Bertemu Jaga Portibi

19 February 2016 § Leave a comment

*JGERRRR!* *kebangun di tengah tidur untuk belasan kalinya di malam ini*

Sudah hari kelima gue demam, di malam yang busuk ini gue mengalami hal yang membahayakan!
*istighfar*
*nyebut2*
*bangun bangun makan nasi ama garem*

Kalian pasti ga bakal percaya apa yang gue omongin. Kalian mungkin bilang gue hanya mengada-ada. Kalian pikir tulisan gue hanya bualan! Kalian kira yang gue rasakan cuma mimpi!

EMANG! Ini terjadi di alam mimpi!

Kalo kalian udah pernah baca buku Supernova Gelombang, kalian akan tahu rasanya jadi gue. Terbayang-bayang ketakutan entah pada apa. Terhantui oleh sosok yang selalu muncul ketika terlelap dan masuk ke ruang mimpi.

Anyway, kalian tahukah tidur yang baik adalah yang tak merasakan adanya mimpi?

Correct me if i wrong, setiap dari tidur kita ada alam mimpi. Tidur yang lelap adalah yang tak mengingat apa mimpi(-mimpi) kita, sedangkan sebaliknya, mimpi akan sedikit mengingatnya atau justru mengganggu tidur itu sendiri. Dan gue sedang mengalami tidur, lalu mimpi dengan munculnya sosok aneh yang menjejali otak serta pikiran hingga membangunkan tidur, lalu keletihan menidurkan keterbangunan gue, tertidur lagi, berkali-kali, begitu seterusnya, yang saling menghantui hingga gue memutuskan untuk mendeskripsikan kegelisahan ini menjadi sebuah tulisan.

Dalam kasus Supernova Gelombang, tokoh Alfa dideskripsikan sebagai “anak ajaib” di kampungnya (Batak) sehingga dapat melihat makhluk gaib kepercayaan mereka yang lama telah menjadi legenda. Makhluk gaib tersebut tidak tergolong baik/buruk, hanya tergantung bagi siapa yang menafsirkan. Kedatangannya di sekitar Alfa juga merupakan suatu tanda bahwa dia adalah yang terpilih.

Alfa hanya seorang anak sekolah waktu itu, entah SD atau SMP. Seorang pelajar yang banyak akal. Namun, seorang anak tetap saja masih tergolong anak-anak jika di tiap tidurnya selalu  bertemu dengan Jaga Portibi dan lehernya otomatis tercekik hampir kehabisan napas?

Sosok itu selalu ia lihat ketika sedang terlelap. Dan di saat itulah waktu-waktu menegangkan ia bersama status hidup-matinya. Tak lama ia merapatkan mata, sontak momen-momen yang sama, berkali-kali, terulang bak adegan Edge Of Tomorrow, dan nyaris mati! Gila!

Dan itu yang menimpa gue pagi ini.

*****

Flashback

Hari Senin entah kenapa menjadi hari yang lambat. Segalanya berputar dalam slow motion. Di kantor, gue jadi sulit untuk diajak bicara, apalagi diajak kerja sama. Seperti ada selaput tipis antara gue dan orang-orang di sekitar untuk sekadar berkomunikasi. Entahlah. Di saat jam menunjukkan pukul 11.00, yang mana dalam otak gue sudah merasakan lebih dari belasan jam, gue minta izin pulang. Sakit.

Gue dinyatakan masuk angin oleh dokter yang meriksa siang itu di klinik dekat rumah. Well, ini akan berjalan seperti biasanya, gue pikir saat itu. Makan, minum obat, istirahat, bangun-bangun bugar, dan siap besoknya ngantor.

Ternyata enggak!

Bahkan sampai dua hari ke depan gue justru nggak turun demam dan batuknya. Panik. Trus nggak panik karena cewek gue dateng sore-sore bawa dirinya. Agak mendingan demamnya.

Gue minta dia temenin ke klinik lain. Tentunya gue masih berani bawa motor. Sampai di sana emang nggak terlalu demamnya, namun terasa ga enak badan. Dikasih obat lagi deh di sini, lain dari obat klinik sebelumnya. Salah satunya antibiotik tipes untuk mencegah gejalanya dari awal.

Paginya alhamdulillah segeran. Jalan rada enakan, beda dari hari-hari sebelumnya. Gerak juga lebih ringan. Tapi hanya itu. Gue nggak berani ngelakuin kerjaan besar, atau bahkan ngantor. Too risky. Alhasil gue hanya nyalurin hobi yang baru gue temuin akhir-akhir ini: window shopping running shoes adidas.

Beberapa bulan belakangan gue lagi rajin-rajinnya running. Lari. Sibuk mau gendutin badan. Lalu, beberapa minggu belakangan gue rada iseng liat instagram orang yang mamerin running shoes mereka. Dan di saat-saat punya waktu luang seperti inilah gue punya sumber daya untuk menjelajah internet demi meredakan haus akan sepatu lari. Gue cari yang khusus, engga sembarang, serta nggak terlalu hmm… let say, norak. Dan inilah yang bikin gue keranjingan.

Sepatu lari biasanya warna-warni. Kenapa warna-warni? “Ya apa lagi kalo bukan buat show off! Sepatu beli mahal-mahal warnanya item doang, emang sepatu safety.” Semacam itulah jawaban dari Ijul.

Gue sebaliknya! Gue pengen running shoes yang enak dipakai, enak dilihat, dan engga terlalu mencolok mata saat dipakai kerja. Itu!
Gue perhatiin dari model-model adidas yang seperti itu memang agak sulit karena
1. Running shoes jelas-jelas berwarna lebih dari 1, ga mungkin hitam aja.
2. Modelnya jarang banget yang casual.
3. Harganya nggak bohong. Mahal.

Setelah bersungut-sungut seharian melihat harganya yang selalu ga cocok dan memaki-maki ponsel gue yang juga cepet panas (screw you, MIUI!), gue tersadar bahwa keinginan gue hanya akan membawa kekecewaan. Semacam istilah expect just makes you dissapointed. Itulah, hanya membawa kekecewaan belaka. Dan gue meratapi nasib betapa tak sejalannya dua hal yang memang berbeda ini. That’s not gonna works. Hiks. Model yang ada ga bikin gue tertarik.

Dan justru Adidas Ultraboost Grey dengan lekukan indahnya-lah yang kini menggerayangi gue saat masuk ke alam mimpi, menyumpal bulat-bulat potretnya ke dalam otak, frame demi frame menjejali pikiran hingga gue terbangun, shocked, lalu berguling ke kiri, tertidur, terulang lagi lalu berguling ke kanan, dan seterusnya dan seterusnya.

image
I’LL FIND YOU AND I’LL FIT YOU !!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Bertemu Jaga Portibi at B e r s a n t a i S e j e n a k . . ..

meta

%d bloggers like this: