juga concern sama rakyat.

Loh, loh. Emang kalo mau konsern sama rakyat harus masuk Lekra ya? Emang Lekra konsern sama rakyat?? Emang maksudnya apasih??? Sebagian orang melihat hal ini sepele. Dan memang sepele. Hanya saja kesepelean itu jadi menarik setelah membaca esai GM dalam Potret Seorang Penjair Muda Sebagai Si Malin Kundang (1972).

Dengan kawan-kawan di kampus selalu menarik jika bicara sastra, dunianya. Ada yang terbersit dalam pikiran ketika obrolan sampai pada topik sastra 60-an. Tidak lain, persoalan lekra-manikebu jadi sorotan. Tapi, pertanyaan lain datang, adakah hal tersebut dilihat sebagai persoalan? Bisa iya, bisa tidak. Jadi manusia moderat memang gampil, ya.

Apa itu sastra kiri?
Sepertinya belum ada yang namanya istilah “sastra kiri”, apalagi hingga disebut suatu zaman. Dalam literatur sejarah, bisa jadi istilah “kiri” mengacu pada ajaran yang-tak-boleh-disebutkan. Dan memang itulah maksudnya. “Sastra kiri” adalah sebutan bagi karya sastra yang dikarang oleh penulis beraliran “realisme-sosialis”—yang jika dikhususkan lagi yakni yang berada dalam naungan Lekra.

Masa 60-an, dapat dikatakan, merupakan masa yang tak dapat dihilangkan dalam sejarah Sastra Indonesia. Pun sebaliknya, masa itu sangat sukar untuk dimunculkan dalam buku-buku perkembangan sastra. Bukan karena ketiadaan manusia-manusia yang menjadi saksi mata—bahkan sebagai pelakunya—untuk menjelaskan kejadiannya, melainkan adanya kekhawatiran atas isu besar yang ditabukan oleh pemimpin kita (terima kasih Pak Harto untuk film Pengkhianatan G 30 S PKI-nya). Hus, bahaya nyebut-nyebut kata itu!

Komunis telah mendapatkan sertifikat haram. PKI pun disahkan menjadi hal yang berbahaya di Indonesia. Peristiwa Gestapu tak dapat dilupakan, tak dapat dinafikan. Keduanya tabu dan harus dijauhkan dari alam pikiran masyarakat.

***

Alkisah, ada seorang muda yang tertarik terjun di dalam dunia sastra. Sastra dilihatnya sebagai alam kebebasan berekspresi dan berlaku kreatif. Sastra dapat mengalir ke mana saja. Sastra dapat melingkupi pelbagai gradasi kehidupan. Apapun bisa di dalam sastra. Kondisi politik yang karut-marut membikin pemuda itu merasa perlu untuk menjauhkan dirinya dari politik, dan mendekatkan diri pada sastra. Politik adalah omong kosong.

Di waktu yang sama, Pram dan kawan-kawan adalah seperti diri sang pemuda. Mereka mengekspresikan gagasannya ke dalam sastra. Ide pokok mereka lain, cenderung kepada persoalan rakyat. Kehidupan yang sama-rasa-sama-karsa adalah yang utama. Maka sebuah gerakan mereka bangun.

Gerakan tersebut takkan berhasil jika dilakukan sporadis. Perlu ada komando yang menentukan arah gerakan tersebut. Perlu ada satu bentuk perjuangan yang mereka usung demi tercapainya tujuan: rebut kekuasaan. Dunia politik praktis menjadi ranah yang harus mereka taklukkan. Maka, sastra bagi mereka haruslah mengabdi kepada kritik sosial, alih-alih berdiri bebas. Maka, sastra tidak lagi menjadi wadah berekpresi yang merdeka.

Pram dkk akhirnya membentuk Lekra. Sebuah lembaga yang “dapat dibilang” lepas dari hierarki PKI digunakan sebagai wadah propaganda “realisme-sosialis” yang mereka anggap sebagai jalan keluar satu-satunya dari keadilan rakyat. Mereka mengajak para seniman (sastrawan dan lainnya yang sekawan) untuk bergabung dalam misi suci ini. Mungkin sekali pemuda itu diundang.

Tapi si pemuda menolak ikut. Ia menolak dan berseberangan pendapat dengan Lekra. Ia menilai sastra tidak seharusnya hanya dijadikan perangkat untuk mencapai ambisi politik.

Perlu dicatat bahwa apapun bisa dijadikan motif dalam bersastra. Sastra adalah kebebasan, kemerdekaan. Namun jika hanya dijadikan suatu alat—dan mengabaikan yang lain—sastra yang dimaksud bukanlah sastra.

“Ada masanja seorang penulis bisa membiarkan hal itu terdjadi pada satu djenis kesusastraan. Tapi ada masa lain di mana penulis tersebut tiba-tiba merasa bahwa hal sedemikian itu tidak bisa dipaksakan untuk semua orang.” (1972:17)

Pemuda itu bersama seniman lain yang menolak napas perjuangan Lekra berkumpul merumuskan sebuah Manifes yang mereka yakini sebagai tujuan mulia dari dunia kesenian. Sebuah gagasan yang menghidupkan para seniman untuk bisa berkarya sesuai kehendaknya. Ia ingin mencegah kesusastraan dari “wabah” propaganda politis dan meneruskan independensi kegiatan kreatif. Itulah pandangan pemuda yang usianya masih lebih muda dari gue sekarang. Itulah prinsip dari seorang pemuda bernama Goenawan Mohamad.

Tagged: , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading GM: Seorang Malin Kundang di Zaman “Sastra Kiri” at B e r s a n t a i S e j e n a k . . ..

meta

%d bloggers like this: