Seoret Hipotesis dalam Pilkada DKI 2017

ask-worlds-oldest-democracy-iStock_000017694624Large-E

Sebelum besok mencoblos, ada baiknya gue menyuarakan pemikiran dan pergulatan hepotesis yang gue piara selama ini. Penasaran batin atas konstelasi pemilihan kepala daerah gue ini membunuh secara perlahan. Seperti serotonin yang dicegah untuk dikeluarkan, membuncah ingin segera memuncrat ke segala arah. Ditahan bukan hanya ketika baru-baru ini, bukan dimulai dari beberapa bulan ajang kampanye pilkada DKI, melainkan sudah dari lima tahun lalu ketika Fauzi Bowo – entah wakilnya siapa (bisa dicari di google) akhirnya kalah oleh Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama. Berikut adalah hasil ekstraksi dari olah-pikir yang gue miliki. Mari simak.

Ketika itu banyak sekali orang-orang yang tidak percaya bahkan kaget, syok, serta panik bahwa pasangan calon nomor 3 itu memenangkan pilkada DKI (yang percaya dan tidak kaget pasti lebih banyak karena hasilnya membuktikan itu, yegak?). Kebanyakan adalah mereka yang mengimani Al Maidah ayat 51—yang kini sedang ngehits dalam tema kampanye. Gue salah satu orang yang ga kaget.

Mereka yang kaget dan panik pastinya nggak terima dipimpin oleh orang yang memiliki kepercayaan yang berbeda dengannya. Pastinya kalang kabut. Hakul yakin! Satu sisi, mereka kepingin dipimpin oleh sosok yang seagama (nggak cuma gubernur, tapi juga wakilnya), di sisi lain mereka nggak punya kuasa yang cukup untuk melakukan hal-hal yang bisa menuntaskan hasrat tersebut. Mau makar? Kan ga mungkin.

Gue enggak kaget. Walaupun di atas kertas hasil pemilu 2009 di provinsi DKI menyatakan koalisi nomor 3 kalah suara dibandingkan nomor 1, tak membuat gue kaget dengan hasilnya. Banyak hal yang menjadikan hasil pilkada DKI 2012 itu sesuai dugaan gue. Cara-cara kampanye yang dilakukan selama pilkada adalah penyebabnya.

Kampanye adalah Marketing
Kampanye tiada lain adalah memasarkan orang. Satu adalah soal konten/isi. Dua adalah cara. Tiga adalah momentum. Konten penting. Kelebihan calon harus mengalahkan isu negatif tentang dirinya, program-program top harus diiklankan. Tapi cara-cara yang dilakukan dalam pilkada 2012 memberikan pelajaran yang seharusnya ditangkap oleh semua pasangan calon. Bahwa sekonyong-konyong mengatakan pilihan kita lebih baik daripada orang lain adalah cara marketing yang jauh dari kata baik.

Apa yang dicapai Jokowi – Basuki Tjahaja Purnama adalah buah dari marketing. Kalau pendukung pasangan calon lain tidak memahami itu, saat itulah mereka belum tahu bagaimana praktik marketing bekerja. Salah satu tema yang paling menonjol dalam kampanye adalah preferensi memilih pemimpin sesuai ajaran agama.

Dalam pilkada yang lalu, cara ini menurut gue termasuk blunder luar biasa. Dalam memilih, kita berhak memilih pemimpin sesuai ajaran agama masing-masing. Itu satu. Dua, kita berhak menyampaikan ke orang lain yang seagama untuk mengingatkan ajaran tersebut. Sampai di situ nggak ada masalah. Setiap orang mustinya terbuka dengan pendapat orang lain. Lalu menurut gue lagi, nih, jika mau orang lain ikut memilih apa yang kita sarankan, tidak perlu dengan memaksakan pendapat kita ke orang lain tersebut, sekalipun itu benar. Pada dasarnya, orang yang kita ajak bicara mungkin memiliki pendapat yang sama dengan kita. Dengan cara yang seperti itu justru membuat mereka tidak simpati. Pendekatan-pendekatan yang “pasti benar” tersebut akan sulit diterima walaupun sudah dipercayainya.

Setiap orang memiliki kehidupan yang berbeda satu sama lain. Pengalaman hidup yang nir identik dan kilatnya informasi yang masuk begitu beragam dari masing-masing individu membuat kita tidak dapat menyeragamkan cara berkampanye. Ketika ada yang membawa ajakan memilih sesuai agama yang sama, bisa jadi ketidakselarasan fakta mengguncang keyakinan orang-orang yang mendengarnya. Satu sisi ada Al Maidah 51, di sisi lain, “Kok orang yang agamanya sama malah melakukan tindak kejahatan?”

Ketika pengampanye justru memberikan umpan balik yang frontal tanpa diskursus yang ramai konsep, melainkan “pendapat sayalah paling benar,” di situlah gang buntu yang menjauhkannya dari praktik kampanye.

Hipotesis Pilkada 2017
Gue menganggap orang-orang tersebut telah memahami dan belajar dari peristiwa itu dan akan melakukan perbaikan pada pilkada ini. Kekalahan itu sudah dilupakan. Semua preseden buruk telah dievaluasi. Segala kesalahan-kesalahan segera diperbaiki. Hasil pencalonan dari ketiga pasangan inilah wujudnya.

Berkali-kali gue punya bacot, “Udah deh jangan pada kampanye pakai sentimen agama, pasti hasilnya nggak sesuai yang diharapkan!”

“Kenapa sih nggak rembukan, buang ego, satukan visi-misi tanpa ingin memaksakan ambisi, ajukan 1 pilihan saja!?”

Agama sangat sensitif, pun suku, ras, serta antargolongan. Sudah bukan strategi yang bagus jika masih mengandalkan amunisi seperti itu. Gue lagi-lagi menganggap, pilkada kali ini mereka sudah belajar.

Secara teori, jika orang-orang tersebut betul belajar dari pengalaman (pahit), sekarang sudah memperbaikinya. Jika sudah, kenapa nomor 1 dan 3 seperti menggerogoti diri mereka sendiri untuk dikalahkan alih-alih menyatukan suara? Melihat calon nomor 2 dikerubuti seperti itu, rasanya kok seperti belum belajar?

Lalu gue berpikir, lagi, dan terus-menerus, melihat kembali kemungkinan-kemungkinan di masa depan, menganalisis keputusan yang sudah diambil sehingga menawarkan dua pilihan selain calon yang mereka tidak sukai. Apakah benar akan tercerai-berai lagi?

Bisa iya. Bisa tidak. Inilah hal ketiga yang mempengaruhi (ini gaya selingkung gue untuk memengaruhi, ga suka gapapa) dalam marketing: momentum.

Kebaikan pasangan calon memang harus ditunjukkan, tetapi ada pula yang sebaiknya tidak disinggung-singgung. Biarkan kebaikan itu muncul dengan sendirinya, seperti penokohan yang muncul dalam karya prosa yang bagus—tidak pernah dinarasikan, melainkan terlihat melalui tindak-tanduknya. Pun ada pula kebaikan yang harus muncul ketika saatnya tiba. Itulah yang dapat mempengaruhi kecenderungan pemilih dalam memutuskan siapa yang ingin mereka dukung. Pembawaan/karakter adalah salah satu contoh dari marketing. Maka, penokohan adalah momentum itu sendiri yang niscaya sangat berperan dalam keterpilihan.

Tidak ada yang pasti dengan hasil pilkada DKI. Melihat begitu banyak arus informasi yang lalu-lalang, sulit meniscayakan fakta yang dibaca, dilihat, dirasa masing-masing orang. Momentum ini bakal menjadi kunci atas kecenderungan pemilih. Orang-orang yang gue anggap sudah belajar itu, akhirnya mengimplementasikannya dalam dua pasangan calon.

Kalah Untuk Menang
Orang-orang ini mulai berpikir atas dua keniscayaan ini: nggak bisa menafikan sentimen agama dan nggak bisa menang langsung melawan nomor 2. Dua pondasi ini yang akhirnya mengurungkan niat mereka untuk mengajukan hanya satu calon. Secara teori lagi-lagi calon ini akan menang. Tetapi karena sentimen agama juga tak dapat dihilangkan dan akhirnya menggerogoti suara yang mendukung (anti-simpati), ujung-ujungnya kekalahan akan mereka dapatkan. Mereka akhirnya mencari cara alternatif, menimang pelbagai pilihan, dan akhirnya memutuskan: mencalonkan dua pasangan.

Mengusung dua calon alih-alih satu calon adalah kesengajaan. Konfrontasi pertama, secara pesimis, gue anggap mereka kalah suara. Pendukung nomor 2 kemungkinan masih banyak yang tidak terpengaruh atas sentimen agama yang makin besar animonya (semoga reda setelah pilkada). Ide-ide penantang masih kurang untuk mendominasi dan mengalahkan wacana yang ditawarkan kembali oleh nomor 2. Catet: masih kurang dominan, masih debatable.

Orang-orang ini pada akhirnya mengandalkan putaran kedua yang dianggap dapat memukul balik kekalahan yang terjadi di putaran awal. Momentum yang dijaga baik-baik dari jauh hari diharapkan membuahkan hasil yang berbeda dari usaha di pilkada sebelumnya. Menarik untuk melihat sepak terjang dari ketiga kontestan di pilkada DKI. Hasilnya, apapun, harus kita hormati sebagai pesta dari, oleh, dan untuk kita semua warga DKI.

Akankah?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s