Adriana [review Film]

20 October 2014 § 2 Comments

Gue jarang liat film Fajar Nugros. Luntang-lantung salah satunya. Garing abis! Terutama gaya narator si Ari Budiman yang pasaran itu. Tapi film Adriana ini keren loh, Sob! Mungkin FN emang nggak ditakdirkan sebagai sutradara film komedi murni, melainkan film drama. Aslik, keren!

image

Adriana mengisahkan tentang petualangan seorang playboy cap sepatu Belly untuk menemui gadis yang membuatnya penasaran. Scene demi scene berupa petualangannya menemukan jawaban dari teka-teki yang mengarahkannya ke tempat gadis itu. Ia dibantu sobatnya, Bayu, seorang asdos sejarah, untuk menjawab kisi-kisi yang dianggapnya terlalu susah. Serunya, Bayu adalah orang yang ternyata menyimpan rasa suka kepada gadis itu…sejak masa kecilnya.

Kenapa bagus? Sederhana jawabannya: nggak bertele-tele. Luntang-lantung itu boring filmnya, banyak skrip yang buang² waktu. Adriana engga, jarang lah ya. Semuanya punya maksud. Punya andil dalam cerita.

Adipati Dolken gue suka aktingnya di sini. Dalam Perahu Kertas dia semacam kurang eksplor karena penokohannya yang kalem, tapi di sini dia total abis jadi cowok yang pede. Kevin Julio sih biasa aja, tapi ya lumayan. Yang penting dia  enggak ganggu cerita aja. Cuman gue rada menyesalkan akting Eva Celia.

Untuk perubahan karakter yang cupu-kutu buku hingga menjadi gadis yang anggun rupawan memang bukan tugasnya. Keseluruhan film, sepenglihatan gue yang nonton, nggak diceritain. Itu kesalahan penulis skenario atau sutradara. Tapi bagaimana ia menampilkan keanggunannya kurang memuaskan bagi gue. Rada kaku sih gue bilang. Kelihatan kurang natural aja ketika pertama ia ngomong ke Andra di perpustakaan untuk memulai petualangannya. Bahasa formal abis!

Apalagi pas bicara soal perasaan dengan Bayu di puncak Monas. Itu harusnya gue terenyuh! Gue bisa aja nangis bombay nontonnya, tapi nyatanya enggak. Percakapannya kurang dramatis. Masih kelihatan ngafal skrip (maaf ya neng Eva, emang begitu adanya…).

Gue salut dengan FN karena kali ini dia serius. Membawa semua aspek yang diperlukan untuk menghasilkan sinematografi yang riil. Latar adalah kekuatan dalam film ini. Setting tempo doeloe-nya dapet. Walau yang meranin duo proklamator tetep si Adipati-Kevin jua, kontennya dapet. Justru bagus ilustrasi kilas-balik yang kayak gitu. Gue amat apresiasi.

Film tentang sejarah memang susah membuatnya, dan pada akhirnya ya jarang yang mau menontonnya. Entah kurang menjual atau kurang menarik dari sisi hiburan. Tapi Adriana menarik banget! Racikannya oke punya!

Gue tau informasi semacam “arah patung pancoran menunjuk ke mana” atau “emas monas jika dilihat dari jendela kerja presiden di istana pada malam hari seperti perempuan yang sedang duduk” itu penting karena jarang dijadikan bahan sejarah (untold stories). Tapi semua itu hanya tempelan. Ada hal lain yang menjadi bumbu rahasia dalam Adriana: curiousity about teenager romanticism!

Bagi gue, masa remaja terutama sekolah adalah masa-masa yang takkan terlupakan. Pastinya setiap orang menyimpan perasaan tentang apa yang mereka inginkan di masa-masa itu. Kenangan akan “mendapatkan” keinginan itulah yang diambil sebagai benang merahnya. FN meraciknya dengan menambahkan bumbu tambahan seolah film ini berisi banyak hal. Dan itu berhasil membuat bumbu rahasia itu tersamarkan wujudnya. Itulah kenapa gue menganggap film ini berhasil (dan Luntang-lantung enggak!).

Mungkin enggak semua orang melihat film ini sebagai sarana mengingat kenangan masa sekolah. Tapi yang ngerasain bukan gue doang, kok. Ahok juga ngerasa gitu, soalnya. Hahahahaha

Lihat aja petikan wawancaranya di 21cineplex.com saat dia selesai nonton trus dia langsung teringat akan masa-masa remajanya.


Ahok bahkan sangat terkesan dengan salah satu karakter di film tersebut yang bernama Sobar, lantaran mengingatkan akan masa lalunya.

Sobar yang merupakan cowok pintar yang juga mencintai Adriana, memang mampu membuat memori tersendiri di ingatan wakil Gubernur Jakarta ini. Menurutnya sosok Sobar merupakan seseorang yang mengerti arti cinta sesungguhnya dimana cinta tak selamanya harus memiliki.

“Yang menyentuh, jujur ya ini buat saya pribadi salut sama Sobar yang bisa sadar bahwa cinta belum tentu memiliki, ini romantis sekali nah itu bagus. Kalau saya sendiri lebih mirip sama orang yang satunya lagi, waktu kuliah gitu banyak cewek-cewek ajak duduk rame-rame saya cowok sendiri karena saya orangnya bisa dipercaya,” ujarnya di acara Nonton Bareng film Adriana di Planet Hollywood, Jakarta Selatan.

Doa gue semoga FN dan para kreator film lain bisa menyajikan film yang lebih hebat lagi…demi mimpi Indonesia!🙂

Tagged: , , , , ,

§ 2 Responses to Adriana [review Film]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Adriana [review Film] at B e r s a n t a i S e j e n a k . . ..

meta

%d bloggers like this: