Naik Bentor

11 March 2016 § 4 Comments

Pengalaman pertama naik bentor, kesannya adalah … excited! Well, ada cerita di balik keexcitedan gue. Fiuh…

Gue itu termasuk orang yang malas naik kendaraan berasap kalo jaraknya tergolong dekat. Satu setengah kilo, lumayanlah untuk nguapin keringat. Tapi hari ini lain. Amat malas jalan kaki di Medan nenteng-nenteng kardus seberat 11 kilo lebih 270 gram. Isinya cuma katalog pula. Bah, rugi kali!

Mending dijemput orang HOR (House of Roman). Enak, tanpa biaya, gratis pula. Makanya, sejak awal gue landed di Kualanamu, udah gue WhatsApp masing-masing mereka. Dan ternyata mereka nggak ada yang respon. Sekalinya ada, dia off ngantor. HJKLSKDKFHFKFKHKK!!

Fine, gue kudu cari akal. Dan karena akal gue pendek, bentor adalah jalan satu-satunya. Yup, satu-satunya. Becak amat mobilelessness, sedangkan ojek/gojek ga punya space gede untuk nampung katalog 11kilo. Pun gocak–yeah, you got me: gojek becak–malas kali download aplikasinya, apalagi sign up nya. Blah blah blah. Bentor adalah satu-satunya.

Ga bisa gue deskripsikan dalam bahasa manusia bagaimana kegirangan gue naik becak bermontor (karena kalo bermotor, jadinya betor, atau bemtor, whatever). Dan gue hanya bisa berselfie. Hadiah buat kalian yang cape-cape baca kisah ini. Love you too, guys!

image

§ 4 Responses to Naik Bentor

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Naik Bentor at B e r s a n t a i S e j e n a k . . ..

meta

%d bloggers like this: