Nyaris

14 August 2016 § Leave a comment

“Abang jadi pergi ke Medan?”

Pertanyaan basa-basi adek gue yang perempuan lewat gitu aja di otak gue. Malem-malem gini malah nanya yang retoris. Dalam hati gue bales, “Yaiyalah jadi. Masa duit kantor dibuang-buang.

Crap! Setelah mencerna ulang kata-katanya, baru sadar bahwa gue udah ketiduran. Cepet gue cari hape, ternyata udah jam 4 dan udah setengah jam lebih terdisplay riwayat miskol nomor tak dikenal sampai 10 kali. Pasti ini nomor ponsel sopir taksi yang udah gue pesan kemarin buat jemput.

* * * * *

Sejak rajin menenggak kopi, gue jadi insom-addict. Tiap malam adalah jam melek gue. Insom adalah penyakit. Dan gue sering banget telat gara-gara harus membuka mata semalaman untuk tidak berbuat apa-apa. Gue coba untuk bisa tidur dengan main PES. Kadang berhasil, sisanya bikin gue tambah susah merem. Gue juga coba nonton film atawa serial tv, hasilnya adalah gue justru berhasil mengusir ngantuk. Hanya dengan lagu-lagu di playlist spotify aja yang melulaby hingga gue bisa pulas. Thanks to sptfy! *semoga marketingnya liat postingan gue ini dan dianggap endorse.

Efek sampingnya, gue banyak bangun siang dan terlambat sampai kantor. kadang gue paksain ngebut untuk ngejar jam masuk supaya ga kena potong cuti. Tapi seringnya gue relain aja, iklasin cuti gue disunat buat kompensasi keteledoran gue. Af! Bagian terlambat masuk kantor masih belum seberapa. Yang parah adalah kalo sampai telat check in flight pesawat. Kerjaan gue emang nuntut untuk kunjungan luar kota, ke Medan. Untuk pergi ke sana, gue diharuskan mengambil jadwal maksimal jam 6 pagi! Alhasil, gue harus prepare 2-3 jam agar gue ga ketinggalan. Gue butuh bangun jam 3 pagi, coba! Insom ini akhirnya memperparah scenario bangun siang gue.

Gue dibuat serba-salah. Dengan kondisi tidur yang ga bisa di bawah jam 9 malam, udah bisa dipastikan gue bangun siang. Jangankan bangun jam 4, jam 5 aja gue ragu. Pilihan lainnya adalah semacam bunuh diri, tetap bangun semalaman hingga duduk dengan kencangkan safety belt di pesawat yang pada akhirnya mengacaukan kesadaran gue selama trip di Medan. Badan ga sehat, otak senewen. Parah. Pilihannya ga ada yang beres. Keduanya sama-sama bikin stress.

Gue lebih milih begadang. Milih bunuh diri. Biarin. That’s better than killing myself and my boss in one punch. Daripada kesiangan dan angusin tiket Jakarta-Medan PP sekaligus voucher hotel yang capek-capek dipesan sekretaris bos, mending gue begadang.

Dan malam ini gue berniat untuk begadang. Lagi.

Seperti biasa, gue tonton berepisode-episode serial dan bermatch-match PES. Keduanya favorit bikin gue melek terus. Sialnya, malam itu gue tertarik buat download beberapa film bagus. Memang kecepatan akses Indosat Ooredoo udah meningkat pesat. Dan gue suka itu! Tetapi banyaknya film yang gue sedot, bikin kecepatannya terbagi banyak pula. Dan alhasil bikin gue malas menunggunya, dan akhirnya bikin gue mengantuk…lalu pulas tertidur.

FAK!

Gue panik. Saat itu gue udah panik sepanik paniknya. Ngerasa bersalah sama sopir taksi. Buru-buru gue telpon balik nomor yang udah miskol itu, dan bukannya minta maaf gue justru syok dan nahanin gelak tawa. Suaranya medhok.

“Bhapak’e dhi mana? Hhalok? Shayya uddah tilpon bhapak’ berkali-kali gha diangkat.”

Syit! Ga jadi gue minta maaf. Sepanjang perjalanan suara itu ga ilang-ilang dari kepala. Dan sampai sekarang, hingga gue ceritakan di blog ini. . .

hermes

Tagged: , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Nyaris at B e r s a n t a i S e j e n a k . . ..

meta

%d bloggers like this: