Tontonan

23 March 2015 § Leave a comment

Ada saatnya hidup bukanlah tentang bertahan. Mencari kenikmatan dari kesempatan membuat kegagalan. Ternyata rima kesengsaraan tidak hanya seragam, melainkan kembar, persis, tiada cela.

Jika aku menabur kesunyian tanpa malam yang gelap, akankah dahaga tentang damai tetap menggema.

…seolah panggilan semesta tak diindahkan?

Orang-orang tetap tinggal dalam lakonnya. Biru. Elok. Dan tak terkalahkan.

Padahal pintu keluar di depan mata, tetapi kaca memantulkan yang ada menjadi tiada. Dan berputar, seterusnya, dan seterusnya.

Cicak bergurau, “penonton sepertiku lama-lama bosan juga, cuk.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Tontonan at B e r s a n t a i S e j e n a k . . ..

meta

%d bloggers like this: