Mengurus Surat Bukti Pelanggaran

19 December 2014 § Leave a comment

Hari ini adalah hari Jumat biasa di minggu yang biasa. Bedanya adalah gue harus ke Pengadilan Negeri Depok!

Damn! Gue kena tilang!

Beberapa hari yang lalu, tepatnya hari minggu, Lenteng Agung macet. Daerah situ sebetulnya enggak langganan macet pas weekend. Minggu kemaren aja entah kenapa justru macet. Sepanjang jalan ampe KFC Lenteng pun lalin masih ngerayap-padat. Bahkan, tambah parah di sekitar flyover UI.

Ini dia sebab musababnya! Kamfred!

Margonda emang tiap tanggal merah udah teken kontrak sama kemacetan. Itu udah disadari dan dimaklumi. Tapi  kolong flyover? Itu mah mubazir! Biasanya nggak macet. Dan biasanya pula engga ada pulisi. Kedua negasi “engga biasa” itu bersinggungan dan membentuk frase positif: emang macet & emang ada pulisi!

Gue yang engga mau rugi memakai otak jenius gue untuk mencari solusinya. Gue langsung ubah haluan ke arah UI–yang mana gue belokin ke arah motong arus ke arah Kelapa Dua demi masuk kembali ke jalur Margo.

Dan voila! Gue dicegat pulisi. Disalamin basa-basi dan disita lah SIM C gue. Iya, gue udah punya sim kok, beda sama yang lain……….

….kalo gini caranya mending nggak usahlah punya otak jenius….

Pulisinya semacam ramah-tamah. Sambil nulis surat tilang, dia ngamanatin untuk ga motong arus karena bahaya sekali. Gue jawab dengan tatapan kosong. Dah itu, gue disuruh ikut sidangnya di Kota Kembang, Grang Depok City.

Proses Sidang
Gue baru pertama ini pergi ke pengadilan, sekaligus jadi tersangka pelanggar lalin. Sesampainya, gue langsung nuju ke list nama pelanggar dan nomor bukti pelanggarannya.

Awalnya gue kepusingan. Gue yang notabene orang Jakarta mencari nama dengan bantuan alamat. Gue cari memang ngga ada yang beralamat Jakarta. Faktanya, hanya daerah Depok aja yang tertulis. Maka, gue minta bantuan aja sama calo-cari-nama yang biasa ngais rejeki sebegitu maunya.

….15 menit berlalu…

Lucunya, makelar cari-nama itu nyerah, sedangkan beberapa menit sebelumnya gue justru udah tahu. Kurang profesional rupanya.

Setelah itu surat tilangnya masuk loket, masuk antrean. Lama! Penuh banget. Nama-nama baru dipanggil jam 9. Seharian itu ada 500-an orang yang disidang. Gue sampe bosen nontonin You Who Came From the Star.

“IBNU MAROGHI DARI KAMPUNG KANDANG SAPI.”

Satu setengah jam, dan akhirnya nama gue dipanggil. Gue masuk sebagai terdakwa. Sang Hakim bicara, pelan sekali. Macam bisik-bisik. Mungkin asisten yang duduk di sampingnya juga enggak denger.

“DUK! DUK!”

5 menit berbisik, tau-tau palu digetok dua kali. Lah, udah selesai. Gue sayup-sayup aja denger kena denda, tapi kurang jelas kena berapa. Setelah itu gue keluar ruangan sidang untuk membayar denda.

Phew, akhirnya SIM C gue kembali.

Tagged: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Mengurus Surat Bukti Pelanggaran at B e r s a n t a i S e j e n a k . . ..

meta

%d bloggers like this: