Menjaga Serpihan Demokrasi

ask-worlds-oldest-democracy-iStock_000017694624Large-E

Karut-marut dan carut-marut yang terjadi saat ini nggak bakal lepas dari basian pilkada yang terlewatkan. Itu keniscayaan. Bahkan akhirnya mbleber ke mana-mana. Kita bisa setuju bisa engga … tapi admit it: salah satu yang mendorong sentimen ini makin kencang adala ketidaksukaan antarkubu. Tidak semuanya, tapi ada yang menyuburkan resistensi yang sangat tajam antargolongan. Pada ujungnya, kita tidak akan bisa menyelesaikan semua masalah pada sisi ini dan tidak bakal mengubah total situasi panas yang ada tapi ada keyakinan untuk menurunkan tensinya.

Adalah kita sama-sama menginginkan Jakarta yang baik, bukan? Antarkubu sama2 yakin dengan jagoannya, hanya dengan marketing yang berbeda. Kubu yang tidak berkubu pun sebenarnya juga inginkan Jakarta yang baik, makanya mereka nggak milih keduanya hahaha. Harus disadari bahwa semua kubu berpolitik, berdemokrasi, dan sama2 menyampaikan aspirasinya. Tidak ada yang suci dan sok suci, kita manusia bukan Tuhan semata. Ada yang salah? Langgar aturan? Laporkan! Itulah demokrasi.

Ketika akhirnya keluar pemenang di antara kedua kubu, justru demokrasi belum selesai sama sekali. Saling terima, saling kritik, saling merasa memiliki harus digalakkan. Harusnya seperti itu, alih-alih ucapkan kata maikian yang bertambah parah. Merendahkan diri sampai level terbawah seperti itu justru memalukan definisi demokrasi.

Yang harusnya diperjuangkan bukan lagi identitas, bukan sosok, palagi status; bukan cerita fiksi milenial, apalagi hantu. Pasti masing-masing akan selalu mempertahankan kubunya, tidak ada yang akan menyerah. Keduanya akan selalu tidak sepaham, mengisahkan kebenaran versinya. Tapi kalo masi waras, pasti semua pihak punya kesamaan: Jakarta yang baik dan hebat.

Sebelum kejadian ini, Jakarta sudah ada perubahan dari lima tahun sebelumnya. Sebelum ini, Jakarta sudah ada hal baik yang dilakukan dalam lima tahun yang sudah berjalan ini. Titik itulah yang harus kita pijak sekarang untuk memulai kembali. Titik itulah awal untuk terus melangkah ke depan agar lebih baik dan hebat; sesuatu yang tidak keluar jalur demokrasi yang harus kita jaga keadaannya. Justru kita harus jaga hal positif yang sudah ada dari gubernur sebelumnya.

Justru yang kita jaga adalah memastikan birokrasi yang memudahkan warga ketika gubernur terpilih menjabat.

Justru yang kita jaga adalah memastikan sulitnya berlaku koruptif di pemda ketika gubernur terpilih menjabat.

Justru yang kita jaga adalah memastikan sulitnya cari celah “sumbangan-sumbangan orang tua murid” di sekolah ketika gubernur terpilih menjabat.

Justru yang kita jaga adalah memastikan tetap adanya lahan kerja bagi banya warga dengan keberadaan Tim Oren, Biru, dll. ketika gubernur terpilih menjabat.

Justru yang kita jaga adalah memastikan keterbukaan informasi pemda ketika gubernur terpilih menjabat.

Justru yang kita jaga adalah memastikan keterbukaan pelelangan proyek pemda secara online ketika gubernur terpilih menjabat.

Justru yang kita jaga adalah memastikan sulitnya PNS madol atas sanksi yang diberlakukan ketika gubernur terpilih menjabat.

Justru yang kita jaga adalah setuju untuk tidak setuju dengan pendapat yang berbeda ketika gubernur terpilih menjabat.

Justru yang kita jaga adalah demokrasi yang kita perjuangkan ketika gubernur terpilih menjabat.

Justru yang kita jaga adalah #Indonesia ketika gubernur terpilih menjabat.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s