Runtuhnya Rezim Kamera Konvensional (?)

9 December 2014 § Leave a comment

Gue suka jeprat-jepret, gue suka fotografi. Gue suka dunia dalam bingkai. Tentunya, gue suka perangkat yang bisa menyediakan itu semua: kamera.

Gue suka banget ngikutin perkembangan dunia kamera digital. Selalu antusias mendapatkan informasi terbaru soal teknologi kamera. Engga pernah engga terkejut melihat hasil foto yang didapat dari kamera berlensa-lepas. Seperti ada sesuatu yang menarik keingintahuan gue terhadap dunia jepret.

Fotografer adalah semacam guru bagi kehidupan digital gue. Sulit menjauhkan kamera dari keduniamayaan yang gue gandrungi. Begitu pula dalam hal penggunaan ponsel yang kian mengarah ke dunia digital. Kamera dan ponsel adalah dua sisi mata uang; berbeda tetapi telah menjadi keutuhan. Sebagian lain orang mungkin tidak, tetapi setidaknya sebagian besar pengguna ponsel menyematkan kamera di sana. Pun fenomena selfie.

Menarik saat mengikuti dunia ponsel yang begitu giat merevolusi dirinya. Dulu hape cuma untuk penggunaan telepon plus fitur pesan singkat. Dekade berlalu, ponsel dapat mengakses internet untuk terhubung ke dunia luar, jaringan generasi kedua (2G). Berganti tahun dan tahun, berkembang lagi menjadi perangkat-serba-bisa seperti asisten yang siap membantu kapan saja. Smartphone sekarang seperti kebutuhan primer; begitu pula kamera.

Penggunaan kamera pada ponsel kian marak. Inovasi yang terus-menerus digencarkan seperti tidak ada habisnya. Vendor-vendor besar sudah jauh melampaui hukum dimensi yang menciptakan smartphone+kamera dalam satu device yang begitu ringkas. Tujuh milimeter saja! Bayangkan! Dan itu sudah menggunakan sensor layaknya camdig point and shoot. Sejauh ini kamera digital yang dibuat vendor kamera segitu-gitu saja, masih lebih dari 20 milimeter. Bayangkan jika ukuran segitu memakai sensor yang lebih besar, micro fourthird, misalnya.

Jangan sampai beralasan yang tidak-tidak seperti: Tidak mungkin! Impossibru! Ide yang tidak masuk akal! Hal yang semacam itu tidak mungkin terwujud jika belum dicoba, bukan?

Revolusi dan Inovasi

Setiap revolusi pasti memakan anak kandungnya sendiri.

Pastinya risiko yang timbul dari satu lompatan besar inovasi. Seperti saat membuka satu pintu, pintu lainnya akan tertutup. Itulah, pasti ada yang dikorbankan untuk menciptakan satu pencapaian yang jauh lebih baru. Gue mau mengembalikan ingatan kita ke beberapa tahun lalu…

Tahun 2006, apalah arti sebuah smartphone? Apa pula online dalam kebutuhan seorang pekerja yang eksis di dunia maya? Blackberry mungkin telah mengubah definisi sebuah ponsel ke dimensi yang berbeda dari sebelumnya, namun tidak semua orang dapat dengan mudah mengakses fitur-fitur yang RIM buat saat itu. Setahun berlalu, iPhone dikenalkan. Orang-orang berbondong-bondong menggunakan produk yang disebut smartphone. RIM jumawa, iPhone dianggapnya hanya pemeriah pesta ke-BB-annya.

Tahun demi tahun berlalu. Memang, Blackberry mendominasi pasar untuk sementara waktu. Tapi itu tak berlangsung lama. RIM yang merasa device-nya sempurna dan tak terkalahkan tidak berbuat apa-apa. BBM selalu dielu-elu sebagai pamungkas. WhatsApp yang dicemooh sebagai kloningan tak dihiraukan. RIM masih saja bergumul dengan strategi usangnya.

Tiba-tiba RIM bangkrupt! Kolaps! Lenyap kepopulerannya tak tersisa (kecuali di negara berkembang macam India en Indonesia lah ya). BBM sudah habis kesaktiannya! Apple yang saat itu dinakhodai Steve Jobs memunculkan ide-ide yang baru dalam produk-produknya (iya, engga semuanya baru kok). Orang-orang pindah haluan. Dan Android dengan moto ATM-nya justru mengambil alih tampuk rezim RIM. ATM, amati, tiru, modifikasi.

Fenomena ini mungkin masih lebih mendingan. Kita bisa menganggap Blackberry adalah fenomena instan macam jawara AFI, Indonesian Idol, dll. Baru melejit udah semblep. Lain ceritanya dengan Nokia. Nokia jauh lebih parah jumawanya. Inovasi-inovasi keren di masa lalu terlalu banyak dikenang ketimbang dikembangkan lebih baik lagi. Jauh, nokia jauh lebih parah jatuhnya.

Fenomena barusan tentunya segelintir contoh dari dahsyatnya inovasi. Gue engga hendak mengatakan bahwa masa depan kamera profesional akan kiamat atau semacamnya. Gue pun engga menampik bahwa gue suka menggeluti dunia itu. Tapi sebagai catatan, gue sekarang ini semacam geregetan aja melihat perkembangan kamera digital yang begitu lambat, sementara kamera ponsel dengan software yang canggih bisa merender warna dengan sangat riilnya. Bahkan jauh lebih ringkas dan sederhana tenimbang kamera pro.

Ada perbedaan pergerakan yang kentara dari keduanya. Okelah jika dunia kamera pro tidak dapat dibandingkan dengan dunia kamera ponsel yang asal jepret. Tetapi penggunaan sensor ponsel yang semakin besar (Nokia, Sony, dan HTC) tidak dapat dinafikan lagi. Pun kemudahan akses socmed menjadi satu faktor yang begitu penting dalam dunia penjepretan. Dan yang paling jelas adalah turunnya keuntungan vendor kamera yang kian mengiriskan hati, serta di sisi lain meningkat jauhnya jumlah penjualan device smartphone berkamera bagus yang kini mendominasi penggunaan kamera di seluruh dunia.

Kita bisa mengatakan bahwa dunia kamera pro tidak dapat benar-benar kiamat dengan eksistensi kamera ponsel, namun ketiadaan inovasi yang mengguncangkan pikiran semua pengguna kamera di seluruh dunia tidak akan mengangkat eksistensi kamera berbodi besar itu. Sekian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Runtuhnya Rezim Kamera Konvensional (?) at B e r s a n t a i S e j e n a k . . ..

meta

%d bloggers like this: