The Imitation Game 「Review Film」

5 March 2015 § 2 Comments

imitation_game_ver8
Title: The Imitation Game
Director: Morten Tyldum
Writers: Andrew Hodges (book), Graham Moore
Stars: Benedict Cumberbatch, Keira Knightley, Matthew Goode

Ada dugaan bahwa kekalahan Hitler pada Perang Dunia II disebabkan oleh keangkuhannya sendiri: Hail Hitler!

Berakhirlah kedigdayaan Fasis di dunia.

The Imitation Game adalah film layaknya Argo yang membawa memori sejarah yang terjadi di masa silam. Sesuatu yang nyata memang menarik untuk diangkat ke dalam film. Terutama skandal dan isu kemata-mataan yang menimbulkan efek sistemik. Keduanya, Argo dan The Imitation Game adalah buah dari intrik-intrik dunia yang layak untuk diperdagangkan dalam layar lebar.

Alan Turing, seorang matematikawan, mengajukan diri untuk bergabung dengan tim enkripsi Inggris yang berafiliasi dengan MI6 untuk memecahkan sandi buatan Jerman yang disebut dengan Enigma. Enigma adalah perangkat canggih ciptaan (penemuan?) orang Jerman yang didedikasikan sebagai alat komunikasi keseluruhan operasi perang. Prinsip enigma adalah rahasia yang tidak disembunyikan. Semua saluran enigma berasal dari radio yang anak SD pun dapat menyadapnya. Cerdasnya, pesan yang disampaikan tersembunyi rapi dalam enkripsi yang memiliki peluang pencarian sebanyak 159juta juta juta kemungkinan.

Sebanyak 6 orang jenius Inggris dikerahkan untuk menembus isi enkripsi. Manusia berotak encer itu harus berkejaran dengan waktu karena enkripsi yang dilakukan Jerman sangat sempit. Setiap 24 jam enkripsi yang dijalankan akan berubah dan hasil jerih payah enkriptor tersebut akan sia-sia. Ketimbang mencari rumus enkripsi yang berubah-ubah tiap hari, Alan Turing memiliki pemikiran lain. Ia menciptakan perangkat yang lebih canggih daripada enigma: Christopher. Christopher adalah sebutan untuk mesin canggihnya. Rencananya, Christopher akan digunakan sebagai pemecah enkripsi dan sandi tersulit di dunia yang tidak dapat diselesaikan manusia.

Christopher jenius. Jauh lebih jenius daripada enigma. Perangkat ini jauh superior daya pemrosesannya. Namun begitu, penggunaannya masih tak terdefinisi. Layaknya mesin pencari, alat canggih ini butuh kata kunci yang diperlukan untuk mengolah kecerdasannya. Butuh satu clue yang dapat memicu gerak otaknya. Masalahnya, Christopher nggak tau mau cari apa! Pemicunya enggak ada. Makanya selama hampir 6 bulan bekerja Christopher enggak dapat apa-apa.

Stress! Alan Turing stuck. Bingung akan kejenuisannya yang ternyata cela. Seolah bingung dengan jawaban dari ujian matematikanya yang enggak ada di pilihan ganda A, B, C, D, maupun E. Ada yang kurang! Dan puzzle yang hilang itu rupanya ditemukan dalam percakapan yang tak dikuasai Alan: percintaan.

Cerdas! Sutradara yang membuat punchline ini patut diacungi jempol. Mesin yang mirip otak manusia itu dideskripsikan sebagai perangkat yang sempurna namun butuh satu trigger yang pas agar tercapai kemiripannya.

Setiap manusia berbeda. Punya kecenderungan yang tak mungkin sama. Untuk menyebut Durian, manusia A dan B bisa saja diberikan pertanyaan yang berbeda: yang satu dengan “buah yang paling disukai,” dan yang lainnya “buah yang paling tidak disukai.” Dan dalam kasus ini, butuh pertanyaan yang sangat spesifik dari enkripsi itu: pola kata apa yang selalu ada dalam pesan keluaran enigma?

The Imitation Game Movie New Pic (2)

Jadi apa kata kuncinya? kata kuncinya: Hail Hitler!

Akibat terlalu stresnya bekerja tanpa hasil, mereka akhirnya memutuskan pergi ke bar. Kawan-kawannya bersenang-senang. Hanya Alan Turing yang masih belum move on dengan usaha kerasnya. Banyak yang having fun, sisanya masih membicarakan pekerjaan mengenkripsi yang tak ada habis-habisnya. Tidak sengaja, Alan Turing mendengar ucapan salah seorang enkriptor yang sudah bosan setengah mati mengerjakan pekerjaan sia-sia itu.

“Bosan sekali setiap hari harus mendengarkan curhatan lelaki itu. Seperti mau mati saja,” begitu kira-kira.

Alan terhenyak. Curhat? Lelaki? Tiap hari?

“Kau dapat mengenkripsi tiap hari? Tahu dari mana dia laki-laki???”

Jawaban dari itu semua menyelamatkan inggris dari kekalahan perang dunia.

Menariknya, mereka yang sudah menemukan kunci pemecahan sandi enigma tidak serta-merta melaporkan keberhasilannya. Ada sesuatu yang lebih penting: strategi. Perang tidak dapat dimenangkan dengan hanya mengetahui rencana penyerangan musuh. Inggris butuh menahan diri untuk mengumumkan keberhasilannya. Butuh pengorbanan bagi mereka untuk menjaga rahasia itu. Maka, ketika sandi di hari itu mengumumkan penyerangan kapal yang berisi 500 orang sipil dan seorang kakak dari salah satu enkriptor, kesabaran dan keteguhan mereka harus dikedepankan. Semua karena satu tujuan: kemenangan dalam perang!

Film dimulai dengan berita kemalingan seorang dosen matematika bernama Alan Turing. Detektif yang memeriksa kasus itu tidak menemukan sesuatu yang hilang, tetapi ia menemukan kejanggalan. Untuk itu ia membuat penyelidikan. Apapun penyelidikan itu agar sang detektif bisa mewawancara Alan Turing. Maka dibukalah kasus lain, yakni mengenai kasus pencabulan anak cowok. Ia diinterogasi mengenai hal itu. Tapi ada pertanyaan lain: soal kasus pencurian di rumah Alan Turing yang ternyata tidak ditemukan sesuatu yang tertinggal. Maka keluarlah kisah tentang seorang ahli matematika yang berjasa dalam kemenangan sekutu pada Perang Dunia.

Benedict Cumberbatch menjadi Alan Turing yang jenius, angkuh, penyendiri, dan trauma dengan hubungan orang lain. Kisah cinta sejenis yang gagal dengan kawan sekelas, Christopher, membuatnya menutup diri dan mengabdikan dirinya untuk mesin enkripsi buatannya. Tak heran jika mesin enkripsi itu dinamakan Christopher.

Dalam Sherlock Holmes, Ben memang angkuh pula. Sombong akan kejeniusannya dalam konsep deduksi buatannya. Tetapi watak yang lain sangat jauh berbeda. Ada daya humor yang meluap, cekatan, banyak bicara, dan tukang pamer. Salut dengan aktingnya.

Joan (Keira Knightley) dikesankan sebagai wanita pandai, jauh lebih pandai dari wanita kebanyakan di Inggris. Keira rupanya kurang bold dalam menunjukkan dirinya sebagai gadis desa yang jenius. Kurang sedikit lagi, tapi cukup meyakinkan. Gue apresiasi untuk perannya menjadi diri sendiri.

The Imitation Game dibuat dengan sinematografi yang rapi, detail, dan riil. Plot yang bebolak-balik juga membuat gue cukup menyimak isi film dan bagaimana awal kisah ini bermulai. Pantas memang film ini masuk Oscar, selayak Argo yang menang banyak nomine di dua tahun sebelumnya. Tapi gue enggak rela Interstellar kalah jauh sama banyaknya nomine film ini. Apalagi dengan Birdman. Ah birdman, cuma menang kisah Don Quixote-nya dan editingnya. Hih.

By the way, film ini keren!

Tagged: , , , ,

§ 2 Responses to The Imitation Game 「Review Film」

  • du3adelig says:

    iya film ini keren bangeettt gi sejarahnya. Cuma yg gw sayangkan alur ceritanya kurang greget pas para enkriptor nya sendiri ngerancang si Christopher (mesin aslinya namanya Bombe), terlalu banyak bahas romantismenya sih *iyalah biar ga garing2 amat kali ya. biar laku* Padahal yg bikin interest banget kan mesin nya ><

    • ibnumaroghi says:

      Hahaha iya emang perancangan christopher ga gitu diekspos. Padahal bisa diolah lebih dalem lagi kecanggihannya. Justru bisa aja engga garing dan jadi lebih keren Wii!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading The Imitation Game 「Review Film」 at B e r s a n t a i S e j e n a k . . ..

meta

%d bloggers like this: