Alasan

7 February 2015 § 2 Comments

Always believe everything is there for a reason.

IMG_20141202_011936

Beberapa jam sebelum tenggat pengumpulan skripsi, ketika azan subuh tinggal sebabak pertandingan sepak bola. Hampir menyerah. Hampir, masih belum talak. Masih belum, layaknya lagu Ariana Grande, Almost is Never Enough.

…mencoba menyerok napas. Tersengal bak pelari amatir dalam marathon 10K.

….

Dua semester gue kerjain skripsi, dengan sebagian besar waktunya gue isi dengan…ga ngapa-ngapain.

Pada dasarnya gue nggak setuju dengan buku fiksi based on story macam Skripshit, seolah-olah sulitnya lulus karena pengerjaan skripsi yang tak kunjung selesai. Itu de yure. Secara de facto, ngerjain skripsi itu susah setengah mati jika-dan-hanya-jika sambil kerja fulltime 08.00–22.00 Senin-Jumat…dengan injury time Sabtu (kadang dengan Minggu) sesiang sampai malamnya. Aslik, gue 3 bulan di semester kedua nggak bisa apa-apa, coba!

Gue tahu, usaha gue nggak akan susah mudah. Dukungan terbelah: iblis pesimis dan malaikat penyemangat. Satu sisi gue minder dengan progres yang sebegitu-aja-sampe-tenggat-waktu-hampir-habis. Sisi lainnya adalah buku Pram, Saya Hanya Ingin Semua Ini Berakhir. Bikin ibu bangga, juga melanjutkan hobi baca.

Pada akhirnya, konsultasi dengan dosen pembimbing adalah hari penghakiman. Di hari pertemuan nanti adalah keputusan yang hakiki dari kebimbangan gue untuk melanjutkan topik skripsi ini.

Pak Sunu adalah dosen yang memiliki ketertarikan dengan puisi, di luar dari Mas Iben. Kata beberapa kawan, ia adalah favorit. Abis! Dosen yang baik banget, dosen yang asik, kata mereka. Bukan keinginan gue untuk diiriin oleh banyak peminat sastra karena gue dapet kemujuran ini. Gue pun awalnya nggak merasa senang. Bukan apa-apa, itu masalah lain.

“Saya ingin menyelesaikan skripsi semester ini, Pak.”

Itulah ucapan pembuka gue kepadanya saat pertama bersua setelah alpa selama beberapa bulan. Agak tendensius, tetapi pilihan yang gue pilih ini yang paling masuk akal. Gue pun sudah menyiapkan mental jika pada akhirnya niat merampungkan tugas akhir gue itu dimentalkan oleh perbuatan gue sendiri.

Pak Sunu mengangguk. Mencoba merangkum semua usaha yang sudah gue lakukan sampai saat itu dan mengabaikan ketidakacuhan gue selama ini. Gue bersyukur banget. Sejak itu gue mencoba memulai kembali fokus dengan skripsi gue yang terlantar…menyelesaikannya hingga sidang digelar.

Memang beberapa saat setelah pengumpulan skripsi, gue kena tilang di bawah flyover UI. Tapi bukan sidang yang itu!

15 Januari 2015 gue sidang dengan hasil skor 90, 90, dan 90 dari masing-masing penguji. Pak Sunu, Bu Fina, dan Pak Totok seperti terbius dengan polah Don Quixote yang gue tampilkan. Surpraise? Tentu aja! Syok? Itu pasti. Bersyukur sih. Meskipun terlihat nggak adil bagi yang lain, gue merasa segala sesuatu nggak bisa diprediksi sesuai keinginan masing-masing. Begitulah. Always believe everything is there for a reason. Pasti ada alasannya kenapa gue mendapat nilai sempurna. Tahu kenapa? Alasannya adalah untuk memunculkan segala pertanyaan tentang apa yang orang lakukan, tapi tak terlihat dan terkatakan. Itulah Nuriyah Amalia. Ia adalah sosok di balik bagusnya nilai skripsi gue. Itulah kenapa gue bisa melewati ini dengan baik. Terima kasih, sayang. :*

image

§ 2 Responses to Alasan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Alasan at B e r s a n t a i S e j e n a k . . ..

meta

%d bloggers like this: