A Monster Calls [review]

21 October 2016 § Leave a comment

mv5bmtg1ota5otkynv5bml5banbnxkftztgwodmwndu5ote-_v1_sy1000_sx675_al_Dulu, gue ngerasa fase kehidupan laki-laki berkisar pada masa-masa balita, lalu anak-anak, kemudian remaja, tidak lupa menjadi alay, dan yang terakhir adalah dewasa seutuhnya. Anekdot masa kini. Ternyata ada yang ngelewatin masa itu tanpa fase alay.

Banyak cerita-cerita fantasi yang menyuguhkan kisah happy ending. Si protagonis dianiaya antagonis, prota tak dapat berbuat apa. Kisahnya tragis, yang pada akhirnya memunculkan sang jagoan untuk menolongnya dari kekejaman. Semua adalah tentang kenyataan yang ingin kita dengar.

Bukan realitas.

A Monster Calls dimulai dengan narasi sederhana. Seorang anak kikuk yang tampangnya minta dibully oleh kawan sekolahnya hidup bersama seorang ibu–single parents. Sang ibu terserang kanker. Bukan kanker amateur, melainkan stadium akhir yang bisa saja tiba-tiba kolaps. Situasi yang memungkinkan persona seorang bocah 12 tahun menjadi aneh dan rentan. Dan besar tanpa saudara kandung.

Malam demi malam dihabiskan dengan memimpikan hal yang sama. Buruk. Berulang. Serta Bersambung…

Con–nama anak itu–bukan seorang anak yang memiliki kekurangan, apalagi keterbelakangan. Justru sebaliknya, Connor mempunyai sisi yang orang lain tidak punya: humanis. Perasaan untuk menjadi manusia seutuhnya, berguna bagi orang lain. Hanya ketika di depan ibunya ia menjadi orang yang tak berdaya. Ada ketakutan di dalam matanya, saat ia melihat kondisi ibu. Sedih bukan alang-kepalang.

Hidup adalah rentetan peristiwa, kadang acak, sering kali justru berkelindan, yang sulit orang sadari maknanya. Tak jarang ada yang menyeru, “Hidup itu tidak adil!” Perasaan yang tak nyaman karena nasib baik tak memihak dirinya, tersiar dari ucap yang merasa dirinya paling benar.

Film ini mengangkat nilai-nilai terpuji dari cerita pahit. Ada sebuah proses belajar seorang remaja yang dipaksa–atau menurut istilah gue diakselarasikan–menjadi diri yang dewasa. Soal bagaimana Con menyiapkan perasaannya setelah ditinggal ibu. Dan segala mimpi buruk tersebut dipicu oleh rasa belum bisanya menerima kenyataan yang teramat pahit.

Kesembuhan bagi gue adalah pulihnya tingkat kesehatan kita setelah kita sakit. Setidaknya itu hal yang gue yakini. Hingga hari ini. Setelah gue menonton pilem ini, gue sadar, kesembuhan adalah sesuatu yang lebih rumit dari sekadar menyembuhkan orang yang sakit. Sembuh adalah juga soal penerimaan orang-orang sekitar yang memiliki perhatian lebih terhadap mereka yang sakit.

Lewis MacDougall sangat menghayati sebagai bocah tanggung non-alay yang akhirnya berevolusi menjadi dewasa. Emosinya tak stabil, cocok dengan kondisi keluarganya yang memang tidak terlalu baik: kedua orangtuanya berpisah.

Felicity Jones yang didapuk menjadi ibunya, sungguh betul juara. Watak serta pewatakan yang sulit mampu ia terjemahkan ke dalam sosoknya: lesu, tak-terawat, serta memilukan hati. Salah satu aktris yang menurut gue berbakat di setiap karakter yang ia mainkan. Di pilem fantasi-anak ini, ia sangat menyentuh hati.

A Monster Calls membuat imajinasi kecil gue muncul lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading A Monster Calls [review] at B e r s a n t a i S e j e n a k . . ..

meta

%d bloggers like this: