Lagi, Cari Kerja

19 March 2015 § Leave a comment

Dan di hari yang biasa, dan momen-momen yang biasa, orang itu kembali menelepon,

“Sore, Pak Ibnu. Gimana kabarnya?”

Orang ini lagi. Wah, ada apa ya? Lowongan lain kah? “Iya, mbak Jo. Baik, mbak.”

“Pak Ibnu masih inget saya ternyata. Hehehe.”

#######

Belum genap dua bulan membaptiskan diri sebagai pejuang freelancer, hasrat serta semangat gue lamat-lamat kian luntur. Jaringan klien yang memang minim juga bakat alami dalam pemasaran yang endok besar berimbas pada keringnya pemasukan yang gue terima. Udah masuk tahap Siaga 1.

Harap dimaklumi, keputusan ini bukan digetok dengan tekad bulat, melainkan setengah harus dan separoh yakin. Hidup kadang nikmatnya jika kita bertindak A, sedangkan universe membikin kita kudu mensyukuri untuk memilih B. Penyesuaian keadaan, istilahnya.

Prospek kerja model oto-bebas seperti ini bukan tanpa keuntungan. Selain memiliki waktu kerja yang superfleksibel–suer deh, lo bisa bebas ke mana aja ngapain aja selagi temen-temen lo yang kerja kantoran ribet sama excel yang susah dimerge atau CAD yang tiba-tiba koit tanpa recovery. Freelance jadi ajang gue mengklaim diri sebagai seorang marketing yang handal…yang mana ungkapan handal tersebut berhubungan dengan peribahasa “kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda.”

Freelance juga menyadarkan gue betapa susahnya menjadi bos.

Gile, baru tau ogut. Ternyata menjadi bos enggak semudah membalik telapak tangan! Tangan kiri ya, bukan kanan.

Maka, sudah saatnya bagi gue untuk tidak sesukaan memfreelancerkan diri lagi saat pengalaman personal aja masih cetek. Gue harus menjadi pekerja! Gue harus bekerja! Gue harus CARI KERJA!

Kerja itu keniscayaan, brother. Mau lo ngendok di rumah mertua, atau sekadar ngekos di rumah ibu kos (bisa juga di bapak kos, terserah) sama-sama harus kerja. Kecuali lo orang hilang akal atau memiliki kepribadian khusus, itu boleh banget nggak kerja; sepenuhnya dilindungi undang-undang, my bro. Gue yang masih punya sisa-sisa kewarasan ini tentu berdaya-upaya untuk memenuhi tanggung jawab sebagai warga sipil yang baik. Gue harus menjadi pekerja! Gue harus bekerja! Gue harus CARI KERJA!

Lamar, Lamar, dan Lamar
Sebulan lebih ini gue udah kirimin lamaran kerja ke lusinan perusahaan. Ada yang design and build, ada juga yang kontraktor tok, bahkan general contractor pun gue jabanin. Tapi kebanyakan gue taruh di perusahaan konsultan.

Beberapa ada yang telpon untuk undang wawancara. Mayoritasnya sih udah pasti: jerih payah bio diri diabaikan begitu saja. Padahal CV yang gue lampirin udah cantik dan menawan ala-ala dzlfkr, loh. Tapi engga semua perusahaan sepertinya menerima kreativitas tingkat tinggi yang membuncah keluar dari pdf bernama “cv+porto ibnumaroghi small.pdf” ini. Fyi, CV tersebut memang bikinan gue, namun pada dasarnya basis referensinya adalah kreasi ijul bin isul.

Beberapa udah sampai tahap offering. Gue bersyukur banget ada yang menerima lamaran gue. Surat penawarannya sederhana, berisikan hak yang akan gue dapat jika menyetujui kesepakatan tersebut. Beberapa mengaitkan syarat atau conditional point tentang probation yang bakal gue jalani, hak yang disunat pada bulan-bulan percobaan itu, dan tentu saja poin pentingnya: jika pihak kedua (gue) DINILAI memenuhi syarat dan/atau melaksanakan kewajibannya sesuai arahan pricipal maka hak sebagai karyawan secara penuh bisa gue dapatkan. Dinilainya dengan apa gue nggak tau, tapi sedikit banyak parameter keberhasilannya dilihat dari sudut pandang principal saja. Entahlah, pada akhirnya gue memandang kesempatan yang terbuka ini kurang layak untuk gue.

Bukan karena perusahaan tidak memenuhi hak yang gue inginkan, pun bukan karena gue yang tidak capable. Agreement jelas merupakan ke.se.pa.ka.tan. Keinginan perusahaan kudu gue sepakati dan begitu pula sebaliknya. Perusahaan terkait jelas punya masa depan yang cerah, gue yakin. Dan saat ini bahkan sedang tune-in. Gue suka perusahaan ini karena gandrung dengan seni. Seni lukis, desain, fotografi, kontemporer, visual abstrak, dan pelbagai seni lain yang dapat dipamerkan dalam galeri kantor ini.

Galeri! Bayangin!

Perusahaan ini punya galeri untuk pameran seni dan punya spot cafe pula! Gimana nggak asik! Kelebihan-kelebihan itu yang membuat perusahaan ini menarik buat gue, dan kelebihan-kelebihan inilah yang juga membuat gue menarik diri dari lamaran yang udah diajukan.

image

Hal di atas tidak mungkin dikerjakan dalam waktu yang bersamaan dengan jam kantor, bukan? Akan sangat jelas gue bakal terlibat dengan event yang berlangsung. Praktis, gue harus lembur! Dan bukan enggak mungkin gue bakal sering nggak pulang demi perusahaan.

Dan terjadi lagi… Kisah lama yang terulang kembali~~~

Setelah kurang puas dengan kesepakatan pertama, gue tertarik dengan perusahaan lain yang membuka lowongan drafter juga. By the way, udah pada tau kan jabatan gue selalu jadi Drafter + 3D Visualizer? Nah, kepada setiap perusahaan, jabatan itulah yang gue ajukan untuk dilamar. Balik ke topik, gue sangat-sangat tertarik dengan prospek kerja di perusahaan yang memegang operasi mall terbesar dan terlama di Indonesia. Siapa yang nggak minat, cobak?

Gue udah tahap wawancara awal, udah psikotes pula, dan udah tes gambar serta ketemu user. Udah seneng dan antusias soal kerjaan yang bakal gue gelutin di beberapa tahun mendatang. Tapi naas, universe membuat gue harus bersyukur dengan tidak diterimanya gue di perusahaan ini karena ini jodoh orang lain. Hiks.

gue terpukul berhari-hari kemudian.

Secara logis, gue harus move on. Secara teori, gue ga bisa terpuruk ku di sini ala ala Katon Bagaskara. Gue cari lagi di semua tempat pencarian kerja di situs online (situs mana yang nggak online, coba?). Gue buka jobstreet, jobsDB, jobseeker, indeed.com, careerbuilder, dan beberapa situs lain yang kalo dipikir-pikir meragukan untuk di-apply. Apapun, yang berkaitan dengan drafting bakal gue lamar. Mau cocok apa engga, itu urusan nanti. Mau dipanggil apa engga, itu urusan mereka.

Gue akhirnya ditelpon untuk wawancara. Kali ini design and build. Perusahaannya cukup terkenal di kalangan pembaca salah satu majalah desain dan properti. Jelas gue tertarik. Gue bisa melanjutkan belajar menjadi seorang desainer. Gue sangat bisa mulai memahami desain dari awal penciptaan hingga akhir project.

Kantornya asik, mungil dengan adanya cafe yang dapat dijadikan sebagai ruang diskusi. Nah, ada cafenya juga! Bisa jadi surga kopi buat gue, yekan? Apalagi dengan jarak tempuh yang nggak gitu jauh dari rumah membuat perusahaan ini punya nilai tambah untuk gue jajaki.

image

Gue tertarik! Itulah shutout dari dalam otak. Kudu masuk! Kuliah sambil kerja, istilah Pak Dila: kerja tapi sekalian belajar, soalnya. Gue harus ambil jika kesempatan itu datang.

Ketika kesempatan itu datang, gue justru menolaknya.

Why, Gi? Why? Udah dikit lagi dan gue malah screw up.

Gue merasa perusahaan ini masih berpuas dengan dirinya yang sekarang dan belum siap untuk mengembangkan ke arah yang lebih matang. Bukan merendahkan, no offense, ya. Gue cuma merasa ketika sebuah perusahaan menawarkan pekerjaan haruslah dengan offering letter yang berisi hak serta kewajiban yang lengkap. Super lengkap. Hukuman, kebijakan perusahaan, dan hal-hal detail mengenai hubungan kedua belah pihak haruslah tertera. Dan itu tidak ada dalam surat kontrak kerja yang ditawarkan. Maaf aja, gue engga mau kejadian di perusahaan yang pernah gue geluti lima tahun lalu terulang lagi.

Dan terjadi lagi… Kisah lama yang terulang kembali~~~

Kembali lagi ada tawaran kerja dari kawan menjadi drafter proyek. Gue nggak suka, tapi gue coba. Lokasi kantor yang jauh dan jenis perusahaan yang nggak gue suka (pernah sebelumnya di perusahaan kayak gini selama dua hari, ga kuat) tidak membuat gue nafi. Gue tau gue nggak kapabel dan tetap gue jabanin segala psiko dan tes lain, yang mana hingga hari ini engga ada kabarnya lagi.

Saat itu gue baru aja balik dari anter ibu ke Cipto, di hari Kamis yang biasa, ada yang menelepon gue,

“Sore, Pak Ibnu. Gimana kabarnya?”

Orang itu lagi.

… (Bersambung)

Tagged: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Lagi, Cari Kerja at B e r s a n t a i S e j e n a k . . ..

meta

%d bloggers like this: