Pengurangan Subsidi BBM

29 October 2014 § Leave a comment

Sebelum masuk ke isu tersebut, mari kita samakan persepsi dulu terkait definisi kebijakan pemerintah yang sedang hangat-hangatnya dibahas publik. Penaikan harga BBM? Penaikan subsidi BBM? Pengurangan harga BBM? Pengurangan subsidi BBM?

Harga premium sekarang ini adalah harga pasar (sekitar 10ribu) dikurangi subsidi yang dikeluarkan pemerintah, yakni hasilnya Rp6.500. Berarti subsidi yang dikeluarkan pemerintah adalah (+10.000-6.500=) +Rp3.500. Maka, jika harga BBM pada saat ini menjadi Rp9.500, berarti kebijakan yang dimaksud adalah Pengurangan Subsidi BBM.

Kenyataan bahwa porsi subsidi BBM sudah sangat besar dalam APBN adalah sebuah keniscayaan. Kenyataan bahwa kebijakan pengurangan subsidi BBM juga sebuah keniscayaan. Pemerintah sudah tak dapat lagi membendung banyaknya beban yang harus ditanggung demi subsidi yang dianggap kurang tepat penyalurannya. Dikatakan tidak tepat karena BBM Bersubsidi alias Premium/Solar tidak hanya dinikmati oleh warga kurang mampu, melainkan orang-orang berpunya (kemarin aja gue liat Alphard ngisinya Premium).

Dengan adanya pengurangan subsidi BBM, maka masalah yang dihadapi pemerintah, yakni borosnya anggaran untuk subsidi tersebut bisa diselesaikan. Namun begitu, muncul masalah baru yang dihadapi oleh kebanyakan rakyat Indonesia: naiknya harga BBM, sekaligus naiknya harga barang-barang dan jasa yang ditanggung akibat efek domino dari kebijakan tersebut.

Gue melihat kebijakan penurunan subsidi BBM ini memang sudah nggak bisa ditawar lagi. Anggaran negara kita sudah terlalu besar diserap oleh biaya yang konsumtif, alih-alih biaya produktif (pembangunan dan pendidikan). Maka, tidak lain tidak bukan biaya subsidi ini harus dikurangi. Pertanyaan selanjutnya, bagaimana cara menanggulangi efek samping dari naiknya harga BBM di Pertamina itu?

Alternatif
Awalnya ketika kebijakan ini diputuskan, gue kepingin pengurangan subsidi ini dilakukan bertahap. Artinya, kenaikan BBM tidak langsung blek Rp2.000 seperti sekarang ini. Hal tersebut paling nggak bisa bantu masyarakat menyesuaikan anggaran rumah tangganya terhadap efek kenaikan harga. Kenaikan langsung seperti ini agaknya terlalu membebani orang-orang menengah ke bawah yang menggunakan angkot untuk ongkos kerja karena tarif pasti naik dengan signifikan. Nggak cuma ongkos jalan, harga-harga sembako udah nggak bisa diragukan lagi, pasti naik juga. Shocking effect akan sangat berasa di akhir November ini.

FYI, pengguna kendaraan bermotor nggak usah dibahas karena mereka seharusnya mampu membeli bengsin. Itu udah risiko. Hahaha.

Alternatif yang terpikirkan dalam otak gue adalah pemberian biaya hidup seperti yang sudah dilakukan oleh SBY. Dibanding opsi lainnya, gue lebih cenderung setuju dengan ide ini. Memang masyarakat terlihat dianggap “manja” karena ‘disuapi’ oleh pemerintah. Tapi jika melihat lebih mikro lagi, uang pemberian tersebut dapat menambah daya beli masyarakat yang berkurang imbas pengurangan subsidi tersebut.

Misalnya ada 20 juta orang yang harus diberi uang bantuan. Uang yang dibagikan sebesar Rp100.000 per bulan selama setahun. Jadi, biaya yang dikeluarkan pemerintah sebanyak Rp24triliun. APBN yang diserap untuk subsidi sekitar Rp300triliun, sedangkan penghematan atas pengurangan subsidi sekitar Rp200triliunan lebih! Pemerintah untung, masyarakat untung. Kita senang.

Bagi mahasiswa atau ahli ekonomi, bolehlah ide gue ini diripiu ataupun dikoreksi demi diskusi yang sehat, khususnya untuk kewarasan otak gue.

Tagged: , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Pengurangan Subsidi BBM at B e r s a n t a i S e j e n a k . . ..

meta

%d bloggers like this: