iRamadan

18 June 2015 § Leave a comment

Gue adalah tipikal orang yang sulit beradaptasi dengan lingkungan baru. Gue enggak akan lupa sulitnya beradaptasi ketika pertama kali masuk sekolah dasar—langsung digulat Enggar. Selulus SD, gue di awal SMP diganjar dengan jabatan ketua kelas—hari itu juga diprotes Zulva. Dan masuk STM! Siapa yang tidak enggan masuk sekolah teknik? That’s not my own choice! Pilihan bapak nggak ada yang teramat menyenangkan. But better than SMEA, gue prefer STM, dong. SMA hanya tinggal impian.

Gue itu kaku. Sulit banget untuk berbaur dengan orang lain, bahkan untuk sekadar say hallo. Sulit bagi gue untuk menyesuaikan diri di situasi yang baru. Sulit, dan itu terjadi berulang-ulang.

Ramadan ini adalah kali keempat gue berpuasa tanpa bapak. Bapak yang selalu pendiam, jarang berkata apalagi bercanda, jauh berbeda dengan gue yang bawelnya kayak perempuan, adalah orang terdekat di dalam keluarga. Adalah sebuah keguncangan besar ketika gue menyadari dirinya telah pergi.

Diri gue sendiri adalah anak tertua, anak lelaki tertua, yang diandalkan ibu dan kedua adek. Di hampir tahun keempat ini, gue rasa-rasanya masih belum mampu menakhodai keluarga ini sebagai seorang pemimpin.

Ramadan ini juga merupakan tahun pertama gue menjalankan puasa di rumah ‘Nyak. Setengah tahun ini ibu terkena penyakit dan membuatnya tidak dapat beraktivitas selain beristirahat di sini. Mau nggak mau gue kudu numpang di rumah ‘Nyak untuk menjalani rutinitas. Ga mudah menerima kenyataan ini. Gue harus berkali-kali meyakinkan diri untuk berkata, “Hey, jalani saja dulu seperti peralihan SD ke SMP, SMP ke STM, STM ke dunia kerja! Cause everything gonna be okay, dude.”

Gue cukup mahir dalam bermonolog, bercakap-cakap di dalam pikiran sendiri. Maka tidak heran jika kali ini gue bisa meyakinkan diri sendiri untuk tetap kuat dan yakin akan hari esok.

Hidup bagi gue adalah menjalani rutinitas dengan menerima kenyataan-kenyataan yang tidak kita duga. Realitas yang acceptable tidak datang begitu saja, melainkan dicobakan, kegagalan demi kegagalan, berulang-ulang hingga dapat kita terima.

i Ramadan

Tagged: , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading iRamadan at B e r s a n t a i S e j e n a k . . ..

meta

%d bloggers like this: