Lagi, Cari Kerja (bagian dua)

6 April 2015 § 4 Comments

Akhir bulan Januari, saat gue udah nggak kerja, pagi-pagi banget ada telpon dari sebuah perusahaan yang katanya melihat CV gue di jobstreet. Mereka sedang mencari orang untuk jabatan 3D Visual Marchendiser, pekerjaan yang terkait dengan pekerjaan merender 3D. Orang yang menelepon itu adalah mbak Jo.

Karena berminat, gue ajukan CV dan portofolio. Cukup itu, dan gue bakal dihubungi lebih lanjut setelah user melihat dan mereview perkenalan singkat satu arah gue itu. Selang beberapa hari ada pemberitahuan bahwa, sayang sekali, untuk saat itu gue belum masuk dalam kualifikasi jabatan yang terkait. Poor me.

Kini, beberapa minggu berselang, mbak Jo menelepon gue untuk memberitahukan kabar yang mungkin membuat gue gembira.

“Untuk lowongan sebelumnya bapak memang belum memenuhi kualifikasi karena harus punya basic marketing juga. Jangan berkecil hati ya, Pak.”

Gue mendengarkan.

“Sekarang kami juga sedang mencari jabatan lain yang berkaitan dengan skill bapak: Showroom Maintenance.”

“Boleh mbak. Bisa, bisa!” Ga peduli kerjaannya apa, yang penting berhubungan dengan skill yang bertahun-tahun gue asah dan juga agar bisa jadi bagian dari perusahaan ini.

“Bapak Ibnu bisa datang ke kantor kita, nggak? Besok pagi.”

“Bisa, mbak! Bisa banget.”

“Okedeh. Besok sampai ketemu ya. Ketemu saya dan Pak Ade.”

“Makasi, mbak.”

“Iya, terima kasih, Pak Ibnu, sudah bersedia.”

Perusahaan yang satu ini adalah pemain besar dalam percaturan dunia keramik di Indonesia. Bisa dibilang, perusahaan ini pemimpinnya. Big boss. Kontraktor manapun ga mungkin silap mengenali perusahaan yang udah berdiri lebih dari seperempat abad. Otomatis gue ga mau membuang peluang karier gue dong dengan mengabaikan panggilan ini. Usaha! Gue kudu usaha, gimana juga caranya!

Hari yang dinanti tiba: Jumat yang teduh, dengan semangat ’28 (Semangat Sumpah Pemuda) gue naik ojeg dari Stasiun Karet. Excited!

Gedung pulpen itu begitu megah kali ini. Padahal gue sering memperhatikan keunikan tiap inci (ga sedetail itu juga kali!). Hari ini lain.

Gue jadi inget kejadian di bulan Juli 2010, hari di mana gue dinyatakan mendapat beasiswa kuliah di UI. Hari itu pula gue kudu kirum faksilime ke pihak rektorat terkait biodata. Jika tidak segera, beasiswa hangus! Di situlah plot twist terjadi. Gue ada urusan di lapangan untuk supervisi project bersama Pak Blu. Usai cek lapangan, gue ga bisa langsung balik ke kantor. Saat itu juga orangtua dari pengawas kantor meninggal. Innalillahi. Semua orang kantor ikut nguburin di sekitar Slipi. Aneh kan kalo gue sendiri malah balik ke kantor?

Gue pikir udah, tinggal balik. Kampretnya, Pak Blu ada urusan di sekitaran Sudirman, mungkin ketemu klien. Gue yang mau cabut duluan dilarang, nanggung katanya. Kampret! Udah tinggal sejam lagi dan gue kudu nunggu bos ketemu klien.

Lagipula, siapa sih yang kerja di sekitaran Sudirman? Emang nggak bisa dia yang dateng langsung ke kantor? Kayak kantornya keren aja sampe bikin gue gagal dapet beasiswa…

“Tunggu bentar ya, Pak Pi, Gi.” Gue udah niat mau nunggu di mobil aja sampe mata gue ngimpleng ke puncak gedung yang dimasukin Pak Blu.

Menara BNI!

Gue speechless. Bukan apa-apa, gue sering liat di latar para anchor TV (mungkin SCTV) berdiri menjulang, tinggi dibanding gedung lain. Tapi baru saat itulah gue berdiri di kaki menara yang keperkasaannya mengalahkan pikiran beasiswa gue. Keren banget! Di hari itu gue berharap, gue bisa kerja di gedung setinggi itu.

Sesi wawancara adalah salah satu sesi yang paling gue nggak senangi. Kalo aja wawancara bisa lipsync, gue adalah orang pertama yang ingin melakukannya. Gue yakin, pertanyaan paling mendasar dari pewawancara adalah “Kenapa sastra kerja jadi drafter?”

Kenapa, wahai pewawancara? Kenapa enggak? Gue pasti menjawabnya dengan berteriak… dalam hati.

Pertanyaan ini nggak pernah absen dalam sesi interview, di manapun tempatnya. Gue pastinya dengan sabar menjelaskan bahwa inilah jalan gue sebagai seorang desainer. Bahwa segala sesuatunya berkaitan hingga tak perlu mengkotak-kotakkan disiplin ilmu dalam pekerjaan.

“Kamu bisa mulai kapan? Awal bulan April gimana?”

“Bisa, Pak! Bisa banget.”

“Selamat bergabung di perusahaan kami.”

TAMMAT

Tagged: , , , , ,

§ 4 Responses to Lagi, Cari Kerja (bagian dua)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Lagi, Cari Kerja (bagian dua) at B e r s a n t a i S e j e n a k . . ..

meta

%d bloggers like this: