「Resensi Buku」 Negeri 5 Menara

Negeri 5 Menara

Rank: *** [3 out of 5 stars]
Category: Book
Genre: Fiction

I just have read ‘Negeri 5 Menara’ book. So excellently. Haha : D keren deh, pokoknya! Menurut gua, buku ini ditujukan khusus untuk para remaja [meski tidak ada larangan bagi orang dewasa untuk membacanya] yang akan & sedang merajut mimpi-mimpinya. Untuk mereka yang tumbuh dalam lingkungan pendidikan formil.

Secara keseluruhan, buku yang ditulis oleh A. Fuadi ini bagus banget untuk memotivasi diri seseorang. Apalagi ia menggunakan sudut pandang agamis, yang jarang sekali dipakai oleh kebanyakan penulis. Secara langsung kegiatan tumbuh kembang masa remaja ini diliput dari pondok pesantren! Ya, itu sebuah nilai lebih dari buku ini.

Diksinya kaya dan hiperbolis. Tidak stuck dengan kata-kata biasa.

Namun, gua akan memberikan sedikit kritik atau bisa juga suatu komentar agar nantinya bisa lebih bagus lagi. dalam cara dia menyampaikan suatu permasalahan, I think, gak terlalu memikat pembaca [khususnya gua]. Kalimatnya terlampau teoritis, berlebihan dalam menyampaikan petuahnya. Gaya penulisan buku ini mirip dengan ‘9 MATAHARI’ yang dikarang oleh Adenita. Sama, based from true story dirinya. gayanya sama-sama kayak wartawan. Yang satu wartawan media massa [Tempo], yang satu lagi bekerja di televisi [SCTV]. So, gua jadi kurang fokus dalam menemukan inti yang ingin disampaikan buku ini. Antuciasm gua terhadap buku ini hanya pada pertanyaan di dalam diri, “Apa lagi yang bisa gua dapatkan di Pondok Madani ketika membaca buku ini?”. Selain dari yang itu? Hem…Nothing. Gua kok jadi merasa bersalah ketika memaksakan diri untuk menikmati buku ini.

Sekilas di beberapa bab yang gua hayati, rasa-rasanya gua kok jadi kayak sedang membaca novel imajinasi bikinannya J.K. Rowling. Terbayang-bayangnya jadi ke situ. Dari persaingan antar-asrama seperti Quidditch yang diasosiasikan dengan pertandingan akbar sepakbola antar-asrama. Lalu ada aula PM yang mirip banget dengan aula besar Hogwarts. Kemudian guru-guru yang horror seperti Ustad Torik dkk., system asrama yang gak beda dengan Prefek. Banyak lagi yang lainnya. Dan yang bikin gua makin yakin dengan pendapat gua adalah, kiai Rais sebagai pemimpin pondok pesantren ini sama bijaksananya dengan Profesor Dumbledore. It’s not good, mate.

Ya, ya. Penulis mungkin memang pure gak nyontek buku Harpot, tapi kenyataan yang gua jabarkan di atas tadi bukanlah hal yang sulit untuk dijelaskan. Jadi terkesan following, gitu loh.

Dan malah jadi lebih mirip Laskar Pelangi ketika Baso yang jenius dalam matematik & penghafal Quran itu berhenti bersekolah DENGAN ALASAN ingin menghidupi keluarganya yang masih hidup. Lintang bangeeeeets!

Nevertheless, yang patut dibanggakan dari buku anak minang ini, ia memang punya ruh dan nafas religi [akhirat] dan sekaligus nasionalism [dunia] yang kuat. Balans. Dan sama sekali tidak ada niat egois yang ingin diutarakan dari penulis. Thumb up!!!

About these ads

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s