Roda Berjalan, Kadang ke Belakang

31 October 2015 § 2 Comments

Hari ini adalah de javu dari setahun lalu mengantar ibu check up penyakit tulang belakangnya. Gue kembali pada masa-masa kuliah semester akhir mahasiswa sastra dengan status karyawan di konsultan interior. Kehidupan absurd nan mengernyitkan dahi takpernah seekstrim ini.

Ada rasa jengah ketika harus membayangkan sesi-sesi membosankan dari tipikal rumah sakit bukan swasta. Prosesi pendaftaran bagi penyandang status warga menengah-bawah ini cukup berbelit bak memasuki labirin. Ada tak kurang dari empat antrean untuk bisa memasuki ruang praktik dokter. Bahkan lima, ternyata.

Antrean kedua adalah mendaftarkan jaminan kesehatan–dalam hal ini KJS–sebagai alat pembayaran sah di rumah sakit non-swasta di ruang jaminan. Jaminan inilah yang meringankan beban gue (dalam kasus operasi wasir) dan keluarga, terutama ibu (penyakit kanker payudaranya dari zaman SKTM dan setahun terakhir ini dengan penyakit tulang belakang).

Tentu sebelum antrean kedua ada antrean pertama, dan ini yang rada mengesalkan karena harus dipersiapkan dari jauh sebelum subuh agar mendapatkan posisi terbaik untuk bisa memasuki ruang dan antre di loket jaminan masing-masing.

Antrean ketiga ada ketika ingin masuk ruangan poli yang dituju. Sebelumnya bebas masuk-keluar, dan imbasnya ruang tunggu jadi sangat crowded sulit bergerak untuk pasien dan bahkan sulit bernafas saking penuhnya manusia di dalamnya. Sekarang tiap pasien hanya boleh ditemani oleh satu pendamping dengan diberikan tanda pengenal di depan pintu masuk ruang poli agar suasana di dalam lebih nyaman dan kondusif.

Setelah masuk ruang poli, pasien masih harus menunggu namanya didaftarkan di poli terkait. Dalam ruang tersebut, sudah ada pembagian poli yang lebih spesifik. Misal, poli bedah dibagi menjadi orthopaedi, vaskular, tumor, dan urologi. Di tiap-tiap itulah nama pasien didaftarkan hingga nanti dipanggil, tanda bahwa pasien masuk list dipanggil ke ruangan dokter spesialis terkait.

Tiap pasien memiliki rekam-jejak medis di rumah sakit, dan arsipmya disebut dengan istilah status. Status pasien sebetulnya sudah diproses ketika didaftarkan di loket jaminan. Saat antrean keempat, boleh jadi status berada di ruang spesialis yang dituju. Namun tanpa antrean keempat, statusnya hanya akan teronggok tak berguna di pojok meja suster karena tidak akan ada panggilan kepada pasien ke ruangan dokter. Dan antrean panggilan dokter itulah yang terakhir sekaligus yang paling lama karena tiap pasien lebih dari seperapat jam dengan jumlah puluhan pasien. Bosan pasien dibuat menunggu.

Menunggu panggilan dari ruang poli bedah membuat gue muntab. Lama nian. Gue nggak akan mengkomparasikan dengan lamanya jomblo menunggu sang jodoh berada di pelukannya karena hal itu sangat intimidatif. Dan secara paradoksial, gue suka mengintimidasi orang.

Menunggu tak selalu menjemukan, kok. Tentu kita akan menemukan jawaban serupa jika bertanya pada jomblo yang tangguh. Atau pada jomblo yang pura-pura tangguh tapi rapuh hatinya. Dan lagi-lagi gue ga akan membanding-bandingkannya. Ga perlu.

Gue tentunya bukanlah orang yang sabar. Cenderung nggak sabaran malah. Dulu gue hampir setiap ikut ibu konsultasi di ruang praktik nggak alpa marah-marah. Kesal karena penanganan yang lamban dan ketiadaan dokter penanggung jawab tiap pasien. Ibu gue macam outsourcing aja jadinya, ga jelas siapa tenaga medisnya tiap kali kontrol. Pasien serta keluarga sulit mengklaim keluhan atas permasalahan/keluhan di kunjungan sebelumnya karena dokternya tak pernah sama.

Dan meski sulit akhirnya menerima, seperti inilah roda gue yang sedang dan harusnya berjalan. Pada akhirnya tidak akan pernah ada tuxedo bertopeng atawa spiderman dengan kostum spandexnya yang akan mengubah nasib seorang warga sipil yang sangat mengidolakannya. Gue harus ada dan menggerakkan roda itu, pun jika harus berbalik dan kembali ke arah yang pernah dilewati.

Gue. Harus. Ada.

Tagged: , ,

§ 2 Responses to Roda Berjalan, Kadang ke Belakang

  • galuhsakti says:

    Semangat, Ogi! Doa baik selalu mengiringi. Semoga ibumu lekas baik-baik aja. Semoga elu juga baik-baik aja. Semoga pelayanan RS jauh lebih baik lagi biar lu gak marah-marah dan muntab. amin amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Roda Berjalan, Kadang ke Belakang at B e r s a n t a i S e j e n a k . . ..

meta

%d bloggers like this: