Bacaan Takbir Idul Fitri & Idul Adha

Dikutip dari batumedia.com, berikut Lafadz Arab Takbiran

اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ، لا إِلهَ إِلاَّ اللهُ واللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ وَِللهِ الحَمْدُ

“Allaahu akbar Allaahu akbar Allaahu akbar, laa illaa haillallahuwaallaahuakbar Allaahu akbar walillaahil hamd”

Artinya dalam bahasa Indonesia:

“Allah maha besar Allah maha besar Allah maha besar, Tiada Tuhan selain Allah, Allah maha besar Allah maha besar dan segala puji bagi Allah”

Bacaan Lengkap

اَللَّهُ اَكْبَرْ اَللَّهُ اَكْبَر اَللَّهُ اَكْبَرْ ـ لآاِلَهَ اِلاَّ اللَّهُ ـ اَللَّهُ اَكْبَرْ اَللَّهُ اَكْبَرْ وَلِلَهِ الْحَمْدُ
اَللَّهُ اَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَاَصِيْلاً ـ لآ اِلَهَ اِلاَّ اللَّهُ وَلاَنَعْبُدُ اَلاَّ اِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْكَرِهَ الْكَافِرُوْنَ لآاِلَهَ اِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْـدَهُ وَنَصَرَعَبِدَهُ وَاَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ لآ اِلَهَ اِلاَّ اللَّهُ . اَللَّهُ اَكْبَرْ اَللَّهُ اَكْبَرْ وَلِلَهِ الْحَمْدُ

Tulisan takbiran berbahasa latin:

Allahu akbar.. Allahu akbar.. Allahu akbar..
Laa – ilaaha – illallaahu wallaahu akbar.
Allaahu akbar walillaahil – hamd.

Allahu akbar.. Allahu akbar.. Allahu akbar…..
Allaahu akbar kabiiraa walhamdulillaahi katsiiraa,…
wasubhaanallaahi bukrataw – wa ashillaa.

Laa – ilaaha illallallahu walaa na’budu illaa iyyaahu
Mukhlishiina lahuddiin
Walau karihal – kaafiruun
Walau karihal munafiqun
Walau karihal musyriku

Laa – ilaaha – illallaahu wahdah, shadaqa wa’dah, wanashara ‘abdah, – wa – a’azza – jundah, wahazamal – ahzaaba wahdah.

Laa – ilaaha illallaahu wallaahu akbar.
Allaahu akbar walillaahil – hamd.

Artinya bacaan takbiran:

Allah Mahabesar, Allah Mahabesar, Allah Mahabesar.
Tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Allah dan Allah Mahabesar.
Allah Mahabesar dan segala puji hanya bagi Allah

Allah Mahabesar, Allah Mahabesar, Allah Mahabesar
Allah maha besar dengan segala kebesaran,
Segala puji bagi Allah sebanyak-banyaknya,
Dan maha suci Allah sepanjang pagi dan sore.
Tiada Tuhan selain Allah dan kami tidak menyembah selain kepada-Nya dengan memurnikan agama Islam meskipun orang kafir, munafiq, dan musyrik membencinya.

Tiada Tuhan selain Allah dengan ke Esaan-Nya. Dia menepati janji, menolong hamba dan memuliakan bala tentara-Nya serta melarikan musuh dengan ke Esaan-Nya.
Tiada Tuhan selain Allah, Allah maha besar. Allah maha besar dan segala puji bagi Allah.

Advertisements

When We First Met – Review Film

MV5BMzM1OTI4NDM4Nl5BMl5BanBnXkFtZTgwMDAwODg2NDM@._V1_SY1000_CR0,0,674,1000_AL_

Relationship are about intangible things.

Mencari sepatu Adidas yang diinginkan sangatlah sulit. Apalagi jika yang diidamkan adalah model premium, sudah pasti banyak peminatnya. Pada akhirnya sepatu yang didapat akan berbeda sama sekali jika memang bukan ditakdirkannya. Begitu juga soal jodoh, film When We First Met mengisahkan tentang takdir akan jodoh yang kita dapatkan.

Fate is a tricky Lady.

Barangkali jodoh adalah hal unik yang tidak dapat dijelaskan dengan mudah lewat teori apapun di dunia. Setiap individu yang memiliki perasaan mempunyai karakteristiknya sendiri dalam mencinta dan dicintai. Layaknya track komuter, lo nggak mungkin tiba di Stasiun Citayam jika kereta yang lo naiki bertujuan ke Tangerang. Pun layaknya algoritma, ada satu saja variabel yang hilang maka hasil yang anda dapatkan akan berbeda sama sekali. Pasti berbeda.

When you try to figure out, you just get more confused.

Noah (Adam Devine) berada di masa di mana ia melihat orang yang ia sayang menjadi milik orang lain. Saat itu adalah hari pertunangan Avery (Alexandra Daddario) dengan Ethan (Robbie Ames) sedangkan ia hanya menjadi sahabat terbaik mereka berdua yang terlihat bahagia berada di sana. Yes, sebenarnya hatinya sangat pedih!

Noah merasa cinta mati dengan Avery. Ia yakin takdir cintanya kandas karena keberadaan cowok bernama yang bertemu Avery sehari setelahnya. Kalau gak ada Ethan maka Avery bakal menjadi kekasihnya kelak dan otomatis kandasnya percintaan dia tak akan sengenes ini.

This is the key part.

Noah berdoa agar bisa kembali ke masa lalu. Ia ingin balik ke hari di mana ia dan Avery bertemu pada malam Halloween agar dapat menulis kembali kisah hidupnya dengan harapan Avery akan menjadi takdirnya. Photobox unik mengembalikan dirinya ke masa dirinya pertama kali bertemu Avery.

If I were go back and relives it different, I wouldn’t be me.

Film ini menunjukkan berbagai “jalur algoritma” sebuah kehidupan. Katakanlah Avery adalah (Y) & kisahnya kisah hidupnya saat itu dalah (A). Noah mendapati dirinya gagal, hanya dapat melihat (Y) tunangan dengan Ethan (X). Bagaimana jika ia mengganti kisah hidupnya dengan berbagai PDKT yang menarik, disebut variabel (B)? Apakah bisa mendapatkan hati (Y)? Jika gagal, bagaimana jika melakukan (C)? Atau (D) / (E) / (F) dan seterusnya dan seterusnya? Apakah takdir akhirnya berubah?

All of mistaken that I did have made me who I am today.

wwfm

Things happen randomly for no reason at all. But, them are create opportunity make it out.

Film ini memberikan pencerahan tentang jodoh. Sekaligus menegaskan keyakinan bahwa jodoh merupakan sesuatu yang rahasia layaknya amplop pemenang Oscars. Nggak perlu tahu isinya apa jika memang belum saatnya. Pada waktu terbaik, jodoh itu akan muncul untuk menyadarkan kita bahwa jodoh tidak bisa hanya diusahakan, melainkan juga diyakini: jodoh bukan di tangan kita.

Old Friends

How terribly strange to be 70 (“Old Friends”, Simon & Garfunkel)

Perempuan, laki-laki, perempuan, laki-laki, perempuan, laki-laki, perempuan,
laki-laki, perempuan, laki-laki sejak pagi duduk berhimpitan
di bangku panjang ruang tunggu rumah sakit umum yang menerima akses.
Mereka sudah saling kenal.
Dokter biasanya baru datang
pukul sembilan, mereka tahu.
Seseorang bangkit menuju sudut ruangan;
mungkin membaca poster tata cara rumah sakit
yang pasti sudah ia hafal.
Seorang lagi tampak susah payah mengunyah berita di koran
tentang masalah pembuangan sampah.
Suara perawat mulai memanggil pasien
satu demi satu:
akhirnya!
“Bapak Simon,” terdengar jelas penyebutan nama itu
:
Alhamdulillah, tiba sudah giliranku.

SDD, sutradara itu menghapus dialog kita

Mencoba Kereta Bandara Soekarno-Hatta

Berpergian ke luar kota, terutama yang membutuhkan waktu tempuh yang singkat, lebih baik menggunakan moda pesawat terbang. Bandara Soekarno-Hatta masih menjadi tempat terfavorit orang-orang. Pilihan kota yang dituju & maskapai penerbangan lebih beragam ketimbang Halim Perdanakusuma. Apalagi, kini Soetta sudah memiliki kereta bandara yang membuat perjalanan menjadi lebih asyik. Gue baru kemarin mencobanya.

Balik dari Medan, gue berkesempatan mencoba moda transportasi anyar Railink ini. Dengan berbekal tanya ke petugas bandara, gue diarahkan ke shelter Skytrain yang terhubung langsung ke stasiun bandara Soekarno-Hatta. Terminal 1C tidak jauh dari shelter tersebut sehingga gue berjalan kaki dengan santai sekitar 5 menit lamanya.

Skytrain

Selain memiliki akses kereta api, bandara Soetta menyediakan kereta layang Skytrain yang menghubungkan Terminal 1, Terminal 2, Terminal 3, dan stasiun kereta. Beruntung, sesaat gue sampai di peron, Skytrain sudah tersedia di sepur dan langsung jalan.

Interior Skytrain cukup mungil tetapi cukup luas untuk menampung banyak penumpang. Skytrain dioperasikan secara linear. Pemberhentian pertama dari Terminal 1 adalah stasiun kereta. Gue pun turun.

Stasiun Kereta Bandara Soekarno-Hatta

Stasiun kereta bandara Soetta merupakan stasiun bandara kedua di Indonesia setelah Kualanamu. Interiornya cenderung menampilkan tema modern tanpa aksen khusus yang ikonik. Megah aja gitu.

Elemen keterkejutan yang gue alami dari stasiun ini adalah pemesanan tiket kereta bandara. Ada kesan ingin terlihat canggih tetapi yang ada hanya pamer kerobotan alias swalayan a.k.a swabayar. Lo akan melihat vending machine seperti commuter line tetapi dengan pembayaran menggunakan kartu debit. Layarnya begitu futuristik sehingga gue pun merasa tersulitkan, alih-alih menjadi mudah.

Kereta Bandara

Berbeda dengan kereta bandara Kualanamu, kereta ini menggunakan tenaga listrik untuk menggerakkan lajunya. Walaupun sama-sama Railink, rupanya kereta ini tidak sama dengan kereta Kualanamu yang menggunakan tenaga diesel. Secara pergerakan, keduanya sama-sama halus jalannya. Ntapp!

Membandingkan kereta Soetta dengan Kualanamu sebenarnya sangan tidak fair. Kereta Soetta jelas lebih baik dengan fasilitas usb-nya. Ini amat membantu bagi para pelancong yang tidak sempat mengisi daya ponsel, ataupun bagi ponsel mereka yang boros daya pemakaiannya.

Susunan kursi kereta ini terlalu mepet dengan kursi di depannya sehingga kurang nyaman. Kereta kualanamu lebih renggang sehingga kaki dapat relaks tanpa khawatir kepentok kursi di depan.

Stasiun BNI City

Stasiun pemberhentian yang berada di bilangan Sudirman ini rupanya tidak didukung dengan fasilitas pejalan kaki yang layak. Cenderung hanya memikirkan penumpang berkendara pribadi. Kecewa. Terlepas dari itu, interiornya didesain dengan konsep yang sama wae dengan Soetta.

Semoga segala fasilitas & infrastruktur ini berguna dengan baik dan dirawat pula deperti milik sendiri.

Song of the Year (2017)

Musik adalah bagian dari diri gue. Hari-hari tanpa spotify adalah laksana indomie rebus tanpa kuah, layaknya martabak manis tanpa minyak samin. Earphone adalah senjata gue untuk tetap bisa menikmati musik yang gue suka.

Gue menyukai musik yang gandrung & enak didengar. Seperti kebanyakan penikmat kopi, gue menyukai sajian arus-utama: latte dan cappuccino. Musik pop adalah andalan gue untuk tetap waras secara rutin.

Maka nggak heran jika musik yang yang gue dengarkan ga jauh dari musisi ini:

Coldplay
Ed Sheeran
The Chainsmokers
Charlie Puth
Kygo

dan lagu yang gue putarkan berulang adalah judul yang amat familier ini:

Fix You
Photograph
We Don’t Talk Anymore
Love Yourself
It Ain’t Me

Sudah patut diduga, Fix You masih menjadi lagu andalan gue nyaris tiap hari. Magisnya selalu menyoraki gue di awal pagi & di penutup malam. Cinta yang dalam hadir dari relung Chris Martin kepada istrinya yang saat itu mengalami kesedihan yang sangat akibat ditinggalkan sang ayah. Hari-hari gue terinspirasi dari lagu yang membuahkan katarsis itu.

Puluhan ribu menit lagu gue dengarkan selama setahun ke belakang, tepatnya 42.117 menit gue dengarkan spotify. Artinya gue menikmati 115menit lagu tiap harinya dalam kurun 2017. Tahun depan sudah sebentar lagi, sesuatu yang baru akan segera menanti. Semoga banyak pemusik yang mengilhami gue lewat lagu-lagu keren & imajinatifnya.

#spotify #spotifywrapped #2017 #coldplay #edsheeran #thechainsmokers #charlieputh #kygo

Kebersihan Toilet: Sepele nan Prinsipiel

Kebersihan adalah hal sederhana yang prinsipiel. Sepele sih, tapi sesuatu yang pokok. Itulah kenapa bab tentang kebersihan berada paling depan dalam kitab fiqih yang kita pelajari.

Bagi gue, kebersihan adalah soal kenyamanan, alih-alih bicara tentang higienis digembar-gemborkan iklan. Ketika nyaman berada di suatu tempat, gue merasa kebersihan menetap di situ. Maka, penting banget untuk memastikan area yang gue sambangi merasakan rasa nyaman.

Musuh Kebersihan: Fasilitas Umum

Kalau ada villain dalam dunia kebersihan, fasilitas umum (fasum) adalah musuh terakhir dan terkejam. Terutama toilet umum. Hal terbaik yang bisa diharapkan dari toilet umum adalah tidak ada. Sekotor-kotornya rumah gue masih lebih nyaman ketimbang bersihnya sebuah toilet umum. Oleh karena itu, penggunaannya sangat gue minimalisasi untuk mencegah hal-hal yang nggak diinginkan.

Gue paling pemilih dalam hal toilet umum. Jarang banget gue ke toilet untuk BAB di tempat umum. Meskipun nggak semua fasilitas umum buruk, gue tetap menolak untuk merasa biasa-biasa saja ketika gue harus memakainya. Ketika gue menggunakannya, momen itulah hal terpenting & terabsurd yang bisa gue kerjakan.

Sendiri Menciptakan Kebersihan

Fasum yang paling krusial dan paling tidak bisa gue hindarkan adalah toilet umum. Gue menyerah untuk menahan-nahan jika menyangkut BAB. Sejember apapun tempatnya, gue bakal melakukannya. Sejorok apapun toiletnya, gue bakal tetal melakukan ritual harian itu. Saatnya menumbuhkan kebersihan dari diri sendiri.

Toilet kantor adalah contoh konkret bagaimana gue memaksakan kehendak dalam ber-BAB. Gue merasa beruntung memiliki kantor yang kebersihan toiletnya dijaga dengan baik. Sebisa mungkin petugas kebersihan melaksanakan tugasnya sesaat bilik toilet digunakan. Makanya hampir tiap gue pakai, toilet bersih dan kering. Hanya sesekali toilet terasa kotor dan basah. Kalau sudah begitu, gue harus tangani sendiri membersihkannya.

Bagi gue, membersihkan toilet untuk selanjutnya gue gunakan sendiri adalah hal krusial. Gue bakal total mengelap bagian-bagian toilet yang bersentuhan dengan kulit dan pakaian; dengan jet spray dan tisu gulung. Nggak hanya itu, toilet yang basah cenderung kotor karena terinjak alas kaki. Makanya, gue juga selalu bersihkan lantai toilet secara menyeluruh agar bersih dan kering (suatu hal yang menurut gue jarang orang lakukan di toilet umum).

Kebersihan kita bisa lihat sebagai hal yang sederhana namun mendasar. Bagian penting dari kesehatan tetapi sering diabaikan. Begitu pula kebersihan di dalam toilet. Makanya, gue sangat sadar, kebersihan diri nggak bisa hanya dengan mengandalkan orang, melainkan diri sendiri.