Seperti berlari ke hutan kemudian nyanyi…

17 December 2014 § Leave a comment

Menjadi seseorang yang puitis itu mudah. Paling tidak lebih mudah daripada kalkulus. Mudah sekali bahkan saat kita melankolis. Semudah memakan kacang tanah. Tapi satu hal yang tidak mudah, yakni ketika hendak berpuisi dan memisahkannya dengan AADC.

Kulari ke hutan kemudian menyanyiku
Kulari ke pantai kemudian teriakku
Sepi, sepi dan sendiri aku benci
Ingin bingar aku mau di pasar
Bosan aku dengan penat
Enyah saja kau pekat
Seperti berjelaga jika ku sendiri

Setidaknya bagi gue.

Setiap kali mencoba mengekspresikan puisi, adegan musikalisasi puisi Dian Sastro saat memerankan Cinta selalu memenuhi otak. Mengapa scene itu sulit dienyahkan dalam kehidupan kesastraan gue? God! Seperti ada besi berani yang menyedot setiap elemen Ferro di dekatnya… Itulah pula yang menyedot tindak-tanduk puitisasi di sekitar perasaan.

Gue melihat AADC adalah sajian yang betul melukiskan kehidupan anak remaja. Tak berbeda, misalnya, dengan FTV yang dieksekutifproduseri oleh Gigi. Fine, gue engga mungkin mengatakan AADC setara-sesama-seakuan dengan film a la televisi yang digandrungi mbak-mbak yang luang waktunya setelah begawe serta anak-anak remaja yang masuk sekolah siang (dulu gue gitu sih). Beda, pastinya beda. Perbedaannya adalah AADC terlihat orisinal dan baru pada saat itu, sedangkan FTV mengangkat hal-hal yang hampir sama di tiap judulnya. Isinya sama, tentang kasih-mengasihi di antara dua remaja yang penasaran dengan kemelankolian hatinya masing-masing. Kemasannya yang jauh berbeda.

Dulu kita tidak mengenal siapa itu Dian Sastro. Entah siapalah Nicholas Saputra itu dengan tampilan cowok pendiam yang berambut gondrong ikal seperti tak terurus. Bisa jadi mereka bukan siapa-siapa. Bisa saja akting mereka biasa layaknya pasangan remaja lain. Seperti hukum relativitas yang diungkapkan Einstein, kecantikan dan kegantengan mereka pun bukan hal yang mutlak. Mereka bisa menjadi mereka yang sebelum membintanginya.

Tapi kenyataannya kita memberinya makna. Sesuatu yang tak mungkin kita lakukan jika mereka tak begitu penting dalam memori kita. Sosok aktris-aktor yang mewujudkan angan romansa remaja kita. Merekalah awal. Mereka satu gulungan roll film yang kita simpan untuk kita nikmati saat ingin mengenang masa yang indah.

…dari tiada menjadi ada.

Hukum kimia tidak menyatakan bahwa suatu zat ada begitu saja dari ketiadaan. Pasti ada pendahulu. Sebelum era Rangga-Cinta, pastilah ada representasi pasangan yang digandrungi setiap remaja. Orang tua kita bisa bilang Roy Marten & Yati Octavia adalah pasangan paling romantis yang pernah mereka kenal. Itulah saat “waktu” menjadi zat yang menjadi faktor utama pembeda antarhal bisa menjadi sesuatu yang spesial.

Gue, di sini, tidak luput dari masyarakat para remaja yang menikmati kemelankolisan kisah kebertepuksebelahtanganan Cinta pada Rangga. Maka, adegan yang sangat jarang–jika tidak dapat dikatakan belum pernah sama sekali–dilakukan saat Cinta berpuisi di cafe menjadi sesuatu yang sakral nan abadi.

Situasi seperti ini bukannya menjadi masalah. Ini hal yang bagus, tapi tidak sepenuhnya. Proses kreatif dalam seni adalah hal yang tak dapat ditemukan dengan mudah. Penciptaan puisi, sebagaimana penciptaan karya seni lainnya, tidak dapat muncul dari keinginan untuk mengeksistensikan diri. Sikap nihil seperti itu adalah efek samping dari penciptaan karya yang monumental. Akan muncul dari orang-orang yang tidak murni menjunjung tinggi seni sebagaimana inspiratornya itu.

Di sisi lain, akan ada orang-orang yang memang bertekad untuk berada di jalur seni, tetapi mentok karena karyanya tak dapat dipisahkan dengan karya yang dianggapnya yahud. Maksudnya, akan ada ketakutan–semacam kekhawatiran–karyanya tidak orisinil dan dicap copas dengan karya sebelumnya, yang padahal tidak sejauh itu pengaruhnya.

Bagi gue, ini menarik untuk diulik, mengingat dunia perpuisian kita begitu hening–tidak sampai senyap–dibandingkan dengan prosa yang selalu mendominasi penerbitan.

Jalan satu-satunya adalah keep trying. Jalani sajalah. Tidak ada yang instan, tidak ada jalan tikus. Bak macet di Jakarta, tidak ada lagi jalan lain untuk pergi ke suatu tempat kecuali merasakan kemacetan itu sendiri. Mungkin kasus seperti ini jugalah yang dihadapi Goenawan dan Sapardi semasa ababil dahulu.

Tagged: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Seperti berlari ke hutan kemudian nyanyi… at B e r s a n t a i S e j e n a k . . ..

meta

%d bloggers like this: