La La Land review

Director: Damien Chazelle
Writer:Damien Chazelle
Stars: Ryan Gosling, Emma Stone, Rosemarie DeWitt

lalaland

Gue sedang membayangkan di satu hari yang biasa di sebuah kedai kopi yang tidak terlalu enak kopinya tapi banyak orang pergi ke sana. Salah satu pelanggan yang memesan espresso double shot favoritnya pagi itu adalah seorang produser film Hollywood dengan para konconya untuk membicarakan ide-ide baru untuk pembuatan sebuah film bertemakan cinta di hollywood. Cinta yang biasa, dengan hal-hal tidak biasa di tiap adegannya. Diskusi ringan dengan efek yang bakalan tidak dianggap ringan di kemudian hari. Dimulailah diskusinya…

Produser 1, medioker: Dari awal sampai akhir semuanya senang-senang. semua happy! Penonton drakor cocok nih buat targetnya.

Produser 2, medioker pula: Dari awal sampai pertengahan bikin susah, tapi akhirnyakita buat yang happy ending. Penonton drama barat paling pas nih nonton tema begini.

Sutradara: Dari awal sampai pertengahan bikin kelihatan hepi semua, di akhir kita buat sempurna: sad ending. Penontonnya juri Golden Globes atawa Academy Awards pas banget nih!

Semua: SETUJU!

lalaland-feature

Bagi gue pribadi, dunia film memang nggak pernah bikin kisah cinta yang dibuat sempurna!

Hampir semua orang menginginkan akhir yang bahagia. Yang seperti itu bisa dicari di arsip Marvel, DC, juga Disney. Tapi penghargaan seperti Golden Globes atau Oscars tidak butuh akhir yang bahagia. Justru kalau perlu tragis sekalian. Maka, ketika La La Land hadir di layar-layar bioskop, penggemar si minoritas ini kegirangan bukan main.

*****

La La Land bukan hasil kreatif Damien Chazelle dkk dengan tujuan naif. Penghargaan merupakan target kesekian dengan mengutamakan ide-ide orisinal sutradara tentang jazz, girah bernostalgia yang terlalu melankoli, serta pertunjukan konsistensi terhadap estetika seni.

Film ini penuh dengan pujian gue atas tontonan yang memikat lagi menghanyutkan.

Damien Chazelle dan Jazz
Filmnya memang baru sedikit, tapi mostly nggak jauh dari musik Jazz. Whiplash, Guy and Madeline on a Park Bench, dan La La Land ini adalah tentang jazz. Jazz itu apa dan bagaimana, sejauh yang gue tahu adalah gue ga tau apa-apa soal Jazz, kecuali memberikan gelar Damien Chazelle sebagai si Bos Jazz. Sekian.

Melankolia Nostalgia
Apa yang ditunjukkan La La Land adalah sama dengan yang selalu kita lihat dalam film Bollywood. Film, drama, dan nyanyian. Sama. 100% guarantee! India memang kalau bikin film selalu musikal, tapi apa yang gue lihat berbeda adalah film Hollywood kini tidak ada yang seperti pola tersebut. Maka, La La Land menjadi begitu terperhatikan dengan gaya oldiesnya.

Kostum adalah satu hal dari banyak hal yang membikin kita merasa film ini begitu terpengaruh film lama. Kedua adalah latar yang jarang sekali menampilkan spot-spot kekinian, justru mobil dengan kap terbuka yang khas, seperti kisah gegayaan ala 70’an. Sutradara begitu berhasrat memunculkan kenangan nostalgianya hingga terlalu dibuat-buat.

Terlalu dibuat-buat karena acara nyanyi dan joget-joget itu tidak ada hubungannya sama sekali dengan tokoh utama. Meski memulai film dengan menonjolkan figuran yang tiba-tiba menyanyi dan ujung-ujungnya tidak berkaitan sama sekali dengan keseluruhan plot adalah hal biasa digunakan Hollywood, bagi gue ini sudah terlalu personal. Dan efeknya jelas, Damien Chazelle terlalu melankoli untuk memulai sebuah film yang ia inginkan sejak lama untuk bernostalgia.

Estetis
La La Land mungkin menjadi satu dari film terbaik di tahun 2016 bagi pengamat film. Bagi gue pribadi, film cinta-cintaan Seb-Mia ini jauh gue nikmati sebagai keindahan dalam mempertontonkan film dengan sisi sinematografi yang menawan. Teknik yang bagus selalu hadir dengan garapan yang simpel-sederhana. Begitu sederhananya seperti kisah ini mengalir begitu saja tanpa perlu diperbantukan dengan arahan skrip—abaikan scene lagu Another Day of Sun. Cukup Ryan Gosling dan Emma Stone bercakap-cakap di depan kamera yang sungguh lihai mengambil sudut gambar (tentu dengan instruksi si Bos Jazz). Sempurna film ini.

Selain para pemain yang begitu ciamik menjadi sosok pecinta, serta sutradara tipikal film Oscars, serta sinematografi yang juara, gue pun mengapresiasi pemusik yang mengiringi adegan demi adegan sepanjang film.

Gila!

Rating:10/10

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s