22 July 2015 § Leave a comment

JEGÉR!

Sebuah halilintar terhujam dari sudut awan gelap, bergumul dengan reruntuhan butir hujan. Sebuah pertanda, satu goresan takdir yang mungkin membekas, yang mungkin pula sekadar ada.

DHUAR!
“Mari buat olok-olok!”

Adalah hidup yang memilih. Di sela kesibukan urusan penting di langit, lahirlah sebuah kehidupan mungil. Terseok suara sendiri. Meratapi ketidaktahuan, juga tentang bagaimana menyadari sebuah ketidaktahuan.

Waktu berputar, berkelindan dengan hari yang berganti dan terus berganti. Cerita, nasib, tanya, warna, entah… sang hidup tak menahu, alih-alih memahami.

“Ha, olok-olok! Lelucon yang lucu. Ha ha ha ha.”

Tawa, canda, keluarga, semua tak kurang dalam nampan sajian. Terhidang untuk dilahap dengan…

Tapi toh hidup begitu sepi. Tak mungkin hidup seperti ini; ku sendiri, tak berarti.

Iyakah?

?

?

?

Iya… kah?

?

?

?

…kah?

…kucoba bertanya pada manusia, tak ada jawabnya.

…ku bertanya pada langit tua,

Langit tak mendengar.

Tagged: , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading at B e r s a n t a i S e j e n a k . . ..

meta

%d bloggers like this: