Bajak Laut & Purnama Terakhir review

images

Bajak Laut & Purnama Terakhir adalah novel teranyar dari pengarang komedi Adhitya Mulya. Dengan berlatarkan sejarah, novel ini bertutur soal masa kejayaan VOC di Nusantara pada masa silam. Banyak fakta menarik dan baru yang dapat kita pelajari hingga membuat kepala mengangguk-angguk seakan baru tahu dari novel itu. Dengan berbekal nama beken Adhitya Mulya sebagai pengarang favorit, akhirnya gue membeli buku ini dan segera membacanya.

Bagi gue, buku yang bagus itu harus enak dibaca. Buku apapun, mau buku nonfiksi, pengembangan diri, manajemen, tutorial, novel, bahkan buku pelajaran sekalipun. Khususnya novel. Novel yang bagus itu tanpa menyebut tokohnya jahat, pembaca tahu tanpa perlu dibilang tokohnya jahat. Tanpa butuh narasi berbelit dan menyertakan istilah rumit nan asing, pembaca tertarik dan penasaran untuk terus membalik halaman.

Sebuah kisah mustinya dituturkan dengan bahasa yang mudah dipahami pembaca. Bukan sebagai ajang pamer pengarang menunjukkan kebolehannya atawa pengetahuan tingginya tentang apapun yang ia ketahui lalu dibalut narasi di karyanya. Lebih buruk lagi jika penulis tersebut ternyata masih kurang referensi dan rujukan dalam detail si figuran yang sebetulnya ga penting-penting amat namun memegang peran penting atas pembangunan dari penokohan si tokoh utama. Nih, mana boleh kita bercerita seperti ini,

“Kecakapan, naluri dan pengetahuan dia akan bisnis dan militer, membuat dirinya cukup unik dan menjadi rising star dalam perusahaan. Pada suatu waktu, dia menjabat sebagai gubernur untuk loji V.O.C. di Koomandel.”

Gue tekankan: pada suatu waktu.

Novel sejarah menurut gue sulit sekali untuk dikisahkan. Jika membuat novel romantis macam Harlequin atawa penulisan popular yang latarnya adalah sekolah SMA boleh kita gunakan, “Pada suatu hari, kisah cinta Banu ditolak Ratih. Sejak saat itu ia terus berjuang walaupun berkali-kali ditolak hingga akhirnya malam ini gadis molek itu luluh juga.”

Kapan tepatnya Banu ditolak pertama kali oleh Ratih tak perlu jadi masalah. Nggak terlalu penting. Yang terpenting, Banu tak pantang menyerah hingga akhirnya ia berhasil menarik hati gadis pujaannya. Lain soalnya dengan novel sejarah. Butuh kesan yang mendetail mengenai kelakuan si tokoh. Setiap tindak-tanduk tokoh haruslah sespesifik mungkin karena pada momen itulah pembaca dapat melihat penokohan dengan jelas. Maka, tak perlu lagi dijelaskan dalam narasi bahwa si tokoh kejam, ambisius, atau apalah untuk tahu bahwa ia punya penokohan seperti itu. Yang harus dijelaskan adalah bagaimana kompetensi orang itu sehingga bisa menjabat sebagai gubernur? Apakah keputusan ini murni dari atasannya ataukah ada faktor lain? Momentum apa yang akhirnya membuat dirinya terpilih sehingga pada akhirnya kita tertarik padanya?

Penulisan yang seperti itu rupanya bukan hanya sekali. Pengarang membuat novelnya seperti kisah karangan esai ujian Bahasa Indonesia di SMP kelas 1,

“V.O.C. mengetahui bahwa Speelman, entah bagaimana caranya, berhasil mendapatkan bongkahan berlian yang sangat besar.”

Buat apa bikin narasi tapi pembaca dibuat garuk-garuk kepala dengan frase entah bagaimana caranya

Udah, sampai situ aja soal intrinsiknya.

Gue sepanjang ada VOC, selalu gatal kepingin banget membuka buku Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (bisa kita sebut juga dengan buku EYD). Kenapa ngotot harus pakai V.O.C. sih? Memangnya VOC sebegitu ga kerennya untuk ditulis? Atau kemungkinan sudah tahu yang lebih tepat itu tanpa tanda titik di setiap hurufnya, namun demi alasan gaya khas atawa mungkin selingkung gitu maka tetap menggunakan V.O.C.. Phew. . .

Ada pula soal tanda baca lain. Soal koma.

“Meneer, benar, yang bernama, Meneer Speelman?”

Bagaimana cara membacanya, coba? Kayak puisi jadinya. . .

“Meneer,

Benar,

Yang bernama,

Meneer Speelman?”

Keren!

Kalau gue kulik lagi, akan banyak hal lain yang unik-unik dari novel ini yang memunculkan kelucuan. Ajaib!

Kali ini Adhitya Mulya menyuguhkan novel dengan tema yang jauh berbeda dengan novel-novel karangannya yang sebelumnya. Katanya…

Novel ini berlatar sejarah dan tetap mengusung komedi sebagai ruhnya. Novel ini patut diapresiasi karena jarang-jarang ada novel yang menggabungkan sejarah dengan komedi di wadah yang satu. Jadi, wajar saja kalau yang kita rasakan di dalam wadah itu adalah air yang diharap dapat menyatu dengan minyak.

Kita tidak sepatutnya membandingkan karya seseorang dengan karya dirinya di masa lalu, kecuali dalam perbandingan itu terdapat kata-kata, “…jauh lebih menarik daripada karya sebelumnya.”

Soal komedi jangan ditanya, lah. Udah saatnya pengarang notice (asek ngenggres abes!) bahwa ini bukan Jomblo. Lumayan sedih gue bacanya kalo narasinya udah mulai ngelawak. Khawatir aja, takut ga lucu.

Masih jauh soal berbenah. Ada unsur-unsur yang tadinya tak dilihat, akhirnya diperhatikan juga. Itulah. Barangkali ada hal-hal yang kita tonjolkan tapi pada akhirnya tidak terlalu dianggap oleh orang lain. Pada akhirnya, setiap orang tidak akan selalu setuju atas tindakan satu orang. Baiknya kita terus belajar untuk lebih baik dari pencapaian sebelumnya.

Akhir kata:

Jomblo adalah original. Mencengangkan.

Gege Mengejar Cinta adalah masterpis. Tiada bandingan.

Trevelers Tale: Barcelona Belok Kanan! adalah pionir. Sebuah kenangan indah.

Mencoba Sukses jangan ditanyakan. . . skip.

Catatan Mahasiswa Gila adalah representasi. Nyata.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s